Trump Yakin Mojtaba Khamenei Masih Hidup Meski Luka Parah
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih hidup meski mengalami luka parah. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan penyiar radio Glenn Beck, Kamis (27/8/2026), di tengah spekulasi luas tentang kondisi Khamenei yang belum terlihat di depan umum sejak Maret 2026.
Khamenei dilaporkan terluka parah di sisi kiri tubuhnya, termasuk lengan dan kaki, akibat serangan AS dan Israel pada Februari lalu. Ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut, dan Mojtaba kemudian dipilih sebagai pengganti oleh Majelis Ahli Iran pada 8 Maret.
"Saya rasa dia belum meninggal. Dia terluka parah. Sisi kiri tubuhnya, lengan, kaki, semuanya.
Dia terluka parah. Tapi saya rasa dia belum meninggal," ujar Trump.
Trump menambahkan bahwa para perunding Iran sering menyebutkan perlunya berkonsultasi dengan Khamenei untuk keputusan akhir. Menurutnya, jika Khamenei sudah meninggal, para perunding tersebut berhasil berpura-pura seolah-olah ia masih hidup.
"Mereka terus mengatakan akan kembali berbicara dengannya untuk mendapatkan persetujuan akhir mengenai berbagai hal," kata Trump.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah kabar buruk tentang kesehatan Khamenei. Ia mengklaim Khamenei dalam kondisi sehat dan mampu berdiskusi selama tujuh hingga delapan jam dalam pertemuan pada 9 Agustus.
"Seseorang yang mampu duduk dan berdiskusi selama tujuh hingga delapan jam tentu tidak mungkin memiliki masalah kesehatan," ujar Pezeshkian.
Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz kini sepenuhnya terbuka untuk pelayaran. Ia mengklaim 10 juta barel minyak melewati selat tersebut pada 25 Agustus, termasuk 22 kapal yang berlayar dengan selamat.
"Anda benar-benar bisa mengatakan, Anda tahu, karena Selat itu terbuka. Kita sekarang membawa banyak kapal melalui Selat itu. Ranjau-ranjau sudah hilang," katanya.
Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hingga AS menerima syarat-syarat Teheran. Iran juga menolak izin Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memeriksa fasilitas nuklir yang rusak akibat serangan AS.
"IAEA telah gagal menjaga objektivitas; mereka tidak menentang maupun mengutuk serangan terhadap fasilitas nuklir kami," kata Mohammad Eslami, kepala Organisasi Energi Atom Iran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow