Ukraina Gelar Serangan Drone dan Rudal Skala Besar ke Wilayah Rusia

Smallest Font
Largest Font

Pasukan militer Ukraina meluncurkan gelombang serangan ratusan drone dan rudal jarak jauh ke wilayah Moskow serta sejumlah kawasan lain di Rusia pada Sabtu, 15 Agustus 2026, yang menewaskan sedikitnya empat orang dan merusak berbagai fasilitas militer hingga industri strategis.

Otoritas Rusia melaporkan sebanyak 600 drone mengarah ke wilayah Moskow sepanjang malam hingga Minggu pagi, dengan 201 unit di antaranya berhasil dijatuhkan oleh sistem pertahanan udara. Menurut Gubernur Wilayah Moskow Andrei Vorobyov, seorang pria lansia berusia 83 tahun tewas di Podolsk akibat hantaman pada gudang pengecer daring Wildberries, sementara tiga orang lainnya mengalami luka-luka di kawasan MKAD.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan total 822 drone Ukraina berhasil ditembak jatuh di berbagai wilayah. Selain di ibu kota, serangan Ukraina meluas ke wilayah Rostov di selatan Rusia dan menewaskan tiga orang. Gubernur Rostov Yuri Sliusar mengonfirmasi kerusakan bangunan pemukiman dan stasiun kereta api di Kamensk-Shakhtinsky setelah pasukannya mencegat lebih dari 150 drone dan rudal.

"Para dokter sedang memberikan semua bantuan yang diperlukan," ujar Gubernur Rostov Yuri Sliusar.

Di bidang penyerangan jarak jauh, militer Ukraina mengandalkan rudal jelajah FP-5 Flamingo untuk menargetkan pabrik roket Progress Rocket and Space Centre di Samara yang berjarak 900 kilometer dari perbatasan. Fasilitas tersebut disasar karena memproduksi teknologi roket dan elektronik penyokong jaringan satelit komunikasi Rassvet, yang dikembangkan Rusia untuk menyaingi jaringan Starlink.

Serangan udara Ukraina turut menghantam Pangkalan Udara Savasleyka di Nizhny Novgorod yang menjadi markas jet tempur MiG-31 pengusung rudal hipersonik Kinzhal. Wali Kota Samara Ivan Noskov mengonfirmasi adanya serangan besar-besaran yang merusak infrastruktur industri lokal, meski tidak menyebutkan secara spesifik nama fasilitas yang terdampak.

"Penting bagi potensi perang Rusia untuk dikurangi. Perdamaian dibutuhkan, dan hal ini harus terlihat di Rusia melalui kerusakan nyata terhadap fasilitas-fasilitas tertentu," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Eskalasi serangan udara ini mengancam perlintasan logistik sipil di koridor perbatasan. Sebuah truk gandeng asal Belarusia dan sedikitnya dua armada truk dari Iran dilaporkan mengalami terbakar hebat di jalan raya A-240 wilayah Bryansk akibat gempuran drone militer Ukraina.

Intensitas serangan udara Rusia yang balasan memicu warga sipil di Kyiv mengandalkan kanal pemantau mandiri di aplikasi Telegram seperti Aeris Rimor untuk mendapatkan peringatan dini mengenai pergerakan rudal balistik.

"Oh, ada rudal menuju Kyiv," ujar Esko, pengelola kanal Aeris Rimor.

Pria berusia 19 tahun tersebut memantau pergerakan ikon militer secara langsung dari rumahnya guna memberikan instruksi evakuasi ke stasiun metro terdekat bagi ratusan ribu pengikutnya.

"Benar-benar harus terus berjaga dan menatap layar sepanjang waktu karena Anda bisa dengan mudah melewatkannya," ujar Esko.

Penggunaan data pemantauan independen ini menjadi tumpuan warga sipil dalam mengantisipasi waktu tempuh rudal Rusia yang kerap meluncur hanya dalam rentang tiga menit setelah sirene berbunyi.

"Anda hanya bisa mengatakan: sesuatu mungkin terjadi... tetapi putuskan sendiri," ujar Esko.

Warga Kyiv seperti Kateryna Reshetnyk memilih memboyong keluarganya bermalam di stasiun kereta bawah tanah berbekal informasi dari analisis kanal Telegram independen tersebut.

"Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup," ujar Kateryna Reshetnyk.

Proses pemantauan swadaya ini terus dipantau oleh otoritas militer resmi yang memberikan kebebasan terbatas bagi pengelola saluran pemantau warga.

"Kami memantau apa yang sedang terjadi dan di mana lokasinya karena kerabat, teman, dan kolega kami tersebar di seluruh Kyiv dan wilayah sekitarnya. Jadi setidaknya kami memahami apa yang terjadi dan di mana," ujar Kateryna Reshetnyk.

Pihak militer mengingatkan pengelola kanal Telegram agar tidak menyebarkan rincian posisi sistem pertahanan udara yang berisiko dimanfaatkan oleh intelijen lawan.

"Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan," ujar Juru Bicar Angkatan Udara Ukraina Yuri Ignat.

Peningkatan frekuensi gempuran drone dan rudal jelajah ini menandai babak baru pertempuran jarak jauh antara Ukraina dan Rusia yang kini telah memasuki tahun kelima.

"Anda terus menunggu, menunggu, menunggu, kemudian mulai mengunggah peringatan karena ketegangan meningkat. Namun, tidak terjadi apa-apa. Anda mengunggah lagi, dan tidak terjadi apa-apa... Lalu mereka menyerang," ujar Esko.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed