IHSG Berpeluang Melanjutkan Penguatan Seiring Membaiknya Manufaktur

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berpeluang melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) setelah ditutup melonjak 1,11 persen ke level 6.195,42 pada hari sebelumnya.

Aktivitas manufaktur dalam negeri yang kembali ekspansif menjadi salah satu pendorong utama optimisme pasar setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Laporan S&P Global mencatat indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari angka 49,1 pada April.

Faktor domestik ini diperkuat oleh penguatan sektor energi sebesar 1,78 persen serta laporan Badan Pusat Statistik mengenai inflasi Mei 2026 yang terkendali di angka 0,28 persen secara bulanan.

Analis Phintraco Sekuritas menilai indikator teknikal indeks terus menunjukkan sinyal penyempitan histogram negatif menuju area pivot.

"Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220-6.280," jelas analis Phintraco Sekuritas.

Pergerakan indeks juga dipengaruhi oleh dinamika pasar modal global, termasuk potensi masuknya kembali dana asing setelah selesainya rebalancing indeks acuan global.

"Stabilisasi rupiah juga berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan indeks dalam jangka pendek," imbuh analis BRI Danareksa Sekuritas.

Meskipun demikian, pergerakan indeks diprediksi tetap variatif akibat fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat ditutup melemah di level Rp17.830 per dolar AS sebelum kembali bergerak volatil.

"IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.140/6.085 dan resist 6.250/6.305," jelas analis CGS International Sekuritas.

Di sisi lain, pergerakan bursa global juga ikut dipengaruhi oleh perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berimbas langsung pada pergerakan harga komoditas energi dunia.

"IHSG menguat dimana para pelaku pasar juga mencerna data ekonomi," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.

Ketidakpastian negosiasi antara pihak Amerika Serikat dan Iran memicu kewaspadaan tinggi dari para pelaku pasar saham regional.

"Pasar juga fokus perhatian pernyataan yang saling bertentangan dari Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai diskusi baru-baru ini tentang konflik di Lebanon," kata Nico.

Kondisi pasar di Amerika Serikat sendiri ditutup bervariasi cenderung menguat dengan indeks S&P 500 dan Dow Jones yang kembali mencetak rekor penutupan tertinggi baru.

"Ketika sebuah masalah komputasi dipecah menjadi banyak bagian dan didistribusikan ke seluruh pusat data, yang dibutuhkan adalah konektivitas. Itulah alasan mengapa Marvell sangat penting," kata CEO Nvidia Jensen Huang dilansir dari CNBC International.

Sentimen penguatan di sektor teknologi tersebut mengimbangi kekhawatiran pelaku pasar modal global mengenai konsentrasi pasar yang berlebihan.

"Pasar masih bertahan. Semua orang jelas masih berharap ada semacam kesepakatan dengan Iran, tetapi sejauh ini semuanya tampak cukup stabil," kata wakil presiden manajemen portofolio di Mercer Advisors David Krakauer.

Investor disarankan untuk tetap cermat memperhatikan pergerakan dana asing serta rilis data ekonomi makro lanjutan.

"Ketika kenaikannya terlalu sempit seperti itu, kita perlu berhati-hati," ujarnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed