UNESCO Soroti Tingkat Literasi dan Skor PISA Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyoroti capaian literasi dan tingkat melek huruf penduduk Indonesia pada Peringatan Hari Aksara Internasional 2026, Selasa (8/9/2026). Dilansir dari Detikcom, Indonesia dinilai telah mengalami kemajuan besar pada tingkat melek huruf dasar masyarakat. Data statistik menunjukkan bahwa persentase penduduk berusia 15 tahun ke atas di Indonesia yang telah melek huruf sudah mencapai angka yang sangat tinggi pada tahun 2024. "Menurut statistik di Indonesia, hampir 97% dari penduduk berusia 15 tahun ke atas melek huruf pada 2024," tutur Chief of Education UNESCO Regional Office untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan Liaison untuk ASEAN, Santosh Khatri.

Meskipun pencapaian tersebut tergolong krusial, UNESCO menegaskan bahwa tingkat melek huruf dasar tidak serta-merta mencerminkan kondisi literasi suatu negara secara menyeluruh.

"Kita juga harus mempertimbangkan apakah seseorang memiliki keterampilan untuk memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berpartisipasi dalam masyarakat, dan terus belajar sepanjang hidup mereka," jelas Santosh Khatri, Chief of Education UNESCO Regional Office untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan Liaison untuk ASEAN. Selain melek huruf dasar, evaluasi terhadap mutu pendidikan global melalui pengukuran Programme for International Student Assessment (PISA) dari OECD turut menjadi perhatian mendalam.

"Mengingatkan kita kebutuhan mendesak untuk upaya meningkatkan pemahaman dan pengertian mendalam di kalangan pelajar, dimulai dari kelas-kelas awal," sampai Santosh Khatri, Chief of Education UNESCO Regional Office untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan Liaison untuk ASEAN. Dalam studi PISA 2022, kemampuan membaca pelajar Indonesia berusia 15 tahun mencatatkan skor rata-rata 359 poin, masih di bawah standar rata-rata OECD sebesar 476 poin.

"Keragaman Indonesia juga mengingatkan kita bahwa literasi harus kontekstual. Pembelajaran literasi perlu menanggapi bahasa, budaya, komunitas, mata pencaharian, dan lingkungan masyarakat," ujar Santosh Khatri, Chief of Education UNESCO Regional Office untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan Liaison untuk ASEAN. Guna mengatasi kesenjangan tersebut, pendekatan pembelajaran literasi perlu disesuaikan dengan konteks keragaman budaya dan lingkungan lokal masyarakat Indonesia. "Mari kita pastikan bahwa literasi tetap menjadi inti dari pembelajaran sepanjang hayat, karena literasi bukan hanya tentang membaca kata, tetapi juga menciptakan dunia dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk membentuk dunia yang lebih baik," tekan Santosh Khatri, Chief of Education UNESCO Regional Office untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan Liaison untuk ASEAN.

Hasil pengukuran terbaru PISA 2025 dijadwalkan akan disampaikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Selasa, 8 September 2026.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed