Investor Asing Lepas Saham BBCA Rp 265 Miliar Pada Sesi I
Investor asing mencatatkan transaksi jual bersih yang signifikan pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp 265,3 miliar di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan sesi I, Rabu (3/6/2026).
Aksi pelepasan aset internasional tersebut setara dengan 46,6 juta saham sehingga menekan harga saham BBCA turun 3 persen ke level Rp 5.650 per lembar saham.
Dilansir dari Investor Daily melalui Stockbit Sekuritas, tekanan jual ini memperpanjang tren negatif bank swasta terbesar nasional tersebut dengan penurunan 5,4 persen dalam sepekan terakhir dan anjlok hingga 30 persen sejak awal tahun.
Kondisi ini melanjutkan tren pekan sebelumnya ketika kelompok perbankan berkapitalisasi besar atau big banks mengalami tekanan jual yang merata akibat sentimen teknikal pasar modal.
Berdasarkan data perdagangan pekan lalu, BBCA mencatat penurunan 3,39 persen ke Rp 5.700 dengan net sell asing terbesar mencapai Rp 2,24 triliun.
Tekanan serupa melanda saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 3,28 persen ke Rp 2.950 dengan net sell Rp 855,37 miliar, serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menyusut 0,97 persen ke Rp 4.080 dengan net sell Rp 813,26 miilar.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga melemah 2,12 persen ke harga Rp 3.700 per lembar saham dengan nilai transaksi jual bersih asing sebesar Rp 201,46 miliar.
Meskipun terjadi pelemahan harga saham, profitabilitas keempat bank tersebut hingga April 2026 tetap kokoh dengan perolehan laba bersih BBCA sebesar Rp 20,81 triliun, BMRI Rp 18,05 triliun, BBRI Rp 15,89 triliun, dan BBNI Rp 7,29 triliun.
Analis Saham Trimegah Sekuritas Jonathan Gunawan menilai penurunan harga saham BBCA tidak mencerminkan perubahan fundamental perusahaan melainkan dipicu oleh penyesuaian portofolio investor institusi global.
"Kalau melihat momentumnya, tekanan terbesar kemungkinan berasal dari rebalancing MSCI. Karena Jumat kemarin adalah hari terakhir sebelum perubahan indeks efektif, maka banyak fund pasif harus menyesuaikan bobot portofolionya pada hari itu juga," kata Jonathan Gunawan, Analis Saham Trimegah Sekuritas.
Jonathan menjelaskan bahwa saham yang memiliki likuiditas tinggi dan berbobot besar seperti BBCA kerap menjadi sasaran utama transaksi dalam jumlah besar untuk mengatur komposisi portofolio global.
"BBCA itu sangat likuid dan bobotnya besar. Jadi ketika ada fund yang harus mengurangi eksposur Indonesia, saham seperti BBCA bisa ikut tertekan meskipun fundamentalnya tidak berubah. Ini yang membuat koreksinya terlihat dalam pada hari rebalancing," ujarnya.
Setelah proses penyesuaian indeks global tersebut selesai, perhatian pasar diperkirakan akan segera beralih kembali pada kinerja keuangan dan indikator profitabilitas internal emiten.
"Kalau BBCA bisa bertahan di atas Rp 5.700 dan foreign sell mulai mereda, peluang rebound ke area Rp 5.850 sampai Rp 6.000 cukup terbuka. Tetapi kalau tekanan asing masih besar, saham ini masih bisa bergerak volatil lebih dulu," kata Jonathan.
Selain faktor rebalancing eksternal, bank swasta terbesar ini juga memiliki sentimen internal berupa rencana pembagian dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun berjalan.
"Setelah tekanan MSCI selesai, investor akan kembali melihat kualitas emiten. Untuk BBCA, faktor yang akan diperhatikan adalah pertumbuhan laba, kualitas kredit, dana murah, dan dividen. Jadi kalau fundamental tetap kuat, koreksi akibat rebalancing bisa dilihat sebagai tekanan sementara," ujar Jonathan.
Namun, para pelaku pasar tetap diimbau untuk terus mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan serta laju arus modal dari investor internasional dalam jangka pendek.
"Worst case dari sisi teknis MSCI berpotensi sudah lewat. Selanjutnya, BBCA akan kembali diuji oleh fundamentalnya. Dan sejauh ini, fundamental BBCA masih menjadi salah satu yang paling solid di sektor perbankan," kata Jonathan.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan tingkat volatilitas harga saham kelompok perbankan raksasa ini akan mulai melandai seiring meredanya efek pengumuman indeks Morgan Stanley Capital International.
Nafan menyebutkan bahwa peluang kembalinya aksi beli oleh investor asing kini akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan indikator makroekonomi domestik.
Di sisi lain, MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan menurunkan target harga baru ke level Rp 8.700 dari proyeksi awal sebesar Rp 10.500.
Penyesuaian target tersebut merefleksikan estimasi valuasi Price to Book Value sebesar 3,4 kali untuk tahun 2026 dengan perkiraan laba bersih jangka panjang yang tetap tangguh disokong efisiensi serta permodalan yang kuat.
Meskipun demikian, margin bunga bersih perseroan diproyeksikan menghadapi tekanan jangka pendek di tengah risiko perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit serta pemburukan situasi ekonomi makro.
Nama Emiten Kode Saham Harga Terakhir Persentase Penurunan Bank Central Asia BBCA Rp 5.700 3,39% Bank Rakyat Indonesia BBRI Rp 2.950 3,28% Bank Negara Indonesia BBNI Rp 3.700 2,12% Bank Mandiri BMRI Rp 4.080 0,97%
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow