Warga Asing Pertama Dapat Lisensi Haenyeo di Desa Youngrak-ri Jeju

Smallest Font
Largest Font

Kylie Genter, warga Amerika Serikat, menjadi satu-satunya warga asing yang memperoleh lisensi haenyeo di desa Youngrak-ri, Pulau Jeju, Korea Selatan, sejak Januari 2024, seperti dilansir dari Detik Travel.

Haenyeo adalah perempuan penyelam tradisional Jeju yang menyelam tanpa alat pernapasan untuk mencari hasil laut. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan kini menghadapi tantangan regenerasi dan perubahan iklim.

Genter awalnya ditolak bergabung karena statusnya sebagai warga asing. Namun, setelah aturan dilonggarkan, dia mengikuti wawancara dan akhirnya diterima sebagai anggota komunitas haenyeo Youngrak-ri.

"Saya tidak berpikir sedang membuka jalan. Sebagai orang asing yang melakukan ini, terutama karena saya bukan warga negara Korea, ini adalah tanggung jawab besar," ujar Genter.

Genter mendapat kepercayaan dari haenyeo senior, termasuk Presiden Komunitas Haenyeo Youngrak-ri, Hong Bok-nyeo, yang menyebutnya seperti anak sendiri.

"Dia bahkan lebih baik daripada kami, orang Korea dan penduduk asli Jeju, dalam menyelam. Saya sangat menyukainya," ujar Hong.

Dari 2.371 haenyeo aktif tahun lalu, 63% berusia 70 tahun ke atas, sementara hanya sekitar 1% berusia di bawah 39 tahun, menunjukkan masalah regenerasi tradisi tersebut.

Kehadiran Genter juga menarik perhatian wisatawan. Kepala perikanan Youngrak-ri, Kim Chang-sik, mengatakan banyak orang datang untuk melihat dan mewawancarai haenyeo asal Amerika tersebut.

"Desa kami memiliki haenyeo Amerika pertama, jadi banyak orang datang untuk mewawancarainya!" kata Kim.

Namun, para haenyeo menghadapi ancaman dari perubahan iklim. Suhu laut yang meningkat menyebabkan berkurangnya rumput laut dan hasil laut di sekitar Youngrak-ri.

Kim menjelaskan, "Suhu laut yang tinggi membuat banyak rumput laut menghilang. Padahal kami membutuhkan rumput laut agar kerang bisa datang dan memakannya. Kerang tidak datang karena air laut terlalu hangat."

Beberapa tahun lalu, para haenyeo bisa menangkap lebih dari 100 kilogram teripang dalam sehari, namun tahun ini hanya sekitar 10 kilogram secara total.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Genter memilih bertahan dan aktif memperkenalkan tradisi haenyeo melalui media sosial dan podcast.

"Ini adalah komitmen seumur hidup. Saya akan tinggal di desa ini dan meninggal di desa ini. Kalau kalian siap melakukan itu, cobalah!" tegas Genter.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed