Bobby Pasikan Program MBG Tetap Jalan di Sumut Usai Insiden Keracunan

Smallest Font
Largest Font

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan kelanjutan program Makan Bergizi Gratis di wilayahnya pada Selasa (8/9/2026). Langkah ini diambil di tengah penanganan kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa siswi SMK di Kabupaten Karo hingga mengalami gangguan ingatan.

Evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penyaluran dan sajian menu dianggap sebagai langkah tepat dibandingkan dengan menghentikan operasional program pemenuhan gizi tersebut. Penegasan ini merespons temuan dampak kesehatan serius yang dialami oleh peserta didik penerima program.

Gubernur Sumatera Utara menilai pembenahan sistem pelaksanaan menjadi fokus utama agar insiden serupa tidak terulang kembali pada masa mendatang.

"Perbaikan, perbaikan itu kata kuncinya," kata Bobby Nasution di Medan, Selasa (8/9).

Pemerintah daerah memandang penataan ulang jalur distribusi dan standar pengolahan makanan sebagai fondasi utama keselamatan para siswa.

"Yang kita dukung perbaikan MBG-nya, perbaikan penyalurannya, perbaikan mekanismenang," ujarnya.

Tingginya tingkat kebutuhan pasokan nutrisi anak sekolah di berbagai area menjadi pertimbangan utama keberlanjutan program penyuplai makanan gratis ini.

"Karena di sebagian daerah, tentu masih ada yang membutuhkan MBG, tapi harus penyalurannya dan menunya juga harus baik, tanpa ada korban-korban jiwa lagi," ujarnya.

Di sisi lain, insiden medis menimpa Febiona Purba (16), siswi kelas XI SMK Bersama Berastagi yang dirawat usai mengonsumsi hidangan program tersebut. Pihak keluarga menyatakan kondisi korban memburuk setelah sempat kembali dari rumah sakit umum.

"Pas awal dirawat itu belum (ada gangguan ingatan). Selama pulang dari Rumah Sakit Umum masih biasa, normal. Tapi setelah sampai di rumah, dia kejang, kami bawa ke RS Haji, di situlah dia mulai omongannya udah kayak anak-anak," ujar Elvinus saat diwawancarai, dilansir detikSumut, Senin (7/9/2026).

Orang tua korban membeberkan bahwa penurunan daya ingat anaknya memicu kesulitan dalam mengenali anggota keluarga dekat serta teman sebayanya.

"Contohnya ibaratnya keluarga. Bibinya kalau datang, 'Ini siapa?' katanya. Jadi kami kasih tahu, 'Ini Bibi.' 'Oh, Bibi.' 'Ini siapa?'

Suami bibinya, 'Ini Kila Ndu, Nakku,' kami bilang. 'Oh, Kila.' Ya gitu-gitu aja ingatannya gitu," kata Elvinus.

Pihak keluarga memprotes minimnya penyampaian informasi medis awal dari pihak rumah sakit terkait indikasi paparan zat berbahaya pada organ otak korban.

"Cuma di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya, kan pindah ruangan, dibilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga udah ada, kenapa nggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu," kata Elvinus.

Otoritas pendidikan daerah langsung merespons laporan penurunan kondisi kesehatan peserta didik tersebut dengan memindahkan rujukan medis ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.

"Ya, saya baru konfirmasi kepada kepala sekolah kita. Laporan kepala sekolah kemarin dibawa ke Rumah Sakit Adam Malik Medan untuk dilakukan EEG," ujar Zulkarnain saat dimintai konfirmasi, Selasa (8/9/2026).

Jajaran Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV berkomitmen untuk menjamin kelangsungan proses belajar korban setelah penanganan medis selesai dilakukan.

"Tadi kita sampaikan ke sekolah agar selalu berkoordinasi dengan orang tua, apabila anak kita sudah siap untuk bersekolah, kita akan bantu fasilitasi sebaik mungkin. Kita sangat prihatin dengan kondisi anak kita ini," tambahnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed