Aksi Penumpang Flight 93 Gagalkan Serangan Teroris 911 di AS
Aksi perlawanan penumpang dan awak kabin United Airlines Flight 93 berhasil menggagalkan serangan teroris yang menargetkan Washington DC pada tragedi 9/11. Pesawat berpenumpang 40 orang itu jatuh di Somerset County, Pennsylvania, setelah penumpang berusaha mengambil alih kokpit dari pembajak.
Berdasarkan laporan Komisi 9/11 yang dilansir The New Yorker, perlawanan tersebut mencegah potensi kehancuran Gedung Putih atau Gedung Capitol. Pembajakan dimulai sekitar pukul 09.30, sekitar 45 menit setelah lepas landas, ketika pengawas lalu lintas udara menerima transmisi darurat dari dalam pesawat.
Para pembajak sempat mengumumkan keberadaan bom dan mengarahkan pesawat ke target sasaran. Menggunakan telepon pesawat dan ponsel, para penumpang melakukan pemungutan suara dan memutuskan untuk menyerbu kabin kelas satu demi merebut kembali kendali pesawat.
Mantan istri salah satu penumpang mengingat pesan terakhir yang disampaikan suaminya sebelum aksi penyerbuan dilakukan.
"Kami menunggu sampai berada di daerah pedesaan," ujar mantan istri penumpang tersebut.
Di dalam kokpit, para pembajak yang panik berupaya menggoyangkan pesawat untuk menjatuhkan penumpang yang merangsek masuk. Suara guncangan keras dan teriakan terekam sebelum akhirnya pembajak memutuskan menjatuhkan pesawat dengan kecepatan hampir 965 km/jam di kawasan perbukitan Shanksville.
Salah satu pembajak sempat melempar pertanyaan kepada rekannya di tengah situasi kritis tersebut.
"Haruskah kita menghabisinya?" ujar seorang pembajak.
Kepanikan meningkat ketika suara perlawanan penumpang makin mendekati pintu kontrol penerbangan.
"Di kokpit. Jika tidak, kita akan mati!" ujar seorang penumpang teriak.
Penghormatan atas keberanian para korban datang dari Letnan Heather Penney, pilot F-16 yang saat itu diperintahkan untuk mencegat penerbangan tersebut.
"Pahlawan sejati adalah penumpang di Flight 93 yang rela mengorbankan diri," ujar Penney.
Pernyataan serupa disampaikan oleh rekan penerbangnya yang menilai keberanian para penumpang dalam menghadapi situasi darurat.
"Mereka membuat keputusan yang tidak harus dibuat," ujar Marc Sasseville, rekan Penney.
Lokasi jatuhnya pesawat yang merupakan bekas area tambang batu bara kini didirikan tugu peringatan karya arsitek Paul Murdoch dan Nelson Byrd Woltz untuk mengenang para korban dari berbagai latar belakang profesi tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow