Dokter Ungkap Olahraga Bukan Satu-satunya Penentu Tinggi Badan Anak
Banyak orang tua memilih jenis olahraga tertentu demi menambah tinggi badan buah hati mereka. Padahal, belum ada satu pun tipe aktivitas fisik yang terbukti secara konsisten bisa membuat tubuh anak menjadi lebih tinggi, dilansir dari Detik Health.
Aktivitas fisik sebenarnya berfokus pada peningkatkan kesehatan tulang, kebugaran, serta perkembangan motorik anak. Oleh karena itu, pemilihan jenis olahraga harus disesuaikan dengan usia, tahap tumbuh kembang, minat, dan kondisi kesehatan anak.
Spesialis Kedokteran Olahraga Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS), dr Surya Santosa, SpKO, menjelaskan bahwa pengenalan aktivitas fisik perlu dilakukan secara bertahap. Pada usia dini, anak-anak dapat memulainya lewat permainan yang bervariasi.
Aktivitas seperti melompat, berlari, melempar, dan menjaga keseimbangan sangat berguna untuk melatih koordinasi gerak tubuh anak secara menyenangkan.
"Seiring bertambahnya usia dan kemampuan, anak dapat diperkenalkan pada aktivitas fisik maupun olahraga yang lebih terstruktur. Yang terpenting bukan memilih satu olahraga tertentu untuk mengejar tinggi badan, tetapi memastikan anak aktif secara rutin, menikmati aktivitasnya, dan mendapatkan variasi gerak yang sesuai dengan usianya," kata dr Surya, dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan acuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak dan remaja rentang usia 5-17 tahun disarankan aktif bergerak sedang hingga berat minimal 60 menit saban hari. Latihan spesifik untuk penguatan otot serta tulang disarankan sekurang-kurangnya tiga hari dalam seminggu.
Pemenuhan durasi tersebut tidak wajib berasal dari olahraga formal semata. Kegiatan sehari-hari seperti bersepeda, jalan kaki, bermain aktif, hingga agenda fisik di sekolah dan bersama keluarga sudah mencukupi kebutuhan harian.
Beberapa jenis olahraga seperti basket, renang, senam, sepak bola, bulu tangkis, hingga latihan kekuatan otot boleh diperkenalkan. Namun, prosesnya perlu mempertimbangkan kesiapan fisik serta respons tubuh anak.
"Basket, renang, sepak bola, bulu tangkis, senam, hingga latihan penguatan otot dapat menjadi pilihan selama dilakukan sesuai kemampuan, dengan teknik yang tepat dan supervisi," ujar dr Surya.
Orang tua diimbau tidak memaksakan cabang olahraga tertentu hanya karena mengincar tambahan tinggi badan. Aspek konsistensi berolahraga, kecukupan gizi, dan kualitas tidur justru memegang peranan lebih krusial.
Spesialis Anak Mayapada Hospital Bandung (MHBD), dr Eddy Fadlayana, SpA(K), MKes, menambahkan bahwa potensi fisik anak juga mencakup kelincahan, daya tahan, keseimbangan, serta kekuatan motoriknya.
Di samping itu, faktor genetik, asupan nutrisi, serta kondisi kesehatan secara umum merupakan variabel penentu pertumbuhan anak yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas olahraga.
"Orang tua perlu menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemantauan tumbuh kembang secara berkala agar setiap hambatan dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin," jelas dr Eddy.
Apabila grafik pertumbuhan anak menunjukkan perlambatan atau ketidaksesuaian dengan kurva usianya, orang tua disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
"Jika tinggi badan tidak bertambah sesuai usia atau kurva pertumbuhannya melambat, segera konsultasikan ke dokter agar kondisi dan tumbuh kembangnya dapat dievaluasi," ujar dr Eddy.
Pemeriksaan pola pertumbuhan merupakan langkah penting guna memastikan tahap tumbuh kembang anak berjalan optimal. Untuk mendukung hal tersebut, layanan kesehatan anak komprehensif seperti Pediatric Center di Mayapada Hospital telah menyediakan fasilitas konsultasi spesialis hingga penanganan darurat 24 jam.
Selain itu, fasilitas Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) juga dapat dimanfaatkan untuk menyusun program olahraga anak secara terukur melalui analisis komposisi tubuh dan tes VO2 Max.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow