Perang AS-Iran Guncang Arsitektur Keamanan Negara Teluk

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran pada 20 Agustus 2026 telah merusak tatanan keamanan di Timur Tengah setelah kegagalan Washington mengamankan Selat Hormuz serta melindungi pangkalan militernya dan wilayah sekutu Arab dari serangan balasan Teheran.

Analisis majalah Foreign Affairs menyebutkan bahwa penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap sedikitnya 20 pangkalan militer Amerika di delapan negara kawasan membuktikan keterbatasan sistem pertahanan Washington. Situasi tersebut memicu krisis kepercayaan di antara negara-negara Arab Teluk terhadap jaminan keamanan yang selama ini diberikan Amerika Serikat.

Surat kabar The Washington Post melaporkan bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) kini tengah mengevaluasi ulang jejak militernya di kawasan tersebut. Berdasarkan keterangan delapan sumber pejabat, opsi yang dipertimbangkan mencakup pengurangan pasukan di Teluk serta pembatalan rekonstruksi pangkalan-pangkalan yang rusak akibat tembakan rudal dan pesawat nirawak Iran.

Mantan diplomat Amerika Serikat Michael Ratney mengusulkan pemindahan pasukan dan peralatan militer ke wilayah yang lebih jauh ke barat seperti Yordania, Israel, atau pesisir Laut Merah Arab Saudi. Namun, potensi ancaman tetap ada mengingat jangkauan serangan balik Iran yang terbukti mampu mencapai sasaran di wilayah Yordania dan Israel.

Keadaan di lapangan turut disuarakan oleh otoritas militer Iran. Komandan Korps Nainawa Provinsi Golestan, Brigadir Jenderal Hosseini, menilai perkembangan konfrontasi ini telah menelanjangi kapasitas tempur Washington yang selama ini diklaim unggul.

"Perang ini memperlihatkan bahwa klaim Amerika tentang kekuatan militernya tidak lagi seperti dahulu. Apa yang selama ini seharusnya kita lihat dari kekuatan militer negara itu kini terlihat jelas di kawasan," kata Hosseini saat menghadiri acara peringatan di Bandar Torkaman, dilansir Fars News Agency.

Kegagalan strategi militer pihak lawan dinilai Hosseini membuat Washington kesulitan menemukan jalan keluar dari konflik yang dimulainya sendiri.

"Amerika selama ini mengatakan berbagai pilihan tersedia di atas meja, salah satunya pilihan militer. Namun sekarang kartu Amerika dalam bidang militer telah terbuka dan kekuatan sebenarnya telah terlihat oleh dunia," ujar Hosseini.

Hosseini menekankan bahwa soliditas domestik dan dukungan rakyat kepada angkatan bersenjata menjadi kunci utama daya tahan Iran menghadapi kekuatan adidaya.

"Menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Islam dan Iran tercinta merupakan kewajiban kita. Persatuan antarmahzab dan antarsuku harus dipertahankan, sekaligus diperkuat bersama negara-negara Islam," ujar Hosseini.

Ia menepis anggapan bahwa kematian para tokoh perjuangan akan melemahkan posisi kepemimpinan politik dan spiritual negara.

"Bangsa Iran dengan keteguhan dan dukungan terhadap angkatan bersenjata telah memberikan pelajaran yang tidak terlupakan kepada negara-negara adidaya. Kami bangga kepada setiap orang dari bangsa yang luar biasa ini," kata Hosseini.

Ia memuji keterlibatan seluruh elemen masyarakat yang dinilainya tetap bersatu di bawah naungan negara.

"Iran adalah titik temu seluruh rakyat, suku dan mazhab. Siapa pun yang hidup di tanah dan wilayah ini mencintai Iran," kata Hosseini.

Pergeseran peta keamanan kawasan juga mendorong perubahan strategi di Arab Saudi. Mengutip analisis Mehr News Agency, meningkatnya serangan rudal dan pesawat nirawak Ansarullah dari Yaman ke wilayah Saudi serta Laut Merah mendorong penandatanganan Kesepakatan Mekah antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.

Pakta pertahanan tiga negara tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya. Langkah ini menandai upaya Riyadh memperluas jaringan keamanan regional guna mengurangi ketergantungan tunggal pada Amerika Serikat dalam menghadapi kekuatan Ansarullah.

Di sisi lain, perang AS-Iran berdampak langsung pada kondisi internal negara-negara Teluk. Laporan Fars News Agency menunjukkan terjadinya peningkatan pengawasan dan tindakan keamanan terhadap komunitas Syiah di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab atas dalih penanganan spionase.

Di Bahrain, tempat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS berada, aparat melakukan penangkapan terhadap warga, ulama, hingga anak-anak, serta membatasi ritual keagamaan Muharram dan Asyura. Sementara di Uni Emirat Arab, pengawasan mulai merambah ke ruang-ruang privat dan pertemuan keagamaan di rumah tinggal warga.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed