Iran Serang Fasilitas Intelijen AS di Timur Tengah, Rugi Miliaran Dolar
Serangan rudal dan drone yang dilakukan Iran berhasil merusak fasilitas intelijen dan peralatan pengawasan Amerika Serikat di Timur Tengah, menyebabkan kerugian miliaran dolar AS, menurut laporan NBC News pada 26 Agustus 2026.
Kerusakan ini melibatkan bangunan dan alat pengumpulan informasi yang digunakan oleh CIA dan badan intelijen lain, dengan skala kerusakan lebih besar dari serangan sebelumnya. Perbaikan dan penggantian diperkirakan memerlukan biaya miliaran dolar, sebagaimana dilaporkan oleh sejumlah sumber kepada NBC News.
Ketegangan antara AS dan Iran berlanjut sejak 28 Februari 2026, saat AS dan Israel melancarkan serangan ke target di Iran, yang kemudian dibalas oleh Iran. Meskipun ada nota kesepahaman damai yang ditandatangani pada Juni 2026, perundingan mandek setelah perselisihan di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan sanksi baru terhadap Iran dan entitas global yang berbisnis dengan negara itu sebagai upaya meningkatkan tekanan ekonomi, menurut laporan CNN Indonesia.
Persediaan rudal AS menipis akibat perang dengan Iran, sehingga operasi militer besar ditunda. Pejabat militer memperingatkan bahwa serangan besar bisa menguras amunisi dan rudal pertahanan, yang penting untuk melindungi pangkalan di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, lapor Warta Ekonomi.
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menyatakan operasi militer besar masih memungkinkan, tetapi berisiko menghabiskan persediaan amunisi pertahanan udara Komando Pusat AS. Kondisi ini membuat AS lebih mengandalkan tekanan ekonomi untuk mengakhiri konflik.
Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, mengatakan langkah ekonomi diambil karena kekuatan militer gagal memberikan kemenangan cepat yang diharapkan. Direktur Kebijakan National Iranian American Council, Ryan Costello, menilai perang ini sebagai kesalahan yang membawa malapetaka, meski kekuatan militer AS jauh lebih besar.
Center for Strategic and International Studies menemukan penurunan stok rudal pencegat AS dan memperkirakan Pentagon membutuhkan tiga tahun untuk mengembalikan persediaan ke level sebelum perang. Gedung Putih membantah kekurangan ini, tetapi analis menganggapnya nyata dan menyebabkan pengalihan sumber daya dari kawasan Indo-Pasifik.
Pensiunan Jenderal AS Barry R McCaffrey menulis bahwa Angkatan Bersenjata AS mungkin kehilangan akses permanen ke 15 pangkalan di Teluk Persia. Kepala NIAC Jamal Abdi menilai AS meredakan intensitas konflik dengan mengandalkan instrumen ekonomi sebagai strategi menurunkan eskalasi tanpa meninggalkan tekanan terhadap Iran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow