Badan Gizi Nasional Tutup Permanen 504 Dapur Program MBG

Smallest Font
Largest Font

Badan Gizi Nasional (BGN) menutup secara permanen 504 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Senin, 10 Agustus 2026. Langkah tegas ini diambil akibat temuan ketidaklayakan sanitasi setelah jaringan JPPI mencatat 40.759 korban keracunan MBG di 36 provinsi sejak 2025.

Mayoritas kasus keracunan pada 2026 terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah. Sebagai respons atas lonjakan kasus tersebut, BGN memperketat standar pengawasan dan menerapkan kebijakan toleransi nol terhadap insiden keracunan dalam program bantuan pangan nasional ini.

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan rincian penutupan fasilitas tersebut dalam Rapat Koordinasi Khusus bersama Menteri Dalam Negeri dan seluruh kepala daerah se-Indonesia di Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.

"Ada 504 dapur yang kemudian kami tutup secara permanen karena dinyatakan tidak layak secara sanitasi," ujar Kepala BGN Sudaryono.

Laporan ketidaklayakan sanitasi tersebut dihimpun oleh dinas kesehatan setempat sebelum diteruskan melalui Kementerian Kesehatan. Selain ratusan unit yang telah ditutup, ribuan fasilitas penyedia makanan lainnya masih menjalani tahap evaluasi kelayakan teknis.

"Sisanya ada sekitar 3.000 yang saat ini sudah mendaftar, sekarang sedang dicek oleh dinas kesehatan masing-masing, yang kemudian kami tunggu, apabila dia tidak layak, maka mohon maaf, ini urusan nyawa seseorang, nyawa anak-anak kita, itu tidak bisa kita tolong lagi," kata Kepala BGN Sudaryono.

Sudaryono mengapresiasi jajaran pemerintah daerah yang dinilai aktif mengawasi mutu makanan di lapangan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas instansi untuk mengantisipasi potensi bahaya kesehatan bagi siswa penerima manfaat.

"Kami sampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kami dari BGN. Intinya, kami juga ingin menegaskan bahwa keinginan kami adalah zero tolerance terhadap adanya kasus keracunan di kemudian hari," tutur Kepala BGN Sudaryono.

BGN juga mewajibkan pengembalian seluruh paket makanan ke dapur SPPG apabila ditemukan komponen hidangan yang membusuk atau tidak layak konsumsi. Guru diminta memeriksa kondisi fisik makanan serta memastikan keberadaan label identitas pengiriman sebelum membagikannya kepada siswa.

"Kalau ditemukan tidak layak, misalnya ada lauk, ada sayur, ada buah, ada nasi, misalnya yang bau hanya sayurnya, harus tidak dikonsumsi semuanya," tegas Kepala BGN Sudaryono.

Inspeksi harian juga mencakup ketepatan waktu pengiriman guna memastikan paket makanan tidak dikonsumsi melewati batas jam aman.

"Bagaimana kalau ditemukan tidak layak, wajib hukumnya tidak dikonsumsi dan dikembalikan kepada dapur SPPG. Kemudian nanti kami akan lakukan pemeriksaan," ujar Kepala BGN Sudaryono.

Pihak sekolah diimbau menolak ompreng makanan yang tidak berlabel atau tiba melampaui jadwal konsumsi. Pengawasan berkala melibatkan Dinas Kesehatan daerah untuk mengaudit standar higiene dan sanitasi penyedia.

"Kalau Bapak-Ibu Guru kemudian merasa ada yang perlu disampaikan kepada kami sebagai Badan Gizi Nasional, apakah itu keluhan, apakah itu komplain, apakah itu temuan, apa pun itu yang terkait Program Makan Bergizi Gratis, kami menyiapkan saluran khusus email kepada Badan Gizi Nasional," ucap Kepala BGN Sudaryono.

Aduan publik dan keluhan operasional dapat dikirimkan langsung oleh para pengajar melalui pos elektronik resmi BGN.

"Kami siap menerima masukan, menerima kritikan, menerima aduan atau apapun itu yang terkait dengan Makan Bergizi Gratis. Kami berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan kami, meningkatkan kualitas kami, dan meningkatkan keterbukaan partisipasi masyarakat dalam Program Makan Bergizi Gratis ini," tegas Kepala BGN Sudaryono.

Instruksi pengetatan pengawasan internal turut disampaikan BGN dalam rapat koordinasi virtual bersama pemerintah daerah pada Kamis, 13 Agustus 2026. Sudaryono meminta bantuan dinas terkait untuk mendampingi pihak sekolah saat penyerahan makanan.

"Kami sangat bergantung dan memohon bantuan dari Dinas Kesehatan di daerah untuk melakukan pengawasan berkala terkait sanitasi, higiene, dan standar kesehatan. Selain itu, kami meminta bantuan Pemda untuk menginstruksikan seluruh Kepala Sekolah agar turut mengawasi makanannya," katanya Kepala BGN Sudaryono.

Kepala sekolah diminta teliti menolak pengiriman yang mencurigakan atau tidak dilengkapi label resmi SPPG.

"Perhatikan baik-baik jika ada kiriman ompreng yang tidak memiliki label, mohon ditanyakan dan ditolak. Karena seluruh penyedia saat ini wajib memberikan label," jelasnya Kepala BGN Sudaryono.

Pihak pengelola dapur diwajibkan mencantumkan batas waktu konsumsi yang jelas pada tiap kemasan.

"Kemudian, pada label tertulis maksimal dimakan sebelum jam 10.00. Namun makanan baru sampai jam 11.00, jangan diterima," lanjutnya Kepala BGN Sudaryono.

Laporan temuan zat asing atau kontaminasi dari kepala daerah menjadi dasar BGN untuk membekukan izin operasional SPPG secara mendadak.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa Kepala Daerah yang sangat sigap melaporkan temuan makanan tidak layak, seperti adanya ulat atau belatung. Laporan tersebut langsung kami tindak lanjuti dengan melakukan suspend dan investigasi," ujarnya Kepala BGN Sudaryono.

Sanksi pencopotan jabatan hingga pemecatan melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN) disiapkan bagi pimpinan SPPG yang terbukti lalai secara sengaja.

"Jika ditemukan unsur kesengajaan atau pelanggaran berat maka dapur akan ditutup permanen. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab akan langsung kami copot untuk diperiksa. Jika terbukti ada kelalaian sengaja, akan kami ajukan pemecatan secara resmi melalui BKN," tegasnya Kepala BGN Sudaryono.

Penegakan aturan ketat ini ditujukan demi menjamin keselamatan jiwa penerima manfaat program bantuan pangan nasional di seluruh wilayah Indonesia.

"Oleh karena itu, partisipasi aktif dari Bapak Ibu Kepala Daerah beserta jajaran Dinas terkait sangat kami harapkan karena ini menyangkut keselamatan warga," pungkasnya Kepala BGN Sudaryono.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed