Aksi Jual Asing Tekan Saham BBCA dan BBRI ke Level Terendah
Aksi jual investor asing yang berlangsung sepanjang tahun ini menekan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) hingga terperosok ke level terendah dalam lima tahun terakhir pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026).
Pelemahan dua saham perbankan berkapitalisasi besar tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,70 persen atau runtuh 101,28 poin ke posisi 5.839,78.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 623 saham melemah, 106 saham menguat, dan 85 saham tidak bergerak, dengan nilai transaksi harian mencapai Rp 25,33 triliun dari volume 39,31 miliar saham.
Pada perdagangan tersebut, BBCA turun 1,81 persen ke Rp 5.425 per saham sehingga mencatat koreksi 32,82 persen sepanjang tahun berjalan, sementara BBRI merosot 3,10 persen ke Rp 2.810 per saham dengan penurunan 23,22 persen sepanjang 2026.
Dibandingkan dengan posisi 4 Juni 2021, harga BBCA telah menyusut 17,80 persen dan BBRI anjlok 33,94 persen, sedangkan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga tertekan namun tetap berada di atas level lima tahun lalu.
Derasnya arus modal keluar terlihat dari nilai jual bersih (net sell) investor asing di BBCA yang mencapai Rp 31,34 triliun dan di BBRI sebesar Rp 9,57 triliun sepanjang tahun 2026.
Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat kepemilikan asing di BBCA menyusut 10,07 persen sejak akhir Desember 2025 menjadi 36,91 miliar lembar, sementara porsi asing di BBRI berkurang 6 persen menjadi 41,6 miliar lembar.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 dan pelemahan nilai tukar rupiah dinilai menjadi pemicu utama fluktuasi ini menurut Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.
"Kinerja empat bank besar sejauh ini masih solid pada empat bulan pertama 2026. BBCA dan BBRI juga masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih," ujarnya.
Nafan menambahkan bahwa depresiasi rupiah memiliki dampak yang lebih kuat terhadap keputusan investor luar negeri untuk menarik dana mereka dari pasar saham domestik.
"Sektor perbankan memiliki korelasi erat dengan kondisi makro domestik. Pelemahan kurs rupiah dapat memicu aksi offload investor asing," kata Nafan.
Meskipun tekanan belum mereda, Nafan tetap merekomendasikan akumulasi bertahap dengan target harga Rp 8.375 untuk BBCA dan Rp 3.670 untuk BBRI karena fundamental yang dinilai masih kokoh.
Prospek teknikal juga dianalisis oleh Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Aziz Setiyo Wibowo, yang melihat saham BBCA sedang membentuk pola candle doji dalam rentang pergerakan yang sempit.
Aziz memproyeksikan BBCA berpotensi memantul menuju Rp 5.875 hingga Rp 5.900 dengan batas support di Rp 5.300, sementara support BBRI berada di Rp 2.780 dengan target jangka pendek Rp 3.070 akibat valuasi yang sudah relatif murah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow