Ryan Garcia Pukul TKO Conor Benn di Ronde Kedua
Pemegang gelar juara dunia kelas welter WBC Ryan Garcia menghentikan perlawanan Conor Benn lewat kemenangan Technical Knockout (TKO) pada ronde kedua dalam pertarungan di T-Mobile Arena, Las Vegas, pada Sabtu, 12 September 2026.
Garcia menjatuhkan petinju asal Inggris tersebut lewat kombinasi pukulan upper cut dan pukulan tangan kanan keras. Benn sempat bangkit dengan kondisi kaki tidak stabil sebelum wasit memutuskan untuk menghentikan duel pada menit 1:25 di ronde kedua.
Sejak ronde pertama dibuka, Garcia memanfaatkan keunggulan jangkauan serta kecepatan kaki untuk menahan tekanan Benn. Pukulan hook kiri Garcia berulang kali mendarat efektif saat Benn berupaya mengikis jarak pertarungan.
Kemenangan ini membuat Garcia sukses melakukan pembuktian perdana dalam mempertahankan sabuk juara welter WBC yang ia rebut dari Mario Barrios pada Februari lalu. Garcia kini mengantongi rekor bertanding 26 kemenangan dari 28 laga profesional.
Pihak WBC juga menyerahkan cinturón Tollan Topiltzin, sebuah sabuk edisi khusus berornamen batu obsidian dan lapisan emas yang dirancang khusus untuk memperingati warisan kebudayaan Toltek dari Meksiko pada duel ini.
Dalam wawancara pascaduel bersama DAZN, Garcia menyampaikan rasa syukurnya atas performa bebas cedera yang ia tampilkan di atas ring.
"Tangan kanan saya selalu siap, tetapi saya selalu mengalami cedera. Jadi, ini adalah dua pertarungan pertama di mana tangan kanan saya tidak mengalami cedera sama sekali," kata Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Garcia juga memberikan apresiasi kepada lawannya atas atmosfer pertandingan yang terbangun sepanjang pekan jelang laga.
"Saya merasa bahagia dan diberkati, dan saya ingin berterima kasih kepada Conor atas masa promosi yang hebat, pertandingan yang luar biasa, saya menghormatinya," ujar Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Mengenai momentum pertarungan yang bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Meksiko, Garcia menegaskan keterikatan emosionalnya dengan para penggemar.
"Saya merasa terhormat bisa bertarung di hari ini. Saya tahu beberapa orang tidak menganggap saya sebagai orang Meksiko karena saya tidak berbicara bahasa Spanyol, tetapi ketahuilah cinta saya tidak pernah hilang dari kalian, saya akan selalu mencintai kalian dan saya akan selalu bertarung dengan kuat," tutur Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Sebelum duel berlangsung, mantan juara dunia Nigel Benn menyampaikan keyakinannya terhadap sang putra yang berusaha mengikuti jejaknya meraih gelar WBC.
"Saya telah memperhatikannya secara religius selama 10 tahun mempertaruhkan hidupnya. Dia terus berkembang dari kekuatan ke kekuatan, dari kejayaan ke kejayaan. Saya melihatnya akan menang. Saya sebenarnya tidak khawatir sama sekali," ucap Nigel Benn, mantan juara dunia tinju.
Menanggapi ketidakhadirannya pada sesi tatap muka di Mandalay Bay sebelum laga, Garcia memberikan penjelasan mengenai fokus persiapannya.
"Saya memiliki banyak pengalaman dalam olahraga ini. Saya telah bertarung dalam pertarungan besar untuk waktu yang lama – jauh lebih lama darinya – dan saya telah berada di Vegas cukup lama untuk menyadari hal-hal tertentu tidak sepadan dengan waktu saya," kata Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Garcia menambahkan bahwa ketatnya jadwal latihan menjadi alasan utama keputusan tersebut.
"Saya memiliki rutinitas yang harus diikuti; Saya harus tetap tajam. Saya biarkan dia pergi dan menatap dirinya sendiri, tetapi saya punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya perlu berlatih," ujar Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Garcia menilai banyaknya agenda tatap muka sebelum duel tidak terlalu memengaruhi hasil akhir di atas ring.
"Kita punya sesi tatap muka di konferensi pers, di sesi penimbangan badan, dan kemudian di dalam ring. Berapa banyak sesi tatap muka yang kita butuhkan?" tutur Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Petinju asal California itu juga menegaskan bahwa faktor teknis merupakan penentu utama hasil pertandingan.
"Saya tidak perlu memainkan permainan mental. Dia akan dihajar bagaimanapun juga. Dia bisa saja percaya diri, dia bisa merasa bahagia, sedih, terkuras, kuat atau apa pun yang dia inginkan – keterampilan yang akan membuktikannya di dalam ring itu," ucap Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Dalam wawancara terpisah bersama BBC Sport di Las Vegas, Garcia menyampaikan pandangannya mengenai level kemampuan Benn.
"Dia petinju rata-rata, dia atletis dan itu karena nama belakangnya. Ini bukan ejekan untuknya; ini hanya kebenaran yang pahit," kata Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Garcia menegaskan tetap melakukan persiapan maksimal tanpa memandang sebelah mata sang lawan.
"Saya bersiap seolah-olah dia adalah petinju terbaik di dunia. Ini semua tentang persiapan dan seberapa tajam Anda," ujar Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Ia menolak anggapan bahwa dirinya menganggap remeh kapasitas bertarung Benn di kelas welter.
"Orang-orang bisa mengatakan Anda mengabaikannya. Tidak, saya menyatakannya sesuai dengan apa yang saya lihat," tutur Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Garcia memberikan perbandingan mengenai kualifikasi Benn sebagai penantang gelar juara dunia.
"Apakah Anda ingin saya mengatakan dia sebaik Floyd Mayweather? Dia tidak begitu," ucap Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Garcia mengulas gaya bertarung Benn yang dinilainya sudah cukup familiar.
"Dia lumayan. Dia maju ke depan dan melepaskan pukulan overhand melengkung. Dia agresif dan akan membuatnya menjadi pertarungan yang kasar, tetapi itu bukan sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya," kata Garcia, pemegang gelar WBC welter.
Mantan juara dunia Johnny Nelson memberikan analisis mengenai peta kekuatan kedua petinju sebelum partai utama digelar.
"Jangan pernah berkata tidak pernah. Saat ini, rasanya seperti gunung yang mustahil untuk didaki, karena Conor Benn belum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab. Apakah dia memiliki kedalaman pengalaman itu?
Dia tidak memilikinya. Bisakah dia menggali lebih dalam? Kita tahu dia bisa.
Apakah dia petinju di tingkat itu? Itu adalah pertanyaan yang kita tidak tahu jawabannya," ujar Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Nelson mengingatkan riwayat pertarungan bersejarah yang pernah dicetak oleh petinju Inggris di tanah Amerika Serikat.
"Namun apa yang kita ketahui adalah, secara historis, hal ini telah terjadi berulang kali sebelumnya. Lloyd Honeyghan pergi ke Amerika dan memenangkan gelar dunia mengejutkan semua orang. Ayah Conor, Nigel Benn, pergi dan mengalahkan Iran Barkley.
Anda tahu, Barkley memiliki nama besar; bisakah Nigel melakukannya? Dia berhasil melakukannya, dan dia melakukannya setelah di-KO oleh Michael Watson," tutur Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Karakter bertarung Benn yang lugas dinilai Nelson menjadi tantangan tersendiri untuk membuktikan kelayakannya di tingkat dunia.
"Jadi, karena gayanya mungkin sangat kasar dan keras, Anda akan berpikir, apakah anak ini [Conor Benn] memiliki kelas untuk menjadi juara dunia dan menjadi, apa yang terlihat seperti, aksi berkelas?" ucap Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Nelson menegaskan bahwa rekam jejak Garcia tetap menjadikannya pihak yang lebih diunggulkan.
"Ini harus menjadi malamnya. Tentu saja, Anda dapat memahami orang-orang lebih condong ke Ryan Garcia karena Garcia terbukti. Conor tidak. Jadi Anda akan memberi seseorang kesempatan untuk membuktikan dirinya, bukan mencoretnya," kata Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Penurunan berat badan Benn menuju limit 147 pon diprediksi Nelson tidak memangkas kecepatan sang petinju.
"Saya tidak percaya berat badan akan menghilangkan amunisinya. Itu jelas akan menghilangkan kekuatan alami yang dia miliki di berat badan yang lebih tinggi," ujar Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Nelson memperkirakan Benn tetap mampu tampil dengan intensitas serangan yang tinggi.
"Dia tidak akan sepenuhnya terkuras. Saya pikir dia akan tetap menjadi mesin. Dia akan lebih cepat.
Dia tidak akan lebih kuat. Saya pikir dia akan memiliki kecepatan, tetapi tidak memiliki kekuatan yang dia tunjukkan saat kita melihatnya bertarung melawan Eubank Jr," tutur Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Faktor kecepatan dinilai menjadi elemen kunci bagi Benn dalam menghimpun tenaga pukulan.
"Saya pikir kecepatan menciptakan kekuatan, dan jumlah pukulan yang dia lepaskan, itu sangat cepat," ucap Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Daya ledak Benn dalam beberapa laga sebelumnya menjadi catatan penting bagi Nelson.
"Kita telah melihatnya menghentikan orang-orang sebelumnya; kita telah melihatnya membuat orang pingsan secara telak," kata Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Navigasi strategi disebut Nelson sebagai ujian utama yang harus dilalui Benn.
"Tetapi saya pikir kecepatan menciptakan kekuatan, dan ini tentang menavigasi hal itu. Ini tentang bagaimana dia melakukannya," ujar Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Nelson menyebut pertarungan ini sebagai ujian terbesar dalam karier profesional Benn.
"Ini adalah hari kelulusan bagi Conor Benn. Saya berharap Garcia berada satu tingkat di atas. Saya berharap Garcia menganggap serius Conor, dan saya berharap dia keluar dan menjadi cepat serta tajam dan dominan," tutur Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Fokus penuh Garcia dinilai menjadi penentu agar tidak terjadi kejutan di dalam ring.
"Jadi, ini adalah laga bagi Ryan Garcia untuk kalah karena jika ada aroma keangkuhan, kepuasan diri, atau sikap meremehkan darinya terhadap Conor, itu akan menjadi perhitungannya. Itu akan menjadi kejatuhannya," ucap Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Sikap respect disebut Nelson sebagai syarat mutlak bagi Garcia untuk mempertahankan gelarnya.
"Ini adalah salah satu pertarungan di mana Anda harus berada di permainan terbaik Anda. Ryan Garcia harus masuk ke sana dan menghormati Conor. Apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar tidak mengatakan hal itu kepada saya; dia pikir ini pekerjaan mudah," kata Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Nelson menyimpulkan bahwa meremehkan lawan bisa menjadi celah bagi penantang.
"Ini mungkin hanya pembicaraan. Ini mungkin pembicaraan pertarungan, tetapi saya harap dia menganggap serius Conor karena jika tidak, dia memberikan kesempatan kepada pria yang, di atas kertas, tidak memilikinya," ujar Johnny Nelson, pakar Sky Sports.
Pada partai tambahan kelas crucero, Jai Opetaia menghentikan Noel Mikaelian lewat kemenangan TKO di ronde kesembilan. Sementara itu pada partai kelas berat, Da'Mazion Vanhouter mengalahkan Raphael Akpejiori lewat KO pada ronde pertama.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow