Israel Serang Pangkalan Udara Suriah Usai Tuduh Turki Posisikan Militer
Militer Israel melancarkan serangan udara terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah, pada pertengahan Agustus 2026 setelah menuduh Turki berencana pangkas ancaman dengan menempatkan kekuatan militer di fasilitas tersebut. Jet tempur Israel memborbardir landasan pacu pangkalan udara tersebut sebanyak delapan kali hingga mengakibatkan kerusakan infrastruktur. Pemerintah Tel Aviv mengklaim tindakan ini diambil guna mencegah pelanggaran kesepakatan status quo keamanan di kawasan batas Suriah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan peringatan keras agar penempatan pasukan asing di dekat perbatasan tidak dilanjutkan.
"Kami tidak akan mentoleransi upaya militer Turki untuk memperkuat posisi mereka ke arah selatan, karena itu mengancam kami," kata Netanyahu.
Pernyataan ini mengonfirmasi keterlibatan Israel dalam serangan udara yang menghantam wilayah utara Suriah dekat Aleppo tersebut. "Tampaknya mereka tidak mendengarnya, jadi kami memastikan mereka memahaminya dengan lebih jelas," tegas Netanyahu.
Ia menuding pihak Suriah dan Turki mengabaikan pesan awal yang disampaikan oleh otoritas militer Israel. "Pesan kami sangat jelas, jangan lakukan itu. Saya rasa mereka tidak sepenuhnya memahami pesan tersebut," kata Netanyahu.
Menanggapi serangan tersebut, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyampaikan tuduhan langsung terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait kebijakan luar negerinya di Suriah. "Israel tidak akan membiarkan pihak mana pun mengancam keamanannya," tegas Katz. Katz juga menyebut tindakan pemerintah Ankara berisiko memicu ketegangan yang lebih luas di wilayah perbatasan.
"Lebih baik bagi Erdogan untuk terus menyampaikan pidato kosong dan penuh delusi yang menentang Israel di parlemen Turki, daripada menguji tekad Israel untuk membela diri," sebut Katz.
Katz memprotes langkah Turki yang dinilai terlalu jauh mencampuri urusan pertahanan di kawasan Suriah pasca-runtuhnya rezim lama. "Israel tidak akan mengizinkan pihak mana pun yang mengancam keamanan kami," tulis Katz. Pihak militer Turki membantah keras tuduhan penempatan pasukan di fasilitas militer Suriah yang diserang tersebut. Kementerian Pertahanan Turki menegaskan tidak ada personelnya yang berada di pangkalan saat pemboman terjadi, melainkan hanya kunjungan teknis guna membantu pemulihan infrastruktur Suriah.
"Kami menyatakan bahwa tidak ada delegasi militer Turki di pangkalan udara Abu al-Duhur, baik sebelum atau selama serangan yang dilancarkan Israel terhadap pangkalan tersebut di Suriah," tegas seorang pejabat Kementerian Pertahanan Turki.
Ankara menilai tindakan sepihak militer Israel melanggar kedaulatan negara tetangga dan merusak stabilitas yang sedang dibangun. "Untuk melegitimasi serangan udara ilegal Israel yang menargetkan kedaulatan dan integritas teritorial Suriah," tegas pihak kementerian.
Pemerintah Turki juga mengkritik keras bombardir tersebut karena dinilai membahayakan proses deeskalasi di kawasan. "Dalam hal ini, upaya dan kontribusi kami untuk melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah akan terus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan tujuan membantu menciptakan kondisi yang aman dan stabil," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Turki.
Dari pihak Damaskus, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani mengonfirmasi bahwa pangkalan udara yang diserang sebenarnya dalam kondisi tidak beroperasi sejak 2012. Kunjungan perwira Turki sebelumnya diakuinya hanya sebatas kerja sama pelatihan militer, bukan pembentukan markas permanen. "Tidak ada niat untuk mendirikan pangkalan militer Turki ataupun membangun markas militer Turki secara permanen bahkan sampai menempatkan pasukan Turki di lokasi tersebut," ujar Al-Shaibani.
Pemerintah Amerika Serikat turut mengkritik operasi militer Israel di Idlib tersebut. Utusan Khusus AS untuk Suriah Tom Barrack mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi.
"Sebuah eskalasi yang tidak perlu," paparnya.
Tom Barrack menilai aksi serangan udara mendadak justru memperkeruh proses stabilisasi politik di Suriah. "Serangan tersebut merupakan eskalasi yang tidak perlu dan tidak membantu menciptakan stabilitas kawasan," tulis Barrack. Ia meminta setiap pihak terkait agar segera menghentikan gesekan bersenjata di wilayah Suriah.
"Kami mendorong semua pihak untuk mengutamakan dialog yang rasional daripada insiden militer lebih lanjut," katanya.
Analis geopolitik dari Katulis Institute, Brian Katulis, melihat ada perbedaan mendasar antara kepemimpinan Washington dan Tel Aviv dalam menyikapi situasi geopolitik kawasan saat ini. "Tujuan utama kebijakan dan politik Netanyahu berpusat pada penunjukan bahwa ia dapat melindungi warga Israel sekali lagi, oleh karena itu ia terus melakukan kampanye militer agresif di berbagai lini yang menarik bagi anggota koalisi sayap kanannya yang ekstrem," tutur Katulis.
Menurutnya, posisi domestik yang berbeda membuat langkah militer kedua negara tidak lagi sejalan. "Trump, sebaliknya, menghadapi publik Amerika yang lelah perang dan merasakan penderitaan ekonomi, sehingga Trump mencari deeskalasi, arah yang berlawanan dengan arah Netanyahu," imbuhnya.
Mantan perwira intelijen Turki, Ali Burak Daricili, menilai manuver pertahanan yang dibangun Turki bersama negara kawasan lain merupakan bentuk perimbangan terhadap dominasi Israel. "Penyelarasan strategis yang lebih erat antara Türkiye, Arab Saudi, dan Pakistan dapat membantu menyeimbangkan tindakan regional Israel yang semakin tidak terkendali," ucap Daricili. Ia menambahkan bahwa kerja sama regional tersebut juga berdampak pada konstelasi kekuatan di Timur Tengah.
"Blok strategis Sunni semacam itu dapat membatasi kemampuan Iran untuk membangun kembali pengaruhnya di Timur Tengah," tambahnya.
Presiden AS Donald Trump memberikan apresiasi atas terbentuknya aliansi pertahanan kawasan baru tersebut. "Bagaimana Timur Tengah bersatu dan bagaimana negara-negara akhirnya dapat membela diri dengan cara yang lebih bermakna," puji Trump. Sementara itu, Akademisi Universitas Tel Aviv, Eyal Zisser, mengamati bahwa doktrin militer Israel saat ini sangat responsif dan cenderung memilih pendekatan ofensif.
"Pemerintah ini percaya bahwa hal terbaik yang harus dilakukan adalah selalu memukul tetanggamu," kata Zisser.
Hingga kini, situasi di kawasan perbatasan Suriah utara masih dalam pengawasan ketat pasukan militer internasional guna mencegah eskalasi susulan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow