Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Flores Nusa Tenggara Timur

Smallest Font
Largest Font

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu pagi pukul 06.00 WITA. Bencana ini menyebabkan kerusakan sejumlah bangunan, merusak fasilitas umum, serta memaksa warga melarikan diri dari rumah mereka.

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat pusat gempa berlokasi sekitar 68 kilometer barat laut Ende dengan kedalaman tertentu dan diikuti oleh serangkaian gempa susulan. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas akibat peristiwa tersebut berdasarkan laporan kepolisian setempat.

Kapolda NTT Rudi Darmoko mengonfirmasi data awal mengenai korban jiwa dalam wawancara di Kompas TV berdasarkan laporan dari kantor polisi daerah.

Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan oleh pihak berwenang sebelum akhirnya dicabut oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengukur gelombang laut hingga setinggi 1 meter sempat terekam di wilayah Maurole, Ende.

Kerusakan akibat guncangan dilaporkan terjadi di berbagai titik Flores, termasuk kerusakan bangunan di Hotel Jayakarta Labuan Bajo dan sebuah rumah sakit di Desa Aeramo. Selain itu, akses jalan di beberapa daerah terputus akibat tanah longsor.

Theresia Uta, seorang warga berusia 52 tahun di kota pesisir Maumere, menceritakan situasinya saat gempa terjadi kepada CNN.

"Meskipun saya pernah mengalami beberapa kali gempa bumi di Pulau Flores sebelumnya, ini adalah gempa yang paling kuat dan paling lama yang pernah saya alami. Guncangannya sangat kuat dan dahsyat," kata Theresia Uta.

Warga di berbagai pelosok Flores berhamburan menyelamatkan diri saat guncangan keras berlangsung selama beberapa menit.

Rektor Seminari Tinggi St. Petrus di Desa Sikka, Pdt. Guidelbertus Tanga, menyampaikan kondisi para siswa dan pengajar saat atap aula roboh ketika misa pagi berlangsung, seperti dilaporkan Associated Press.

"Siswa dan biarawati kami berlari keluar dengan panik di bawah atap yang runtuh," kata Guidelbertus Tanga.

Akibat insiden di lembaga pendidikan tersebut, evakuasi darurat dilakukan secara mandiri oleh para penghuni bangunan.

"Setidaknya satu orang imam mengalami patah tulang kaki setelah melompat dari lantai dua bangunan saat gempa," kata Guidelbertus Tanga.

Dampak gempa juga merusak pemukiman warga di kawasan Talibura yang memaksa belasan anggota keluarga keluar rumah.

Seorang warga Talibura berusia 51 tahun, Nona, menggambarkan kuatnya guncangan yang melanda pemukimannya kepada kantor berita Reuters.

"Gempanya sangat besar, guncangannya begitu kuat, kami sedang beristirahat di rumah bersama keluarga. Ada 13 orang dari kami di dalam rumah dan kami semua berlari untuk menyelamatkan diri," kata Nona.

Kepanikan serupa dialami oleh warga muda yang baru pertama kali merasakan gempa dahsyat di kawasan tersebut.

Seorang warga setempat berusia 16 tahun, Yoan Rinto, membeberkan reaksinya kepada Reuters setelah terbangun dari tidur.

"Saya kaget karena gempa bumi itu. Saya sedang tidur," kata Yoan Rinto.

Guncangan susulan membuat warga enggan kembali ke dalam rumah dan memilih bertahan di luar ruangan.

"Ya, saya masih panik, masih sangat khawatir," kata Yoan Rinto.

BNPB mencatat sekitar 2.000 warga Kabupaten Nagekeo telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman sebagai langkah pencegahan. Tim tanggap darurat dan helikopter penolong telah dikerahkan ke lokasi gempa, meskipun akses wilayah terhambat oleh kondisi geografis kepulauan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed