AS Tuduh 40 Negara Bantu China Hindari Tarif Impor Lewat Transshipment
Gedung Putih menuding lebih dari 40 negara membantu China menghindari tarif impor Amerika Serikat (AS) dengan mengalihkan pengiriman barang melalui negara-negara yang dikenakan bea masuk lebih rendah, menurut laporan yang dirilis pada 13 Agustus 2026.
Laporan itu menyebut praktik yang dikenal sebagai transshipment ini melibatkan negara seperti Kanada, India, Meksiko, Jepang, Korea Selatan, serta Indonesia dan sejumlah negara lain.
Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan praktik ini merugikan perekonomian AS dan mengorbankan lapangan kerja serta pendapatan miliaran dolar.
"Hal ini telah mengorbankan lapangan kerja Amerika dan pendapatan miliaran dollar," ujar Navarro.
Navarro menjelaskan China menggunakan metode sangat canggih untuk melakukan transshipment sejak tarif AS mulai diterapkan pada 2018, dan praktik ini terus berlangsung bahkan diikuti negara lain seperti India dan Vietnam.
Menurut laporan, nilai barang yang dialihkan melalui negara ketiga diperkirakan mencapai antara 30 miliar sampai 300 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 533,67 triliun hingga Rp 5.336 triliun dengan kurs Rp 17.789 per dollar AS.
Gedung Putih menyebut barang-barang tersebut dikemas ulang agar negara asal sebenarnya tersembunyi, sehingga tarif impor AS bisa dihindari.
"Hal yang berubah dalam Penipuan Transshipment Besar saat ini bukan sekadar kecepatan dan skala, melainkan juga cakupan, kedalaman, serta kecanggihan jaringan transshipment bayangan global yang menjadi sarana penghindaran tarif oleh China," tulis Gedung Putih.
Untuk mengantisipasi, AS menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) bernama Detective Border untuk mendeteksi praktik ini dengan menganalisis data pengiriman dan riwayat rute.
Navarro menilai langkah ini dapat meningkatkan penerimaan tarif hingga puluhan miliar dolar dan menciptakan ribuan lapangan kerja baru di AS.
"Selama bertahun-tahun, penipuan transshipment besar-besaran ini telah memungkinkan China mencuci ekspornya ke lebih dari 40 negara, merampok Departemen Keuangan kami hingga puluhan miliar dolar dan mencuri gaji pekerja Amerika," kata Navarro.
Gedung Putih mengklasifikasikan 40 negara itu ke dalam tiga kelompok berdasarkan keterkaitan dan volume barang terkait China, termasuk Indonesia dalam kelompok kedua yang memiliki rantai pasok erat dengan China.
"Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia memiliki keterkaitan erat dengan jaringan manufaktur berhubungan dengan China dan menjadi platform utama produksi berbagai barang yang menggunakan bahan atau komponen asal China," demikian laporan Gedung Putih.
China membantah tuduhan tersebut dan menyatakan perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang.
Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington mengatakan, "Tidak ada pemenang dalam perang dagang." Dia juga menolak langkah tarif AS dan memperingatkan agar tindakan sepihak tidak merugikan kepentingan pihak ketiga.
Tuduhan ini muncul di tengah persiapan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington yang berpotensi membahas isu penghindaran tarif melalui negara ketiga.
Laporan ini juga menyebut bahwa praktik transshipment menyebabkan hilangnya penerimaan tarif AS sekitar US$19 miliar hingga US$26 miliar per tahun dan berpotensi menghilangkan sekitar 450.000 lapangan kerja secara langsung maupun tidak langsung.
Data Biro Sensus AS menunjukkan impor langsung dari China turun pada 2025, sementara impor dari negara-negara seperti Meksiko dan Vietnam meningkat, yang diduga sebagian besar akibat pengalihan rute barang China.
U.S. Customs and Border Protection (CBP) menggunakan teknologi AI untuk mendeteksi ketidaksesuaian dalam deklarasi kargo sebagai upaya penegakan kebijakan tarif AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow