Rupiah Melemah ke Rp17.841 per Dolar AS pada Perdagangan Selasa
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengawali perdagangan Selasa (18/8/2026) dengan pelemahan ke kisaran Rp17.830 hingga Rp17.841 per dolar AS di tengah penantian pelaku pasar terhadap keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Data Bloomberg mencatat rupiah melemah 0,23 persen atau 41 poin ke level Rp17.839 per dolar AS pada pukul 09.43 WIB. Sementara itu, data Refinitiv dan Yahoo Finance menunjukkan pergerakan rupiah berada di posisi Rp17.830 per dolar AS, serta sempat menyentuh Rp17.841 per dolar AS pada pukul 09.59 WIB menurut data ICDX.
Pelemahan mata uang Garuda terjadi saat pasar mencermati pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik.
"Perhatian utama tertuju pada arah kebijakan BI-Rate yang diperkirakan tetap di level 5,75 persen," ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa.
Tekanan terhadap rupiah juga dibayangi oleh proyeksi proyeksi jangka panjang eksternal. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS hingga akhir 2026 akibat defisit neraca perdagangan dan peningkatan kebutuhan impor energi.
“Ini masih di Rp 18 ribu, Rp17.500-Rp 18.000 sih,” ujar Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto.
Rully menambahkan bahwa defisit perdagangan selama dua bulan berturut-turut serta kenaikan harga minyak dunia dapat memperlemah keseimbangan eksternal Indonesia.
“Kalau kita lihat dua bulan berturut-turut kan mungkin kita trade defisit. Dengan minyaknya juga naik lagi kan. Ini kayaknya untuk external balance kita akan melemah,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi dampak pembatasan BBM terhadap daya beli masyarakat di dalam negeri.
“Cuma kalau dari sisi konsumsi, yang sebenarnya yang kita khawatirkan itu dari Pertalite sih. Kalau Pertalite makin dibatasin, itu mungkin impact ke daya beli masyarakat itu akan lebih rendah lagi,” ucap Rully.
Mengenai kepemimpinan di bank sentral, Rully menilai arah kebijakan BI berpeluang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita lihat mungkin saat ini kebijakannya akan cenderung lebih bias ke pro-growth, kemungkinan dari Bank Indonesianya itu akan mengakomodasi program-program pemerintah, akan mengakomodasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan lain-lain,” kata Rully.
Namun, ia mengingatkan agar BI tidak terburu-buru menggunakan instrumen suku bunga utama dalam mendorong pertumbuhan.
“Jadi mungkin BI dalam mengeluarkan kebijakannya itu akan lebih ke non-interest rate, jadi di luar interest rate karena mungkin akan berbahaya buat rupiah kalau terlalu cepat,” ujarnya.
Di sisi lain, pergerakan dolar AS di pasar global sejatinya tertekan oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang melambat. Penjualan ritel AS pada Juli 2026 turun 0,6 persen secara bulanan, sementara penyerapan tenaga kerja sektor nonpertanian berkurang 23.000 lapangan kerja. Kondisi tersebut memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan September mendatang.
Faktor domestik juga diwarnai laporan capaian ekonomi oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR. Presiden menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026 dan 5,45 persen pada semester I-2026.
"Kita harus bisa mandiri, kita tidak boleh tergantung pasokan-pasokan dari luar karena kalau situasi tiba-tiba berubah ke arah yang lebih jelek kita tetap harus survive," kata Prabowo.
Presiden turut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan realisasi investasi harus memberikan dampak nyata pada tingkat kesejahteraan masyarakat bawah.
"Pertumbuhan tinggi tidak bisa dinikmati oleh rakyat kita, kebanyakan tidak bermanfaat bagi kita. Setiap rupiah investasi harus menciptakan pekerjaan harus menghasilkan perbaikan kualitas hidup rakyat kita, terutama rakyat kita yang paling bawah. Itulah orientasi pemerintah yang saya pimpin," tegas Prabowo.
Untuk pergerakan jangka pendek, ICDX memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS dengan memperhatikan perkembangan harga minyak dunia serta sinyal kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia.
"Arah pergerakan rupiah akan turut dipengaruhi oleh perkembangan dolar AS dan hasil RDG BI, khususnya terkait sinyal kebijakan yang diberikan untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” jelas Amru.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow