Sigit Susanto Pentaskan Wayang Kulit Berbahasa Jerman di Bern
Dalang Indonesia Sigit Susanto menggelar pertunjukan wayang kulit berbahasa Jerman di Waisenhausplatz, Bern, Sabtu (29/8/2026), dalam rangka merayakan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia-Swiss dan HUT ke-81 RI, dilansir dari Detik Travel.
Pementasan yang berlangsung di alun-alun depan Gedung Parlemen Swiss ini berhasil menarik perhatian warga lokal dan diaspora Indonesia. Sigit Susanto memainkan lakon Ramayana secara singkat selama 30 menit dengan cara yang mudah dipahami oleh penonton Swiss.
Panggung disiapkan secara sederhana dengan menggunakan kerangka kayu dan jerami gandum kering, tanpa gedebok pisang seperti di Indonesia. Sigit juga membandingkan kisah Ramayana dengan cerita cinta Romeo dan Juliet untuk memudahkan pemahaman penonton.
"Aku maju dan perkenalkan kepada penonton, bahwa lakon wayang kulit ini Ramayana. Mirip dengan kisah di Eropa, Romeo dan Juliet, tetapi happy ending. Seketika orang-orang mulai tertawa," ujar Sigit Susanto.
Selama pertunjukan, Sigit memainkan tokoh Hanoman dengan menirukan suara kera secara langsung. Hal ini menambah suasana menjadi lebih hidup dan mencekam.
"Sosok kera putih Hanoman, suara monyet aku tirukan dengan berteriak-teriak liar. Munculnya perangai Hanoman yang liar disertai suara aneh mirip kera, menjadikan suasana semakin mencekam," kata Sigit Susanto.
Banyak penonton yang awalnya hanya melintas berhenti untuk menyaksikan pertunjukan hingga selesai. Setelah acara selesai, sejumlah penonton bertanya tentang wayang kulit dan keris yang dikenakan Sigit.
"Ada dua orang Swiss yang mengaku belum pernah menonton wayang kulit dan baru kali ini dan paham ceritanya, karena menggunakan bahasa Jerman. Seorang ingin menonton wayang kulit, kalau ia berlibur ke Indonesia," ujar Sigit Susanto.
Sigit juga menyarankan agar penonton yang tertarik menonton wayang kulit bisa mengunjungi Yogyakarta, tempat pertunjukan wayang kulit berlangsung setiap malam di tepi jalan antara kraton dan Jalan Malioboro.
Seorang penonton bernama Celine, yang memiliki ayah dari Solo dan lahir di Jerman, juga bertanya kepada Sigit mengenai fungsi keris yang dikenakannya.
"Saat itu Celine bertanya apa fungsi keris itu? Sebetulnya itu bukan pertanyaannya sendiri, tetapi membantu anak kecil di sebelahnya yang ingin tahu tentang keris. Aku jawab, dalam adat Jawa memang keris sering dipakai, tak hanya pada dalang, tetapi juga pada pengantin laki-laki," jelas Sigit Susanto.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow