Tren Tambal Gigi Mandiri Berisiko Sebabkan Infeksi Parah

Smallest Font
Largest Font

Maraknya penjualan bahan perawatan gigi secara daring memicu fenomena masyarakat nekat melakukan tindakan medis mandiri di rumah. Kasus infeksi gusi hingga pembengkakan parah dilaporkan timbul akibat praktik pemasangan bahan tambal gigi tanpa pengawasan medis.

Seperti dilansir dari Detik Health, penanganan kasus pasien yang mengalami infeksi usai menambal gigi sendiri kerap menyulitkan dokter gigi. Bahan tambalan ilegal yang dibeli secara mandiri tersebut umumnya sangat keras dan sukar dilepaskan dari rongga mulut.

Produk tambal mandiri ini marak dipasarkan di media sosial dengan harga murah. Penjual kerap memperagakan cara penggunaan yang tampak mudah, bahkan tak jarang menggunakan atribut menyerupai tenaga medis untuk meyakinkan pembeli.

Keinginan menghemat biaya perawatan, keterbatasan waktu, serta rasa takut berobat ke fasilitas kesehatan menjadi alasan utama masyarakat memilih jalan pintas. Ditambah lagi, ada anggapan keliru bahwa masalah gigi berlubang bukan kondisi yang serius.

Secara medis, tingkat kerusakan pada gigi berlubang tidak dapat dipastikan hanya dari pengamatan luar. Menutup lubang gigi secara sembarangan berisiko mengurung bakteri aktif yang masih bersarang di dalam jaringan gigi.

Bakteri yang terperangkap tersebut akan berkembang biak dan memicu infeksi tanpa disadari. Gejala awal dapat berupa bau mulut serta gusi mudah berdarah, yang kemudian bisa membengkak, menyebabkan demam, hingga memicu komplikasi serius.

Kerusakan akibat prosedur mandiri yang salah justru membutuhkan biaya, waktu, dan penanganan medis yang jauh lebih besar serta rumit dibandingkan jika melakukan perawatan pencegahan sejak awal.

Pentingnya Langkah Preventif dan Promotif

Penyelesaian masalah kesehatan gigi idealnya berfokus pada tindakan pencegahan (preventif) dan edukasi (promotif) sebelum kerusakan terjadi, bukan sekadar mengobati saat kondisi sudah memburuk.

Tindakan preventif dapat dilakukan melalui kebiasaan menyikat gigi secara rutin menggunakan pasta gigi berfluorida, membatasi konsumsi makanan atau minuman manis, serta memeriksakan kondisi gigi ke dokter secara berkala.

Sementara itu, aspek promotif bertujuan membekali masyarakat dengan pemahaman mengenai tanda awal kerusakan gigi. Masyarakat juga diimbau agar lebih kritis terhadap klaim produk kesehatan di media sosial dan tidak mudah tergiur oleh penawaran serba instan.

Panduan Sebelum Membeli Produk Kesehatan Gigi

Sebelum memutuskan untuk membeli produk perawatan gigi yang beredar di pasaran, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh masyarakat:

Hindari mempercayai klaim produk yang menjanjikan hasil instan atau mengklaim dapat menggantikan peran dokter gigi. Pastikan seluruh informasi kesehatan yang diterima berasal dari tenaga medis yang kompeten.

Selain itu, hindari menjadikan pengalaman atau testimoni orang lain sebagai acuan utama karena kondisi jaringan gigi setiap individu berbeda. Jika muncul keluhan pada rongga mulut, segera lakukan konsultasi langsung ke dokter gigi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed