Kuasa Hukum Klarifikasi Dugaan Penganiayaan Terpisah dari Kasus Pelecehan Seksual Betrand Peto

Smallest Font
Largest Font

Dua kasus dugaan kekerasan yang melibatkan Betrand Peto dan rekannya terungkap di satu tempat dan waktu yang sama, namun berbeda pelaku dan korban, dilansir dari Detik Hot.

Kuasa hukum korban penganiayaan, Nathaniel Hutagaol, menegaskan pelaku penganiayaan terhadap D bukan Betrand Peto, melainkan rekannya berinisial WHA.

"Yang di media sosial ramai. Saya ingin meluruskan, pelaku terhadap dia bukan BP. Bukan BP. Tapi temannya BP," ujar Nathaniel di Jakarta Utara, Minggu (13/9/2026).

D disebut mengalami luka pada telinga setelah dianiaya dengan antingnya ditarik hingga koyak, saat marah kepada Betrand Peto atas dugaan pelecehan terhadap temannya.

"Ketika dia tahu temannya ini diperlakukan dilecehkan, dia marah. Ketika dia marah, dia malah dianiaya dengan ditarik apa namanya, anting dari kupingnya sehingga kupingnya koyak," kata Nathaniel.

Nathaniel juga memastikan laporan polisi terkait penganiayaan itu sudah dibuat.

"Dan juga besok sudah ada juga laporan polisinya. Nah ini teman-teman bisa lihat, koyak," ujarnya.

Korban D menceritakan penganiayaan yang dialami bermula setelah marah kepada Betrand Peto, lalu didatangi WHA dan pacarnya, yang menepis tangan D saat dia menyapa pacar WHA.

"Setelah kejadian tersebut, saya marah-marah kepada BP. Marah-marah kepada BP, tidak lama kemudian si penyewa room private tersebut datang menghampiri saya dan pacarnya. Karena pacarnya nyamperin saya, saya say hi pada pelaku penganiayaan tersebut.

Dan tangan saya ditepis secara kuat oleh pacarnya. Dan saya, karena tangan saya ditepis, saya tidak terima," ujar D.

D mengaku mendorong pacar WHA, yang membuat WHA marah dan kemudian menjambak, mencakar, dan menendangnya. Anting D diduga tertarik saat rambutnya dijambak.

"Pelaku tersebut langsung menjambak saya, dan juga mencakar saya, dan juga ada nendang saya. Dan mungkin pas pelaku tersebut menjambak saya, anting saya ketarik oleh pelaku tersebut," kata D.

D juga mengaku diludahi dan diusir dari private room oleh pacar WHA.

"Dan setelah itu pacarnya, pelaku penganiayaan tersebut langsung meludahi saya. Dan langsung mengusir saya dari private room tersebut," tuturnya.

Nathaniel menegaskan penganiayaan terhadap D berbeda dari dugaan pelecehan seksual yang dilaporkan ANW terhadap Betrand Peto.

"Jadi biar saya jelaskan ya, beda korban ya. Jadi harus diluruskan ini yang menyebar di media bahwa seakan-akan BP ini pelaku kekerasan terhadap kuping ini, bukan. Kita luruskan bukan," ujarnya.

Dia menyebut D sebagai korban penganiayaan dengan WHA sebagai terlapor, sedangkan ANW menjadi korban pelecehan seksual dengan Betrand Peto sebagai terlapor.

"Yang jadi korban BP adalah ini (AW), pelecehan seksual. Dan pasal yang disangkakan berbeda dengan temannya BP, yang berinisial WHA," ujar Nathaniel.

"Dua laporan polisi. Dan dua pelaku. Dengan LP yang berbeda," tegasnya.

Nathaniel kembali membantah bahwa Betrand Peto melakukan kekerasan terhadap D.

"Nah, yang tersebar di media, orang lain itu adalah pelaku kekerasan terhadap dia (D). Tidak ada satupun narasi yang terhadap terkait ini (pelecehan ANW). Jadi semua narasi yang menganggap BP kekerasan ini saya bilang tidak benar.

Orang lain yang melakukan kekerasan terhadap temannya. Tapi yang menjadi korban dari BP itu dia (ANW), pelecehan seksual, beda. Yang satu penganiayaan, yang satu pelecehan seksual," beber Nathaniel.

Kuasa hukum lain, Monteri Marbun, menjelaskan bahwa dua kasus itu baru diungkap karena mempertimbangkan kondisi mental klien yang mengalami trauma.

"Makanya dari itu kami, mengingat keadaan mental dari klien kita, kita juga mencoba untuk menenangkan klien kita," ujar Monteri.

"Karena mungkin akibat trauma yang dialami oleh klien kita ketika kejadian tersebut. Itu kenapa makanya mungkin media sekarang baru tahu bahwasanya sebenarnya ada dua korban nih, dengan dua pelaku yang berbeda," tambahnya.

Monteri memastikan kedua perkara itu terjadi di tempat dan waktu yang sama.

"Dan tapi di satu tempat, dan di satu waktu yang sama, begitu," ujar Monteri.

Nathaniel berharap aparat kepolisian menindaklanjuti laporan dan meminta lembaga terkait memberikan perlindungan kepada para korban.

"Saya minta juga Komnas Perempuan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak ikut melindungi mereka, ikut turun, ikut ambil suara," tutup Nathaniel.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed