Umat Islam Merayakan Iduladha 1447 Hijriah demi Meningkatkan Solidaritas Sosial

Smallest Font
Largest Font

Umat Islam di seluruh Nusantara merayakan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5/2026) sebagai momentum penting untuk memperkuat silaturahmi, keikhlasan, dan kepedulian sosial melalui penyembelihan serta pembagian daging hewan kurban kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan bahwa Iduladha tahun ini jatuh pada hari Rabu tersebut, yang sekaligus memperingati ketulusan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail. Berdasarkan informasi dari Britannica, momen ini menjadi simbol ketulusan hati dalam menegakkan ajaran Islam dan mewujudkan kehidupan penuh keberkahan.

Penyembelihan kurban oleh warga yang mampu secara ekonomi menjadi simbol nyata untuk mengorbankan ego serta sifat individualistis. Melalui kegiatan ini, masyarakat yang hidup dengan keterbatasan ekonomi dapat terbantu secara langsung dalam pemenuhan kebutuhan pokok mereka.

Ibadah ini memberikan panduan spiritual dan sosial untuk membersihkan harta serta menumbuhkan jiwa sosial yang perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari sepanjang masa. Bentuk nyata dari nilai-nilai ini meliputi aksi membantu tetangga yang kesusahan, menyantuni anak yatim piatu, serta peduli terhadap kaum duafa.

Di balik semarak perayaan, barisan panitia kurban bekerja tanpa pamrih sejak fajar untuk mendata peserta, menyiapkan peralatan, hingga memastikan pembagian daging berjalan adil. Kumpulan kutipan dari para pemikir dunia dirilis oleh kapanlagi.com untuk mengapresiasi semangat pelayanan para sukarelawan tersebut.

Filosofi pelayanan tanpa imbalan ini tercermin dalam pemikiran para tokoh kemerdekaan dan kemanusiaan internasional saat merenungkan makna memberi bagi sesama manusia.

"Cara terbaik untuk menemukan dirimu adalah dengan kehilangan dirimu dalam melayani orang lain." ujar Mahatma Gandhi, Pemimpin Kemerdekaan India.

Prinsip pelayanan tersebut diwujudkan secara nyata oleh para panitia di lapangan melalui tindakan konkret memotong dan membagikan daging sejak subuh.

"Cinta tidak bisa berdiri sendiri — ia tak bermakna tanpa tindakan. Cinta harus diwujudkan dalam pelayanan." kata Mother Teresa, Peraih Nobel Perdamaian 1979.

Melalui kerja keras para sukarelawan, cinta tersebut diterjemahkan menjadi aksi penimbangan dan pembungkusan daging untuk warga sekitar lingkungan tempat tinggal.

"Pertanyaan hidup yang paling mendesak dan terus-menerus adalah: apa yang sedang kamu lakukan untuk orang lain?" kata Martin Luther King Jr., Aktivis Hak Sipil Amerika.

Kontribusi sosial ini dipertegas dengan pandangan mengenai pentingnya kerelaan memberi dalam menjalani kehidupan yang mempunyai makna mendalam.

"Kita mencari nafkah dari apa yang kita dapatkan. Kita menjalani kehidupan dari apa yang kita berikan." kata Winston Churchill, Mantan Perdana Menteri Inggris.

Sikap berserah diri secara utuh melalui tenaga, waktu, dan perhatian menjadi esensi utama yang diberikan oleh para sukarelawan kurban.

"Kamu memberi sedikit saat kamu memberi dari hartamu. Kamu baru benar-benar memberi saat kamu memberikan dirimu sendiri." kata Khalil Gibran, Penyair dan Filsuf Lebanon.

Nilai komitmen para pekerja sosial ini digambarkan sebagai bentuk kontribusi berharga bagi eksistensi kehidupan manusia di dunia.

"Pelayanan kepada orang lain adalah sewa yang kamu bayar untuk kamarmu di bumi ini." kata Muhammad Ali, Legenda Tinju Dunia.

Kerja keras yang tidak bernilai materi ini menempatkan posisi para sukarelawan pada kedudukan yang sangat tinggi di tengah masyarakat.

"Relawan tidak dibayar bukan karena mereka tidak berharga, melainkan karena mereka tak ternilai harganya." kata Sherry Anderson, Penulis dan Aktivis.

Melalui aktivitas menolong sesama ini, para panitia juga mendapatkan ruang untuk melatih keikhlasan serta memperoleh kebijaksanaan hidup.

"Jika kamu menjadi penolong hati-hati yang lain, mata air kebijaksanaan akan mengalir dari hatimu." kata Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Abad ke-13.

Keberhasilan pengelolaan kurban yang masif ini pada akhirnya bertumpu pada kekuatan kolektif dan kerja sama tim yang solid.

"Sendiri kita hanya bisa melakukan sedikit. Bersama, kita bisa melakukan begitu banyak." kata Helen Keller, Penulis dan Aktivis Tunanetra-Tuli.

Prinsip kerja bersama ini melengkapi esensi mendasar dari seluruh rangkaian kegiatan sosial dan keagamaan yang dijalankan umat manusia.

"Apa esensi kehidupan? Melayani orang lain dan berbuat kebaikan." kata Aristoteles, Filsuf Yunani Kuno.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed