Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.447 Dollar AS akibat Sinyal Fed

Smallest Font
Largest Font

Harga emas dunia mengalami pelemahan hingga menyentuh level 4.447 dollar AS per troy ons pada perdagangan Senin (31/8/2026). Penurunan ini dipicu oleh sinyal kebijakan moneter hawkish dari Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang memperkuat nilai tukar dolar AS.

Pelemahan sebesar 0,13 persen pada awal pekan ini memperpanjang tren penurunan tajam yang terjadi pada Jumat (28/8/2026), saat harga emas merosot lebih dari 3 persen dari level mendekati 4.700 dollar AS per troy ons.

Sinyal ketat dari The Fed mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan September 2026 menjadi 57 persen, naik dari posisi sebelumnya sebesar 33 hingga 36 persen berdasarkan CME FedWatch Tool. Kondisi tersebut menekan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Pernyataan hawkish tersebut disampaikan langsung oleh pimpinan bank sentral AS dalam ajang tahunan di Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).

"The Fed masih harus melakukan berbagai upaya jika para pembuat kebijakan belum mendapatkan keyakinan yang mereka perlukan bahwa inflasi sedang menuju 2 persen," ujar Warsh, Ketua The Fed.

Pernyataan tersebut membuat volume perdagangan emas berjangka menyusut signifikan menjadi sekitar 188.000 kontrak pada 26 Agustus 2026, turun dari posisi 19 Agustus 2026 yang hampir mencapai 300.000 kontrak karena pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.

Di sisi lain, pembelian emas fisik secara masif oleh bank sentral global, khususnya dari China, menjadi penopang utama yang menahan kejatuhan harga lebih dalam. China mengakumulasi lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Juni 2026, melanjutkan tren pembelian konsisten selama 20 bulan berturut-turut.

Lembaga keuangan internasional Goldman Sachs Research memproyeksikan akumulasi oleh bank sentral akan terus berlanjut dengan rata-rata pembelian 50 ton per bulan sepanjang 2026, jauh melampaui rata-rata historis sebelum 2022 sebesar 17 ton per bulan.

Analisis mengenai tren jangka panjang tersebut disampaikan oleh tim riset komoditas Goldman Sachs melalui laporan berkala mereka.

"Kami terus melihat peningkatan akumulasi emas oleh bank sentral sebagai tren jangka panjang, seiring langkah bank sentral mendiversifikasi cadangan mereka untuk memitigasi risiko geopolitik dan keuangan, yang sejalan dengan bukti survei terkini," tulis Thomas dan Struyven, Senior Commodities Analyst dan co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs.

Goldman Sachs mempertahankan target harga emas dapat mencapai 4.900 dollar AS per troy ons pada akhir 2026. Namun, peningkatan penggunaan instrumen derivatif seperti call options diperkirakan bakal memicu volatilitas harga yang lebih tinggi di pasar.

Selain faktor moneter The Fed, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Pemerintah Iran mengecam sanksi ekonomi baru yang dijatuhkan oleh AS pada Jumat (28/8/2026).

Pemerintah Iran menyebut sanksi baru dari AS tersebut sebagai "terorisme negara".

Pemimpin tertinggi Iran melarang tindakan yang dapat mengganggu "kohesi sosial", di tengah meningkatnya tekanan ekonomi akibat sanksi AS.

Pasar kini menantikan rilis data tenaga kerja AS, termasuk klaim pengangguran harian dan laporan nonfarm payrolls pada 4 September 2026, sebagai acuan utama sebelum rapat penetapan suku bunga The Fed pada 15-16 September 2026.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed