IRGC Serang Dua Tanker di Selat Hormuz dan Pangkalan AS Kuwait

Smallest Font
Largest Font

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang dua kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz di bawah pengawalan militer Amerika Serikat pada Jumat (31/7/2026). Langkah ketat Teheran di jalur perairan strategis tersebut diambil seiring meningkatnya eskalasi konflik energi dan militer dengan Washington.

Aksi pencegatan armada laut tersebut memaksa sejumlah kapal tanker berbalik arah setelah menolak mekanisme navigasi yang ditetapkan Teheran di dekat garis pantainya. Pihak IRGC mengonfirmasi tindakan tegas armada militernya terhadap kapal-kapal yang mengabaikan ketentuan transit wilayah perairan tersebut.

"Kapal-kapal tanker minyak yang tidak mematuhi aturan... telah diserang dan dipaksa berhenti, sementara empat kapal tanker minyak lainnya dengan cepat mengubah arah dan kembali ke posisi mereka sebelumnya," kata IRGC dalam pernyataannya.

Menurut klaim IRGC, kapal-kapal tanker yang melintas tersebut berupaya melewati jalur alternatif bentukan AS. Pihak Iran menilai lalu lintas navigasi tersebut melepaskan diri dari ketentuan resmi yang mewajibkan kapal mengantongi izin serta membayar biaya transit.

Langkah armada maritim Iran ini terjadi setelah kapal tanker melintasi perairan melalui "rute yang tidak dideklarasikan" yang didukung oleh militer AS.

Selain ketegangan di laut, militer Iran juga melancarkan serangan drone yang menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah Kuwait pada hari yang sama. Serangan udara itu diarahkan langsung ke instalasi strategis militer AS.

Pihak militer Iran menyatakan bahwa serangan udara mereka menyasar "tempat perlindungan pesawat tempur, sistem komunikasi satelit, dan fasilitas penyimpanan peralatan di Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber di Kuwait".

Aksi pembalasan udara militer Iran di pangkalan AS tersebut dipicu oleh ketegangan bersenjata yang membakar kawasan perbatasan dalam beberapa bulan terakhir.

Militer Iran menegaskan serangan balasan dilakukan "sebagai tanggapan atas agresi baru-baru ini oleh militer AS yang teroris terhadap negara kami dan serangan brutalnya terhadap sebuah rumah tinggal di Pulau Qeshm".

Di tengah konflik maritim ini, Oman sempat mengajukan usulan mekanisme regional pengelolaan Selat Hormuz berkonsep tarif sukarela yang meniru sistem Selat Malaka. Namun, usulan tersebut ditolak Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi karena dianggap tidak menjamin keamanan Teheran.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) turut menegaskan bahwa usulan terkait jalur lalu lintas perairan internasional harus melalui mekanisme peninjauan resmi negara anggota.

"Setiap usulan untuk rute pelayaran baru atau langkah-langkah manajemen lalu lintas harus diajukan ke IMO untuk dipertimbangkan oleh negara-negara anggota," kata seorang juru bicara IMO.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed