Kemenkes dan Pakar Soroti Lonjakan Tren Bunuh Diri Serta Self-Harm di Usia Muda

Smallest Font
Largest Font

Kemunculan tren perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) pada usia yang semakin muda memicu perhatian serius terhadap kasus bunuh diri di Indonesia, seperti dilansir dari Detik Health. Data layanan konsultasi kesehatan jiwa mengindikasikan bahwa anak-anak usia sekolah dasar telah mulai mengakses bantuan profesional.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi menyatakan bahwa data rekapitulasi kasus bunuh diri dari kepolisian masih membutuhkan verifikasi ulang akibat adanya perbedaan angka.

"Jadi data kasus bunuh diri ini kan kita ngambil dari polisi. Jadi kemarin kami coba rekap ternyata masih ada selisih. Jadi saya harus klarifikasi lagi ke kepolisian apakah angka ini benar," tutur Imran.

Pencatatan statistik menunjukkan bahwa insiden bunuh diri di tanah air didominasi oleh kelompok usia muda. Fenomena ini berbeda dengan pola global yang umumnya mencatatkan prevalensi lebih tinggi pada kelompok lanjut usia.

Perasaan terasing atau kesepian menjadi salah satu faktor risiko utama yang memperburuk kondisi kesehatan mental seseorang.

"Loneliness itu juga kills. Dan ini sekarang jadi kalau saya bilang wabah, karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing," kata Imran.

Psikolog klinis Annelia Sari Sani mengungkapkan bahwa platform konsultasi gratis Healing 119.id mulai menerima jangkauan dari kelompok anak-anak di bawah umur.

"Yang mengakses Healing 119 itu mulai dari umur 8-10 tahun," ujar Annelia.

Keluhan utama yang kerap disampaikan oleh para pengguna muda tersebut adalah rasa kesepian, dengan titik puncak laporan terjadi pada rentang usia 12 hingga 14 tahun.

"Terutama masalahnya kesepian. Biasanya saat ditanya kamu ada sama siapa? Nggak ada. Dia sendirian," ungkap Annelia.

Lonjakan permintaan konsultasi memaksa para tenaga ahli memberlakukan sistem triase serta pembatasan durasi layanan. Dalam satu sesi shift tiga jam, terdapat sekitar 500 hingga 600 pengakses yang ditangani oleh lima orang psikolog bertugas.

Setiap sesi konsultasi dibatasi paling lama 30 menit. Klien yang tidak menunjukkan indikasi krisis psikologis darurat akan dirujuk ke fasilitas kesehatan lain yang sesuai.

Disparitas Gender dalam Akses Bantuan dan Angka Kematian

Data Kementerian Kesehatan memperlihatkan ketimpangan antara demografi pencari bantuan mental dengan korban meninggal akibat tindakan bunuh diri.

Sekitar 70 persen pengakses layanan Healing 119.id merupakan kelompok perempuan. Sebaliknya, angka kematian tertinggi akibat bunuh diri justru didominasi oleh kelompok laki-laki.

"Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak," jelas Imran.

Kondisi ini selaras dengan tren global yang menunjukkan kecenderungan pria memiliki tingkat fatalitas bunuh diri lebih tinggi dibanding wanita.

Peneliti dari Universitas Kanazawa Jepang Sandersan Onie turut menyoroti pergeseran usia pelaku tindakan menyakiti diri sendiri di tingkat global.

"Tren yang kita sedang lihat sebenarnya di banyak sekali negara di seluruh dunia adalah yang lakukan self-harm semakin lama semakin muda. Dan terutama kepada kaum perempuan, young girls," ujar Onie.

Onie menilai pengamatan mendalam diperlukan untuk mengidentifikasi apakah pola serupa terjadi secara meluas di Indonesia.

Dukungan Keluarga Jadi Faktor Pemicu Utama

Imran menerangkan bahwa ketiadaan sistem pendukung dari lingkungan keluarga menjadi pemicu paling dominan pada kasus percobaan bunuh diri, disusul oleh perundungan di lingkungan pertemanan dan masalah finansial.

"Pertama adalah dukungan keluarga, jadi masalah support system-nya. Kemudian dari pertemanan, bullying itu juga ada. Kemudian masalah ekonomi," urai Imran.

Faktor ekonomi rupanya bukan berada di urutan teratas sebagai pemicu utama seseorang ingin mengakhiri hidupnya.

"Kalau kita pikirkan penyebab mereka mau bunuh diri itu karena ekonomi ternyata enggak. Justru malah yang keluarga. Jadi ekonomi itu alasan nomor tiga masalahnya, atau nomor dua. Jadi bukan nomor satu," tambah Imran.

Peran keluarga dinilai sangat vital dalam mendeteksi dan mencegah tindakan pencegahan bunuh diri, khususnya dalam struktur masyarakat komunal seperti Indonesia.

Onie menegaskan kembali pentingnya penguatan ikatan keluarga untuk membendung krisis kesehatan jiwa pada kelompok anak dan remaja.

"Kalau kita benar-benar mau mencegah bunuh diri secara serius, kita tidak bisa melupakan faktor keluarga. Terutama di negara yang komunal seperti Indonesia," pukas Onie.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed