Iran Tetapkan Zona Terbatas Baru di Selat Hormuz
Pemerintah Iran bakal menetapkan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz dan menerapkan sanksi tegas bagi setiap kapal yang memasukinya. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengonfirmasi langkah strategis tersebut pada Minggu (6/9/2026).
Zona terbatas tersebut dirancang membentang dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat hingga ke sejumlah kawasan di Teluk Persia. Pengetatan ini diprediksi memperluas eskalasi konflik perdagangan energi global di jalur vital tersebut.
Dalam keterangan resminya kepada media pemerintah Press TV, Mohsen Rezaei memaparkan ketegasan otoritas Teheran terhadap pembatasan alur pelayaran tersebut.
"Setiap kapal yang memasuki zona baru ini akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi," kata Rezaei.
Rezaei menambahkan bahwa pihaknya bersiap menandatangani kesepakatan bersama Oman terkait koridor pelayaran baru di Selat Hormuz. Seluruh titik masuk dan keluar koridor navigasi tersebut nantinya berada di bawah kendali penuh pihak Iran.
"Amerika berusaha menyelundupkan lima hingga enam kapal dengan biaya besar, tetapi kapal-kapal ini biasanya diserang," kata Rezaei.
Ia menegaskan bahwa Iran sengaja memilih untuk tidak menenggelamkan kapal-kapal muatan minyak demi mencegah kerusakan lingkungan kawasan. Rezaei turut menyebut klaim Presiden AS Donald Trump mengenai Selat Hormuz yang masih terbuka sebagai kebohongan besar.
"Untuk pertama kalinya, kami menguji rudal antikapal kami di atas kapal perang Amerika," kata Rezaei.
Uji coba rudal antikapal baru tersebut diklaim berlangsung di atas kapal Angkatan Laut Amerika Serikat sekitar 48 jam sebelum pengumuman. Uji coba itu dilaporkan membuat armada militer AS terdesak melarikan diri dari lokasi kejadian.
"Rudal khusus ini membuat Amerika seperti berada di neraka, dan mereka melarikan diri," kata Rezaei.
Peningkatan bentrokan militer turut memicu peringatan keras dari Kepala Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada pidato resminya, Minggu (6/9/2026). Ghalibaf menegaskan era respons proporsional dari Teheran telah berakhir.
"Setiap agresi terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan menerima tanggapan yang lebih cepat, lebih intens, dan lebih menyakitkan," kata Ghalibaf.
Di sisi lain, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengonfirmasi penambahan ranjau laut baru di alur perairan selatan Selat Hormuz melalui media sosial X.
"Dalam operasi tadi malam, lebih banyak ranjau laut telah ditebar di sepanjang rute tidak resmi di sebelah selatan Selat Hormuz," kata Zolfaghari.
Penyiapan ranjau dan penutupan jalur laut ini mendapat perhatian khusus dari kalangan pengamat internasional. Mantan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel menilai tidak ada negara adidaya yang sanggup memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz.
"Namun, yang menarik adalah kita kini melihat bagaimana konflik dan perang di Iran membuat dua negara adidaya yang menganggap dirinya demikian, yaitu Amerika Serikat dan China, justru tampak tidak berdaya," kata Gabriel kepada majalah Der Spiegel.
Gabriel menyoroti ketidakmampuan diplomasi maupun kekuatan militer Washington dan Beijing dalam memulihkan arus pasokan energi global di kawasan tersebut.
"China juga, yang merupakan sahabat Iran, tidak mampu menghentikan situasi ini, meskipun kehilangan 50 persen impor minyaknya. Tampaknya negara itu pun tidak memiliki pengaruh terhadap Iran maupun pembukaan kembali Selat Hormuz," kata Gabriel.
Langkah tegas Iran ini merespons rangkaian serangan udara pasukan AS yang menghantam peluncur roket di Pulau Larak serta tiga kapal tanker minyak Iran. Sebagai imbalan, Pusat Komando AS (CENTCOM) mengonfirmasi ancaman kerugian ekonomi balasan atas setiap serangan yang menargetkan kapal-kapal komersial Amerika Serikat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow