Jessica Pegula Tembus Perempat Final US Open 2026

Smallest Font
Largest Font

Petenis putri Amerika Serikat Jessica Pegula melangkah ke babak perempat final turnamen US Open 2026 di Arthur Ashe Stadium pada 8 September 2026. Pegula dijadwalkan menghadapi rekan senegaranya, Emma Navarro, yang ditempatkan sebagai unggulan ke-26.

Pegula tampil dominan sepanjang turnamen dengan mencatatkan kemenangan dua set langsung atas Elena Gabriela Ruse, Sofia Kenin, dan Sorana Cirstea. Satu-satunya kehilangan set dialami unggulan ketiga tersebut saat menang tiga set ketat melawan Leylah Fernandez pada babak ketiga.

Pegula memegang rekor pertemuan unggul 4-0 atas Navarro, termasuk kemenangan set langsung di Cincinnati Open beberapa pekan sebelumnya. Rekor impresif tersebut menempatkan Pegula kembali berburu gelar Grand Slam pertamanya setelah menjadi runner-up pada edisi 2024.

Performa stabil di lapangan diimbangi oleh perubahan taktik di bawah arahan tim pelatih Mark Knowles dan Mark Merklein. Knowles memfokuskan strategi pada penyederhanaan informasi saat momen krusial serta pembenahan teknik servis yang meningkatkan persentase kemenangan game servis Pegula hingga 80 persen.

Keberhasilan di lapangan tenis telah memberikan pendapatan hadiah uang karier bagi Pegula melebihi 20 juta dolar AS. Pada musim 2026, ia tercatat telah mengumpulkan hadiah uang lebih dari 4 juta dolar AS sebelum berlaga di US Open.

Di luar pendapatan turnamen, Pegula menjalin kemitraan komersial dengan merek-merek besar seperti Adidas, Yonex, De Bethune, Ready Nutrition, dan Stella Artois. Kekayaan pribadinya diperkirakan mencapai 15 juta hingga 20 juta dolar AS, terpisah dari kekayaan keluarganya.

Orang tua Pegula, Terry dan Kim Pegula, merupakan pemilik klub NFL Buffalo Bills dan klub NHL Buffalo Sabres dengan total kekayaan keluarga mencapai 11,8 miliar dolar AS menurut Forbes. Terry membangun bisnis energi East Resources dari pinjaman 7.500 dolar AS pada 1983 sebelum menjual sebagian besar asetnya ke Royal Dutch Shell seharga 4,7 miliar dolar AS pada 2010.

Pegula menegaskan bahwa latar belakang keluarganya tidak dilalui dalam kemewahan ekstrem sejak kecil karena bisnis ayahnya baru berkembang pesat saat usianya menginjak remaja.

"Hari ini, ibu saya masih dalam masa pemulihan dan meskipun jawabannya selalu sama setiap kali ada yang bertanya, itu benar, dia membaik setiap hari. Dia menghadapi afasia ekspresif yang signifikan dan masalah ingatan yang signifikan. Dia bisa membaca, menulis, dan memahami dengan cukup baik, tetapi dia kesulitan menemukan kata-kata untuk merespons. Sulit untuk dihadapai dan membutuhkan banyak kesabaran untuk berkomunikasi dengannya, tetapi saya bersyukur kepada Tuhan setiap hari karena kami masih bisa berkomunikasi dengannya sama sekali," tulis Pegula dalam unggahan di The Players' Tribune.

Kondisi kesehatan sang ibu pasca henti jantung pada Juni 2022 sempat memengaruhi fokus kariernya di lapangan hijau.

"Tiba-tiba, saya berubah dari 'Mari rayakan posisi 10 besar dunia' menjadi 'Apakah saya perlu mulai memikirkan karier saya setelah tenis jauh lebih cepat dari yang saya bayangkan...'" ujar Pegula.

Meskipun Terry dan Kim Pegula jarang hadir di kotak pemain karena masalah kesehatan dan rasa gugup, keduanya menyaksikan setiap pertandingan dari rumah. Kotak pemain Pegula di US Open diisi oleh tim pelatih, fisioterapis Seba, pelatih kebugaran John, suaminya Taylor Gahagen, serta saudarinya Kelly Pegula.

"Saya selalu berusaha membawa diri saya sebagai orang biasa karena bagi saya begitulah diri saya," kata Pegula kepada The Times.

Pegula menambahkan bahwa dirinya tetap menyadari hak istimewa yang dimilikinya selama tumbuh dewasa.

"Saya pasti sadar bahwa saya sangat beruntung dan memiliki banyak kesempatan baik, dan saya tidak ingin menyia-nyiakannya," kata Pegula.

Etos kerja keluarga menjadi nilai utama yang ditanamkan oleh sang ayah sejak ia memulai olahraga tenis pada usia 7 tahun.

"Ayah saya sangat pekerja keras," lanjut Pegula.

Pegula menjelaskan lebih lanjut mengenai prinsip dasar yang diterapkan dalam keluarganya.

"Dia tumbuh tanpa memiliki apa-apa dan membangun jalannya sendiri, dan pola pikir itu ditanamkan dalam keluarga kami sejak usia muda," kata Pegula.

Persepsi publik mengenai kemudahan kariernya juga diluruskan oleh Pegula terkait garis waktu kesuksesan finansial ayahnya.

"Beberapa orang mendapat gambaran bahwa semuanya sangat mudah bagi saya karena ayah saya sangat kaya, tetapi hal itu tidak terjadi sampai saya berusia 17 atau 18 tahun," tutur Pegula.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed