Konsil Kesehatan Ubah Gelar Dokter Spesialis Bedah Jadi SpB-ET

Smallest Font
Largest Font

Konsil Kesehatan Indonesia resmi mengubah gelar dokter spesialis bedah (SpB) menjadi dokter spesialis bedah emergensi dan traumatologi (SpB-ET) pada 7 Mei 2026, untuk memperjelas tugas dan fokus dokter bedah umum.

Perubahan ini diumumkan melalui surat keterangan resmi dan bertujuan mempertegas peran dokter SpB-ET sebagai sentral dalam penanganan kasus emergensi dan traumatologi di seluruh Indonesia, terutama di unit gawat darurat (UGD).

dr Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB-ET, FINACS dari Bidang Kemanusiaan dan Kebencanaan Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (BKK PABI) menjelaskan bahwa perubahan nama ini membuat batasan tugas dokter SpB-ET lebih jelas dan fokus pada emergensi serta trauma.

"Jadi ini bedah umum ini tuh bisa dibilang tuh sentralnya bedah semuanya. Nah, cuman kan dikunci lagi dispesifikkan menjadi emergensi dan traumatologi, mempertegas gitu, mempertegas sikap," ujar dr Iqbal.

Ia menambahkan bahwa selama ini bedah umum adalah tulang punggung penanganan kasus emergensi dan bencana di hampir seluruh daerah, sehingga penambahan kata "ET" di gelar tersebut penting.

"Karena kalau nama bedah umum ini kan nggak ada batasan ya. Karena bedah umum ini adalah punggungnya UGD, punggungnya kasus-kasus emergensi, disaster, dan terbanyak juga anggotanya di mana pun ada memenuhi hampir seluruh daerah Indonesia, makanya diperkuat dengan ada kata-kata 'ET' emergensi dan traumatologi," lanjutnya.

Untuk menyelaraskan perubahan ini, Konsil Kedokteran Indonesia akan mengembangkan kompetensi melalui program fellowship bagi calon dokter SpB-ET agar memiliki kemampuan melakukan prosedur yang sebelumnya hanya dilakukan dokter spesialis lain.

dr Iqbal memberikan contoh prosedur burr hole, yang merupakan operasi darurat pada kepala untuk mengatasi perdarahan otak dan selama ini hanya dilakukan oleh dokter bedah saraf.

"Burr hole itu penanganan emergensi kasus-kasus perdarahan di otak. Nah, itu selama ini kan bedah saraf. Nanti bedah umum akan dipertajam dengan kemampuan itu. Jadi walaupun nanti ada kasus-kasus pendarahan otak, nggak perlu nunggu bedah saraf," jelasnya.

Dengan peningkatan kompetensi ini, diharapkan pasien dengan kondisi kegawatdaruratan dapat segera mendapatkan penanganan, khususnya di rumah sakit daerah yang memiliki keterbatasan spesialis bedah dengan subspesialisasi tertentu, seperti dilansir dari Detik Health.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed