AS Evaluasi Kehadiran Militer di Teluk Usai Konflik dengan Iran
Departemen Pertahanan Amerika Serikat mempertimbangkan pengurangan kehadiran militer dan tidak merencanakan pemulihan penuh fasilitas militer di kawasan Teluk pasca-perang dengan Iran akibat kerusakan berat pada sejumlah infrastruktur vital Washington.
Pertimbangan yang diinisiasi oleh kantor kebijakan Pentagon serta ditinjau oleh Staf Gabungan dan Komando Pusat AS (CENTCOM) ini mencakup keberadaan sekitar 40 ribu prajurit di 20 situs militer kawasan Teluk. Langkah tersebut diambil setelah militer AS meluncurkan lebih dari 13 ribu serangan sejak Februari, yang dibalas Iran dengan menargetkan fasilitas militer Amerika di negara-negara Teluk.
Purnawirawan Jenderal Angkatan Darat AS, Barry McCaffrey, menilai kerusakan fisik serta dinamika politik kawasan telah mengubah peta kekuatan militer Washington secara permanen.
"Menurut saya, militer Amerika telah kehilangan akses ke 15 pangkalan militernya di Teluk untuk selamanya," tulis Barry McCaffrey di platform X.
McCaffrey menambahkan bahwa Iran kini memegang kendali atas akses menuju negara-negara Arab di pesisir Teluk. Menurut analisisnya, Amerika Serikat harus menempuh jalur negosiasi jika ingin memperoleh kembali akses menuju kawasan barat Arab Saudi, Israel, dan Eropa Selatan.
Kehancuran pangkalan pasokan utama di Bahrain memicu gangguan logistik bagi armada perang AS yang beroperasi di sekitar Teluk Oman, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln. Wartawan senior bidang keamanan nasional MS NOW, David Rohde, menuding Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyembunyikan fakta kehancuran pusat logistik tersebut dari publik.
"Pete Hegseth menyembunyikan fakta bahwa Iran menghancurkan pangkalan pasokan utama yang dimiliki Amerika Serikat di Teluk," kata David Rohde.
Rohde menyebut penanganan konflik oleh Pentagon mengalami masalah serius karena tidak mengumumkan kondisi kerusakan fasilitas dalam berbagai konferensi pers. Akibat kehancuran pangkalan utama tersebut, militer Amerika terpaksa memindahkan jalur logistiknya sejauh 2.200 mil ke atol Diego Garcia di Samudra Hindia.
Pihak Pentagon membantah tudingan mengenai penyembunyian informasi kerusakan fasilitas logistik tersebut.
"Jelas salah," kata Joel Valdez, Pelaksana Tugas Juru Bicara Pentagon.
Valdez menuduh media yang menyebarkan laporan mengenai penyembunyian kerusakan fasilitas logistik tersebut telah menyebarkan kebohongan kepada publik.
Gangguan rantai pasokan dan perpanjangan masa penugasan hingga mendekati sembilan bulan memicu krisis kondisi hidup serta kesehatan mental bagi awak USS Abraham Lincoln. Senator Demokrat Richard Blumenthal menyoroti masalah saniter, krisis air bersih, dan keterlambatan pengiriman surat bagi para personel kapal induk.
Laporan dari media militer mencatat adanya insiden kecemasan berat hingga upaya pelaut untuk melompat ke laut selama pengerahan berlangsung. Pemerintah Amerika Serikat menanggapi kondisi tersebut dengan mengumumkan rencana pergantian kapal.
"Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau segera, dan akan digantikan dengan kapal yang sangat mirip," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pemerintah AS menunjuk kapal induk USS George Washington yang berbasis di Jepang untuk bergerak melalui Selat Malaka guna menggantikan pengerahan USS Abraham Lincoln di Timur Tengah.
Di tengah perdebatan mengenai kondisi fisik kapal, Departemen Pertahanan dan pimpinan Angkatan Laut AS membantah tuduhan penurunan standar perawatan prajurit di lapangan.
"Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, setiap kapten mendapatkan segala sesuatu yang dapat kami berikan pada setiap saat," kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS.
Hegseth menyampaikan rasa hormat yang tinggi kepada para pelaut yang bertugas dalam masa penugasan panjang tersebut dan menegaskan keinginan agar para personel militer dapat segera kembali ke rumah.
Pihak Angkatan Laut AS juga memberikan konfirmasi tertulis terkait kondisi kesehatan mental para personel di atas kapal perang utama mereka.
"Kami belum mengamati peningkatan pikiran atau upaya bunuh diri di atas kapal. Kami menganggap serius kesejahteraan setiap personel dan memiliki tenaga profesional keagamaan, medis, serta kesehatan mental yang tersedia untuk menilai dan menangani persoalan ketika muncul," tulis Pejabat Angkatan Laut AS dalam peryataannya kepada CNN.
Ketegangan diplomatik paralel turut terjadi setelah Uni Emirat Arab menuduh Teheran menembakkan dua rudal balistik ke wilayahnya, serta klaim kepemilikan atas jalur pelayaran vital di wilayah Teluk.
"Sama seperti Trump yang menyebut Teluk Persia dengan nama yang tepat, khayalannya tentang Selat Hormuz akan segera dihilangkan, atau kami yang akan meluruskan orang delusional ini," tulis Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Pernyataan keras tersebut dikeluarkan Teheran setelah Presiden Donald Trump mengunggah peta di platform Truth Social yang menampilkan Selat Hormuz sebagai wilayah baru Amerika Serikat.
Bantahan resmi juga disampaikan pihak diplomatik Iran terkait tuduhan penembakan rudal balistik ke wilayah Uni Emirat Arab pada pertengahan Agustus.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, "dengan tegas menolak klaim Uni Emirat Arab bahwa Iran telah meluncurkan rudal ke arah negara itu".
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper telah melakukan kunjungan langsung ke atas kapal USS Abraham Lincoln untuk menemui para pelaut dan Marinir menyusul penyesuaian operasional armada di kawasan tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow