AS Kirim Kapal Induk Pengganti Imbas Krisis USS Abraham Lincoln

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Amerika Serikat bersiap mengerahkan kapal induk USS George Washington ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln pada pertengahan Agustus 2026. Langkah ini diambil setelah kapal induk bertenaga nuklir tersebut mengalami krisis logistik dan kelelahan awak akibat beroperasi hampir sembilan bulan dalam konflik melawan Iran.

Hancurnya sebagian besar fasilitas Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain akibat serangan rudal dan drone Iran memaksa Pentagon memindahkan pusat logistik utama ke Diego Garcia di Samudra Hindia. Jarak markas baru yang mencapai 2.200 mil dari wilayah operasi di Teluk Oman memutus jalur pasokan harian serta akses pelabuhan bagi sekitar 5.000 pelaut dan marinir.

Kondisi ini memicu gangguan saniter serius, krisis kesehatan mental, serta kelangkaan kebutuhan dasar di atas kapal yang telah berada di laut selama lebih dari 200 hari tanpa jeda. Di tengah situasi tersebut, militer Amerika Serikat juga mencatat kehilangan 45 unit drone MQ-9 selama perang berlangsung.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Mike Levin, mengungkapkan bahwa pihak keluarga personel telah menghubungi dirinya untuk menyuarakan keresahan mendalam atas kejelasan misi militer tersebut.

"Persoalannya kembali pada gambaran besarnya. Sebenarnya apa misi di sini? Keluarga-keluarga ingin mengetahui hal itu," kata Levin.

Guna merespons gelombang desakan publik, Laksamana Joseph Cahill selaku komandan pasukan permukaan Angkatan Laut Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa pihak militer memahami dampak penempatan jangka panjang ini.

"Kapalku itu sekarang atau dalam waktu sangat dekat sedang bergerak, dan kapal lain yang sangat mirip akan menggantikannya," kata Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan konfirmasi mengenai rotasi Armada Kelima tersebut saat berbicara di pangkalan udara Maryland. Namun, dirinya membantah anggapan bahwa masa tugas USS Abraham Lincoln sudah terlalu lama.

"Tidak, tidak, tidak. Bahkan belum cukup lama," kata Trump.

Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan kembali komitmen posisi Washington dalam mempertahankan blokade maritim di Selat Hormuz.

Washington dapat mempertahankannya "selama diperlukan, tanpa batas waktu", kata Hegseth.

Krisis logistik dan kelelahan ribuan awak militer ini menjadi sorotan utama Angkatan Laut Amerika Serikat saat persiapannya mengirimkan kapal pengganti ke kawasan Teluk.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed