Keluarga Temukan Kejanggalan Kematian Asisten Rumah Tangga Febrie Adriansyah

Smallest Font
Largest Font

Keluarga Sutrimo, pria asal Banyumas yang bekerja pada mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah, mencurigai penyebab kematian almarhum setelah ditemukan tewas di depan sebuah klinik kecantikan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Juli 2026.

Kecurigaan timbul karena sejumlah barang pribadi milik korban belum dikembalikan dan adanya temuan dokumen kronologi yang menyebutkan kondisi jenazah berbusa. Kasus dugaan kejanggalan kematian ini kini dalam penanganan penyidikan Polda Metro Jaya.

Kuasa hukum keluarga korban, Aan Rohaeni, menyampaikan bahwa almarhum telah lama bekerja mengurus kediaman serta proyek bangunan milik Febrie Adriansyah.

"Oh, betul. Kalau itu betul. Cuma tentang apakah dia karumga atau bukan, keluarga nggak ada yang tahu," kata Aan.

Ia menambahkan bahwa keahlian awal almarhum sebagai tukang bangunan menjadi jalan masuk untuk dipercaya mengurus rumah tangga pejabat tersebut.

"Pak Sutrimo itu memang pekerjaan dulunya awalnya adalah tukang. Memang membiayai bangunan dan lain-lain. Setahu keluarga Pak Sutrimo ini ya bangun rumah Pak Febrie," jelas Aan.

Aan memaparkan bahwa tugas harian korban tidak hanya terbatas pada perbaikan fisik rumah, tetapi juga mencakup pembayaran tagihan bulanan.

"Sehari-hari pekerjaan Pak Sutrimo itu macam-macam. Kadangkala disuruh ngerjain proyek. Kalau tidak keluar, ya Pak Sutrimo di rumah ngurusin rumah-rumahnya Pak Febrie," ungkap Aan.

Penjelasan tersebut menguatkan posisi almarhum sebagai salah satu orang kepercayaan di kediaman mantan pejabat Kejaksaan Agung itu.

"Misalnya benerin apa segala macam. Termasuk disuruh bayar listrik, bayar apa. Jadi salah satu kepercayaannya beliau," kata Aan.

Di sisi lain, Aan mengungkapkan keraguan pihak keluarga saat menerima jenazah korban yang diantarkan langsung ke rumah duka.

"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan.

Ia menyebutkan bahwa kabar awal yang diterima pihak keluarga berkaitan dengan riwayat kesehatan gula darah almarhum.

"Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujar Aan.

Rasa curiga mulai muncul lantaran barang-barang pribadi milik almarhum tidak kunjung diserahkan kembali kepada pihak keluarga.

"Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ucap Aan.

Pihak keluarga sempat merasa tertekan untuk menempuh jalur hukum mengingat sosok majikan almarhum merupakan pejabat publik.

"Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata Aan.

Keraguan keluarga makin membesar akibat ponsel serta dompet milik almarhum yang hilang tidak kunjung diserahkan.

"Setelah kita lihat belakangan, HP enggak pulang-pulang. Dompet enggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan.

Masalah keuangan juga menjadi kendala utama bagi keluarga almarhum jika harus membiayai proses hukum yang panjang.

"Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang.

Sementara mereka itu untuk hidup saja susah. Kondisi emosional keluarga, terutama ibu Sutrimo, juga menjadi salah satu pertimbangan," ujar Aan.

Keluarga juga mendapati adanya informasi tersembunyi mengenai kondisi fisik korban sebelum meninggal dunia dari sebuah dokumen.

"Saya kaget, enggak ada loh. Kita enggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan," kata Aan.

Dokumen riwayat kronologi tersebut diduga sengaja ditutupi oleh pihak pengantar jenazah saat tiba di rumah duka.

"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan.

Temuan tanda tangan pada berkas dokumen tersebut kemudian dibandingkan dengan berkas lain yang dipegang oleh keluarga.

"Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan yang ada di kami," ungkap Aan.

Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat diminta segera kembali ke Jakarta oleh atasannya usai adanya penggeledahan rumah.

"Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya," ujar Aan.

Dalam percakapan telepon, Febrie membiayai kepulangan korban ke Jakarta dan mengirimkan pengawal untuk mendampinginya.

"Nah dia pulang memang ditelepon sama Pak Febrie. Pengakuan dari salah satu saksi, bosnya telepon. Intinya, 'kamu pulang saja (ke Jakarta), karena aku ini lagi kalau mau cerita sama siapa' gitu.

Sutrimo menyampaikan, 'saya nggak punya uang, Bos'. Lalu dijawab tiket sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, dan nanti kamu ditemani dua orang dari Stasiun Purwokerto," ujar Aan.

Perjalanan korban kembali menuju Jakarta diperkirakan terjadi dalam kurun waktu pertengahan Juli 2026.

"Pokoknya sebelum tanggal 19, 18 atau 19, saya enggak pasti karena saya lihat WA-nya mulai 19," jelas Aan.

Komunikasi tertulis korban dengan keluarga melalui pesan singkat masih berjalan intensif beberapa hari sebelum peristiwa kematian.

"Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain," tutur Aan.

Pesan terakhir yang dikirimkan korban berisi dokumen foto makanan pada dini hari tanggal 23 Juli 2026.

"Terakhir (komunikasi) itu dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juli. Dia terakhir jam 03.18 itu ngirim foto makanan," kata Aan.

Foto yang dikirimkan memperlihatkan hidangan santap malam berupa ayam goreng lengkap dengan lalapan.

"Makanannya ayam goreng, ayam goreng Lamongan, piringnya hijau. Jadi ayam goreng, lalapan, kayak Lamongan gitu," jelas Aan.

Beberapa saat kemudian, korban kembali mengirimkan foto keberadaannya di sekitar rumah dinas majikannya.

"Jam 04.00 dia juga ngirim foto dia lagi duduk di seberang rumah utamanya Pak Febrie," ujar Aan.

Pesan adiknya yang dikirimkan pagi hari hanya berstatus terbaca tanpa adanya balasan dari korban.

"Jam enam itu baru sadar belakangan. Saya bilang ini dibaca ya? Iya dibaca, langsung. Tapi memang, kenapa nggak balas?" kata Aan.

Penyelidikan terkait penelusuran fakta kematian dan pengantaran jenazah korban kini sedang berjalan di Polda Metro Jaya dilansir dari Tempo, detikcom, dan CNN Indonesia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed