George W Bush Refleksikan Peringatan 25 Tahun Tragedi 911
Mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush menilai publik Amerika cenderung mengabaikan pelajaran penting dari peristiwa 9/11 saat berbicara dalam peringatan 25 tahun serangan teror tersebut di perpustakaan kepresidenannya di Dallas pada Rabu.
Bush menegaskan bahwa gejolak isu luar negeri berdampak langsung pada keamanan nasional AS. Ia menyoroti bahaya kecenderungan isolasionisme yang menganggap masalah di luar negeri tidak relevan dengan kondisi domestik.
"Bangsa kita sesekali melewati periode isolasionis, di mana sikap yang muncul adalah, 'Satu-satunya masalah kita terlalu banyak di dalam negeri. Jadi, siapa yang peduli dengan apa yang terjadi di luar negeri?'" kata George W. Bush, mantan Presiden Amerika Serikat.
Pandangan tersebut disampaikan Bush saat berdiskusi dengan mantan Penasihat Keamanan Nasional Condoleezza Rice. Bush mengingat kembali momen ketika ia sedang mengunjungi Sekolah Dasar Emma E. Booker di Florida saat serangan terjadi.
"Ini adalah perang, dan tugas presiden serta negara dan timnya adalah mengerahkan seluruh elemen bangsa dan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi rakyat kita," kata Bush.
Di ruang kelas Sekolah Dasar Emma E. Booker, para siswa mengingat perubahan raut wajah Bush saat Kepala Staf Andrew Card membisikkan kabar serangan pesawat kedua di World Trade Center.
"Anda dapat melihat pergeseran pada diri [presiden] begitu ia menerima pesan tersebut, dan kemudian Anda dapat melihatnya di wajahnya," kata Krystal Davis, mantan siswa kelas dua SD Emma E. Booker.
Davis menceritakan bahwa situasi di dalam kelas sempat diwarnai kebingungan ketika Bush harus segera dievakuasi dari lokasi pembelajaran.
"Dan kami hanya berpikir, 'Oke, di tengah kegiatan membaca, apa yang terjadi? Apa yang kami lakukan? Seperti, apakah kami melakukan kesalahan? Apakah dia tidak suka kami membaca atau apa?'" kata Davis.
Para pejabat yang mendampingi kunjungan Bush hari itu juga mengingat kepanikan dan keputusan cepat yang harus diambil Secret Service untuk mengamankan presiden di udara.
"Saya 100 persen yakin bahwa ini adalah terorisme," kata Michael Morell, pengarah intelijen harian Gedung Putih saat itu.
Morell yang berada di atas pesawat Air Force One kemudian dipanggil langsung oleh Bush untuk memberikan analisis mengenai dalang di balik serangan udara tersebut.
"Jadi saya katakan, 'Bapak Presiden, pikiran seseorang mungkin tertuju pada negara bangsa seperti Iran atau Irak. Dan keduanya memiliki kemampuan untuk melakukan hal seperti ini,'" kata Morell.
Ia melanjutkan analisisnya kepada presiden mengenai pihak yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya menara kembar.
"'Namun melakukannya sama sekali bukan demi kepentingan mereka, bukan? Mereka tidak punya alasan untuk melakukan ini. Mereka akan tertangkap.
Mereka akan berperang, bukan? Mereka tidak akan melakukan ini,'" kata Morell.
Analisis Morell mengarah pada kelompok militan yang sudah lama berada dalam pemantauan intelijen Amerika Serikat.
"'Jadi saya katakan, 'Saya pikir ketika kita sampai di ujung penelusuran, kita akan menemukan [Osama] bin Laden dan Al Qaeda,'" kata Morell.
Kepanikan hari itu juga dirasakan oleh para pejabat tinggi di Washington ketika seluruh ruang udara AS diperintahkan untuk dikosongkan secara mendadak.
"Ada momen mengerikan di mana wakil presiden terus berusaha mendapatkan konfirmasi tentang apa yang terjadi, dan selama sekitar 10 menit, kami berpikir kami telah menembak jatuh pesawat sipil," kata Condoleezza Rice, mantan Penasihat Keamanan Nasional AS.
Rangkaian serangan teror 9/11 di New York, Pentagon, dan Shanksville tersebut akhirnya merenggut hampir 3.000 korban jiwa serta mengubah kebijakan keamanan global Amerika Serikat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow