Aryna Sabalenka Dukung Aturan Tes Genetik Baru Seri WTA

Smallest Font
Largest Font

Petenis putri nomor satu dunia Aryna Sabalenka menyatakan dukungannya terhadap kebijakan baru Women's Tennis Association (WTA) yang mewajibkan tes genetik sekali bagi seluruh pemain demi menjaga keadilan kompetisi dari atlet pria secara biologis pada Konferensi Pers National Bank Open di Montreal, Kanada, Senin, 4 Agustus 2026.

Kebijakan baru WTA yang berlaku sejak bulan lalu tersebut mewajibkan prosedur pemeriksaan genetik terhadap gen SRY melalui sampel ludah, usap pipi, atau darah. Gen SRY merupakan bagian DNA yang bertanggung jawab mengubah gonad yang belum berdiferensiasi menjadi testis, bukannya ovarium.

Pemain yang mendapat hasil negatif gen SRY diizinkan berkompetisi, sementara yang positif akan ditinjau secara medis. Pengecualian diberikan jika pemain terbukti mengidap Sindrom Insensitivitas Androgen Sempurna atau gangguan perkembangan seks lain yang membuat mereka tidak pernah mengalami efek fisiologis pubertas dini maupun remaja pria. Skema ini menggantikan aturan lama yang mengizinkan wanita transgender berlaga apabila kadar testosteron berada di bawah 2,5 nmol/L selama dua tahun berturut-turut.

Sabalenka menegaskan pentingnya menjaga keadilan dalam tur tenis profesional putri saat menyampaikan pandangannya kepada media.

"Saya pikir sangat penting untuk menjaga keadilan dalam tur kami. Jelas, secara biologis, pria jauh lebih kuat daripada wanita, jadi saya merasa tidak adil jika seorang wanita bersaing melawan pria secara biologis," kata Sabalenka, petenis asal Belarusia.

Sabalenka menilai langkah yang diambil oleh organisasi tenis dunia tersebut memerlukan waktu pertimbangan sebelum akhirnya resmi ditetapkan.

"Saya yakin mereka butuh waktu sejenak untuk membuat keputusan ini dan saya mendukungnya," ujar Sabalenka.

Sebagai atlet profesional yang memuncaki peringkat dunia selama 92 pekan berturut-turut, Sabalenka mengaku siap mengikuti seluruh prosedur medis yang disyaratkan.

"Jika mereka ingin menguji kita semua, saya senang melakukannya; itu cukup adil, dan mari kita pertahankan seperti itu," kata Sabalenka.

Langkah WTA mengikuti keputusan World Boxing pada Mei 2025, World Athletics pada September 2025, dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada awal 2026. IOC mencatat keunggulan biologis pria mencakup massa otot dan tulang yang lebih besar, ukuran jantung serta paru-paru yang lebih luas, sel darah merah lebih banyak, hingga lemak tubuh yang lebih rendah dibanding wanita pada tingkat latihan sepadan.

Dukungan Sabalenka menuai beragam reaksi publik dan memperkuat pernyataan pemain WNBA Indiana Fever, Sophie Cunningham, yang sebelumnya mendapat kritik seusai menyuarakan perlindungan bagi atlet wanita muda agar tidak bertanding melawan pria secara biologis dalam sebuah wawancara.

"Saya mendapat banyak umpan balik negatif tentang saya membenci trans. Dan saya seperti, 'Saya tidak pernah sekali pun mengatakan itu,'" kata Cunningham.

Di sisi lain, penentangan terhadap kebijakan tes genetik disuarakan oleh mantan atlet lari gawang asal Spanyol, Maria Jose Martinez-Patino, yang pernah mengalami dampak verifikasi jenis kelamin pada dekade 1980-an.

"Ini membawa saya kembali ke tahun 1950-an dan 1960-an, ketika wanita praktis harus melalui serangkaian kontrol, harus bertelanjang di depan panel dokter," kata Martinez-Patino.

Martinez-Patino berpendapat bahwa penentuan jenis kelamin seseorang tidak dapat disederhanakan hanya melalui satu penanda genetik semata.

"Saya mendapat kesan bahwa kita belum maju dari sudut pandang ilmiah. Kita praktis tidak membuat kemajuan jika sekarang dikatakan secara kategoris bahwa wanita dengan kromosom X dan Y bukanlah wanita," ujar Martinez-Patino.

Menurut Martinez-Patino, variasi biologis manusia memiliki kompleksitas yang membutuhkan penanganan individual secara terpisah.

"Ini bukan hitam atau putih. Ada lebih dari 60 mutasi genetik yang menurut saya tidak terlalu rumit untuk dipelajari. Sesuatu yang selalu saya katakan adalah bahwa itu harus dilakukan kasus per kasus," tutur Martinez-Patino.

Sebelum penetapan aturan ini, Sabalenka pernah menjalani pertandingan eksibisi 'Battle of the Sexes' melawan petenis pria Australia, Nick Kyrgios, di Dubai pada Desember 2025 yang berakhir dengan kekalahannya 6-3, 6-3. Hingga saat ini, belum ada atlet wanita transgender yang terdaftar bertanding dalam WTA Tour.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed