Iran Bersiap Gelar Operasi Ofensif Militer di Tengah Perang
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah melewati tahap pertahanan dan bersiap memasuki fase operasi ofensif di tengah ketegangan militer serta tekanan ekonomi yang meluas pada Kamis (10/9/2026).
Kesiapan strategi militer tersebut disampaikan oleh Komandan IRGC Tehran Raya, Brigadir Jenderal Hassan Hassanzadeh, dalam latihan tim operasi khusus yang dilaporkan oleh Mehr News Agency. Iran memperkuat kapasitas transportasi cepat serta membentuk unit khusus untuk mengamankan wilayah jalur energi vital di Selat Hormuz.
"Kami telah melewati tahap menghadapi ancaman secara defensif dan dalam posisi pertahanan. Hari ini kami berada di ambang operasi ofensif. Ini merupakan titik balik yang dalam waktu dekat akan dirasakan dampaknya oleh musuh," kata Hassanzadeh, dilansir dari kantor berita Mehr.
Dalam pidatonya, Hassanzadeh turut mengenang para komandan dan personel militer yang gugur dalam berbagai pertempuran terdahulu. Ia menegaskan bahwa stabilitas militer negara tidak semata-mata bertumpu pada penguasaan teknologi modern.
"Hari ini, di hadapan dunia, musuh-musuh tersebut terjebak dalam genggaman kuat angkatan laut dan pasukan kedirgantaraan IRGC serta Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, dan melewati malam dengan tekanan serta kecemasan," ujar Hassanzadeh.
Ia menambahkan bahwa kehendak rakyat Iran kini mengelola jalur transportasi energi vital di kawasan tersebut. Pembentukan pasukan khusus diharapkan mempercepat respons militer terhadap ancaman luar.
"Hari ini kami siap hadir dengan kecepatan tinggi di setiap wilayah negara dan menghancurkan musuh dalam kondisi apa pun. Kapasitas transportasi cepat serta operasi khusus telah dibangun melalui latihan berulang selama beberapa tahun terakhir," kata Hassanzadeh.
Menghadapi potensi gejolak di dalam negeri, pemerintah Iran menggelar latihan pertahanan sipil bertajuk Jān-Fadā-ye Irān yang melibatkan 313 ribu peserta dari berbagai sektor pemukiman dan lembaga publik.
"Selat Hormuz, kekuatan masyarakat, serta kesiapan penuh para pejuang merupakan bagian dari unsur kekuatan kami. Pada 27 September, dunia akan menyaksikan salah satu gambaran dari kekuatan tersebut," ujar Hassanzadeh.
Analis senior Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai dukungan pihak luar terhadap milisi etnis di kawasan perbatasan berpotensi menjadi ancaman serius bagi Teheran.
"Pemerintah Iran mungkin memandang setiap tanda peningkatan dukungan eksternal bagi kelompok militan etnis sebagai ancaman eksistensial kali ini, mengingat situasi perang yang sedang berlangsung," kata Vatanka kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa efektivitas gerakan bersenjata tersebut sangat bergantung pada strategi pembiayaan asing dalam kampanye militer hibrida.
"Menurut saya, kelompok militan etnis hanya akan menjadi faktor penentu [dalam perang] jika mereka menjadi bagian dari upaya lebih luas yang didanai pihak luar untuk menekan rezim di Teheran—sebuah skenario yang sudah diantisipasi oleh Republik Islam dan disebutnya sebagai kampanye perang hibrida yang dipimpin asing," kata Vatanka.
Pendiri Quincy Institute, Trita Parsi, memberikan pandangan terkait eskalasi konflik jika keterlibatan militer Amerika Serikat semakin meningkat.
"bisa menjadi masalah besar bagi Teheran jika perang dengan AS memanas setelah pemilu sela dan AS memutuskan, misalnya, untuk mengerahkan pasukan darat," ujar Parsi.
Parsi menilai peluang pemanfaatan faksi bersenjata internal tetap terbuka apabila opsi pengerahan darat diambil.
"Jika Trump memutuskan untuk mengambil risiko militer setelah pemilu sela—risiko yang sebelumnya ia hindari, seperti pengerahan pasukan darat—maka sangat mungkin AS akan berupaya memanfaatkan milisi bersenjata di dalam negeri tersebut," kata Parsi.
Dari pihak Washington, skenario tekanan ekonomi dan blokade pelabuhan terus digaungkan untuk memperlemah rezim Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyoroti lonjakan inflasi dan ketidakstabilan sektor keuangan Iran.
"Mungkin rakyat akan bangkit melawan," kata Bessent.
Selain ancaman eksternal, Kementerian Intelijen Iran meningkatkan penindakan internal dengan menangkap delapan orang terduga jaringan pro-monarki pada awal September, melanjutkan penangkapan 111 orang dari sel serupa pada Maret lalu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow