Saham BBCA Stagnan di Rp6.450 Usai Asing Akumulasi Net Buy Rp2,14 Triliun

Smallest Font
Largest Font

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan harga saham stagnan di posisi Rp6.450 per lembar pada pembukaan perdagangan sesi pertama, Senin (24/8/2026), meskipun investor asing membukukan akumulasi beli bersih (net buy) mencapai Rp2,14 triliun sepanjang 1 Juli hingga 21 Agustus 2026. Pergerakan datar tersebut terjadi setelah BBCA membukukan penguatan 1,57% pada pekan sebelumnya dengan capaian net buy asing Rp409,05 miliar periode 18-21 Agustus 2026, menjadikannya saham paling banyak diincar asing kedua setelah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Perseroan menjadwalkan pembagian dividen interim kuartal III tahun buku 2026 sebesar Rp3,07 triliun atau Rp25 per saham dengan tanggal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 28 Agustus 2026, serta pembayaran pada 16 September 2026.

Langkah penambahan frekuensi pembayaran dividen menjadi tiga kali dalam setahun ini dilakukan guna mempertimbangkan posisi modal, likuiditas, dan pengembangan bisnis perseroan.

"Nilai dividen interim yang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya merupakan cerminan kinerja solid perseroan pada semester I-2026. Terobosan ini diharapkan dapat menjadi hadiah bagi investor, bertepatan dengan bulan Kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong. Melalui pembagian dividen ini, entitas pengandali Grup Djarum seperti PT Dwimuria Investama Andalan yang menguasai 54,94% saham berpotensi memperoleh dividen Rp1,69 triliun, sementara pemegang saham individu Anthoni Salim berpotensi mengantongi Rp35,4 miliar atas 1,15% kepemilikannya.

Dari sisi kinerja keuangan, BCA membukukan laba bersih (bank only) sebesar Rp35,3 triliun sepanjang Januari hingga Juli 2026 atau tumbuh 2% secara tahunan (yoy), dengan kontribusi laba Juli 2026 mencapai Rp5,1 triliun. Pendapatan bunga bersih (NII) selama tujuh bulan pertama 2026 tumbuh tipis 0,3% yoy, di mana pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy terbayang oleh penurunan margin bunga bersih (NIM) sebesar 20 basis poin ke level 5,5%.

"Pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy sebagian besar terkompensasi oleh tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM)," kata Analis MNC Sekuritas Victoria Venny. Rasio dana murah (CASA) perseroan tercatat membaik ke posisi 85,4% pada Juli 2026 berkat kenaikan dana murah 11% yoy, sementara deposito berjangka mengalami penurunan 5% yoy. Perubahan pola pembagian dividen yang lebih sering dinilai para analis sebagai langkah manajemen sentimen untuk menjaga daya tarik investor di tengah koreksi harga saham secara year to date.

"Efektivitasnya lebih ke behavioral finance, lebih banyak 'positive news event' sepanjang tahun sehingga bisa menjaga engagement dan mengurangi (reduced) persepsi volatilitas (perceived volatility)," kata Head of Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi.

Meskipun demikian, pergerakan harga saham tetap bergantung pada kondisi pasar serta kinerja fundamental perbankan. "Bisa membantu, tapi tidak dapat menjadi benteng yang sepenuhnya menahan tekanan pasar," tutur pendiri Republik Investor Hendra Wardana. Hendra Wardana menambahkan bahwa dividen lebih berfungsi sebagai peredam guncangan di pasar modal.

"Dividen lebih tepat disebut sebagai shock absorber atau peredam guncangan," tutur pendiri Republik Investor tersebut.

Hendra memproyeksikan target harga saham BBCA pada kisaran Rp6.625 hingga Rp7.000 untuk jangka pendek, sedangkan MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp8.700 dan Samuel Sekuritas mematok target Rp7.150 per saham.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed