Data Inflasi AS Melonjak Tekan Rupiah Dan IHSG

Smallest Font
Largest Font

Tekanan inflasi Amerika Serikat yang kembali meningkat pada Agustus 2026 mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, sehingga menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan dan nilai tukar rupiah pada Jumat (11/9).

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Produsen naik 0,4 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Angka ini mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 5,4 persen, yang didorong oleh lonjakan biaya energi serta sektor transportasi.

Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan sikap bank sentral AS dalam merespons dinamika inflasi tersebut.

"Pekerjaan yang harus dilakukan," kata Kevin Warsh, Gubernur The Fed.

Pernyataan tersebut disampaikan Kevin Warsh untuk menekankan bahwa bank sentral belum yakin tren inflasi telah membaik secara signifikan. Analisis CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September 2026 meningkat hingga 67,4 persen.

Dampak pengetatan kebijakan moneter AS turut disampaikan oleh analisis dari Capital Economics.

"Dengan data IHP secara keseluruhan yang masih relatif tinggi, The Fed tampaknya akan menaikkan suku bunga tahun ini meskipun tidak melakukannya bulan ini," kata Stephen Brown, Kepala Ekonom Amerika Utara di Capital Economics.

Prospek suku bunga tinggi memicu penguatan indeks dolar AS sebesar 0,2 persen ke level 99,1. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 12,2 basis poin menjadi 4,96 persen, sementara harga emas tertekan 1,8 persen ke posisi US$4.318 per ons.

Di pasar domestik, IHSG ditutup melemah 0,7 persen ke level 6.541 pada Jumat (11/9). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut merosot 0,4 persen ke posisi 17.600, di tengah kenaikan imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun sebesar 4,1 basis poin ke level 7,13 persen.

Lonjakan harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$110 per barel akibat potensi gangguan pasokan di Selat Bab el-Mandeb sebelum melandai ke level US$104 per barel. Penurunan produksi minyak Arab Saudi ke level 6,2 juta barel per hari pada Agustus 2026 menjadi catatan produksi terendah sejak 1990.

Merespons gejolak harga energi global, Pemerintah Indonesia menyatakan komitmen untuk menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan harga BBM bersubsidi tidak naik dan lebih memilih untuk menambah anggaran subsidi dibandingkan menaikkan harga pada Jumat (11/9).

Pelaku pasar keuangan saat ini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen AS terbaru yang akan menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan depan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed