Skor Matematika Siswa Indonesia Turun pada PISA 2025

Smallest Font
Largest Font

Skor matematika siswa berusia 15 tahun di Indonesia mengalami penurunan sebesar 2 poin pada Program for International Student Assessment (PISA) 2025, menjadi 364 poin, sementara skor sains dan membaca meningkat masing-masing 6 poin, kata Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati.

Hasil ini disampaikan pada peluncuran hasil PISA 2025 di Gedung E Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026), dilansir dari Detikcom. PISA merupakan asesmen internasional yang mengukur kemampuan siswa dalam membaca, sains, dan matematika melalui penerapan pengetahuan pada situasi nyata.

Lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara mengikuti PISA 2025 pada April-Mei 2025. Di Indonesia, peserta berasal dari siswa berusia 15 tahun di SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA, dengan pengambilan sampel secara acak oleh OECD dan Kemendikdasmen.

Rahmawati menjelaskan, persentase siswa yang mencapai kompetensi minimum matematika di Indonesia hanya 16,93 persen. Kompetensi minimum berarti siswa mampu memformulasikan masalah sehari-hari ke dalam konteks matematika.

"Siswa harus bisa menerjemahkan informasi dari teks, grafik, atau data yang relevan untuk memecahkan masalah. Ini pekerjaan kita karena siswa yang belum memahami konsep matematika kuat sering terjebak oleh banyaknya informasi detail pada soal," ujar Rahmawati.

Rahmawati menambahkan, "Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari." Hal ini menunjukkan tantangan terbesar adalah kemampuan memahami dan menyaring informasi dalam soal matematika.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin menyatakan penurunan skor matematika harus menjadi pengingat untuk memperkuat kemampuan bernalar dan memecahkan masalah siswa.

"Ini perlu dibaca secara hati-hati dan tidak hanya dilihat sebagai angka, tetapi sebagai sinyal bahwa kemampuan para siswa kita, terutama dalam bernalar dan memecahkan masalah itu masih harus diperkuat," ungkap Toni.

Toni menyampaikan tindakan selanjutnya adalah fokus pada peningkatan kompetensi guru dan memastikan pembelajaran matematika lebih kontekstual. "Pemanfaatan hasil asesmen yang sudah dilakukan harus menjadi alat diagnosis dan pendampingan pada satuan pendidikan yang membutuhkan peningkatan," jelasnya.

Selain itu, Toni menegaskan perlunya peningkatan konsistensi implementasi kurikulum di kelas agar penguatan literasi dan numerasi berjalan efektif. "Kurikulum nasional sudah memberi ruang bagi penguatan literasi, numerasi, dan kemampuan bernalar melalui pembelajaran mendalam, tapi konsistensi implementasi di kelas masih menjadi tantangan," ujarnya.

Untuk mendukung hal tersebut, pihaknya akan mengubah mindset pelatihan guru agar pembelajaran fokus pada pemahaman konsep, penerapan konsep dalam kehidupan nyata, dan pemecahan masalah, bukan sekadar menghafal rumus.

"Dukungan dari buku, pelatihan guru, asesmen, dan pendampingan sekolah akan diselaraskan dengan arah tersebut," tutup Toni.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed