Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Permintaan Masker di Jakarta

Smallest Font
Largest Font

Lonjakan permintaan masker terjadi di Jakarta pada Senin (7/9/2026) akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Harga masker, terutama jenis KN95 dan N95, melonjak hingga 5 persen, sementara stok di distributor mulai menipis.

Menurut BMKG, abu vulkanik teridentifikasi menyebar ke wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Dua klaster sebaran tercatat pada pukul 06.00 WIB dengan ketinggian mencapai 15.000 kaki atau 4,57 km.

"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau," kata BMKG.

Di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, penjual masker Gilang melaporkan penjualan naik drastis sejak Minggu (6/9/2026). Ratusan boks masker, terutama jenis KN95, habis terjual, dan stok distributor pun kosong.

"Dari kemarin pokoknya pada meningkat penjualan masker. Juga yang nyari banyak dari konsumennya, permintaan juga lagi banyak," ujar Gilang.

"Sekarang stoknya pada udah mulai kosong semua. Paling ada tinggal sedikit. Dari distributornya juga lagi nggak ada," tambahnya.

Penjual lainnya, Putri, menyebut lebih dari 100 boks masker laku terjual. Masker duckbill dijual Rp 40.000 per boks (50 buah), sementara masker bedah karet Rp 45.000 per boks.

"Dari kemarin waktu abu Krakatau ke sini udah ramai," kata Putri.

Sementara itu, Polsek Ciputat Timur membagikan 500 masker gratis kepada warga, pedagang, dan pengemudi ojek di Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan. Kegiatan ini dilakukan pukul 11.30 WIB sebagai langkah preventif.

"Sebanyak 10 box atau 500 lembar masker dibagikan kepada masyarakat," ujar Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah," jelas Bambang.

Dokter paru RSUP Persahabatan Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengatakan penggunaan dua masker diperbolehkan untuk meningkatkan perlindungan, meski peningkatan efektivitasnya belum terukur secara pasti.

"Di-double boleh. Tapi memang di dalam literatur-literatur itu belum ada studi menunjukkan kalau di-double bisa memfiltrasi berapa persen," ujar Prof Agus.

Masker bedah memiliki kemampuan filtrasi 50-60 persen, sementara N95 mencapai 95 persen. Masker kain hanya 10 persen, hampir setara dengan tidak memakai masker.

"Masker kain saja, itu filtrasinya hanya 10 persen. Kecil sekali, bahkan dikatakan hampir sama seperti orang nggak pakai masker," katanya.

Prof Agus menyarankan penggunaan dua masker bedah dibandingkan kombinasi masker kain dan medis untuk double masking.

"Anda lebih baik masker bedah di-double dua saja itu lebih bagus, karena sudah jelas satu masker 50 persen. Kalau dua masker mungkin naik," pungkasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed