Macau Diversifikasi Ekonomi Melalui Sektor Olahraga dan Esports
Macau mulai mengandalkan penyelenggaraan ajang olahraga internasional dan esports untuk mempercepat diversifikasi ekonomi di luar sektor perjudian tradisional pada Jumat, 15 Mei 2026. Strategi bertajuk Sports Plus ini bertujuan menarik wisatawan generasi muda melalui integrasi teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
Chairman sekaligus Co-CEO NIP Group, Mario Ho Yau Kwan, menyampaikan visi tersebut saat memberikan pidato kunci pada hari terakhir Asian IR Summit di The Venetian Macao. Menurut putra mendiang Stanley Ho ini, Macau memiliki infrastruktur resor terpadu dan konektivitas lintas batas yang kuat.
"Sports break down barriers that politics, business and traditional media cannot," ujar Mario Ho, Chairman NIP Group.
Ho menekankan bahwa esports telah menjadi kekuatan budaya arus utama yang didorong oleh platform digital dan acara arena skala besar. Fenomena ini menghubungkan komunitas lintas batas baik secara daring maupun luring.
"Among all modern sports, esports is leading a new wave of global youth culture," kata Mario Ho.
Ho menyarankan destinasi yang ingin menarik konsumen muda untuk mengadopsi strategi yang menggabungkan olahraga dengan pengalaman pariwisata. Model ini dinilai sedang mendefinisikan ulang cara kota-kota bersaing untuk generasi mendatang.
"[It] is quietly redefining how cities and destinations compete for the next generation," tutur Mario Ho.
Macau memiliki posisi strategis karena dukungan dari Beijing serta lokasi yang berdekatan dengan populasi lebih dari dua miliar orang dalam radius penerbangan empat jam. Hal ini menjadi modal kuat untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan kasino.
"What Macau needs now is the determination to diversify, broaden its industrial base and reduce reliance on traditional gaming as the sole growth driver," ujar Mario Ho.
Ho merujuk pada Las Vegas sebagai contoh destinasi yang berhasil melakukan reposisi melalui investasi jangka panjang di bidang hiburan. Resor terpadu masa depan menurutnya akan menjadi platform industri yang lebih komprehensif.
"The next generation of integrated resorts will not be defined solely by hotel rooms, restaurants and gaming floors," kata Mario Ho.
Visi Ho mencakup pembangunan ekosistem hiburan yang melibatkan studio produksi, fasilitas pameran, serta pusat inovasi. Transformasi ini diharapkan menciptakan pengalaman imersif bagi para pengunjung.
"It will become something far more comprehensive — a true industrial platform," tutur Mario Ho.
Data resmi menunjukkan Macau menerima hampir 34,93 juta pengunjung pada 2024, meningkat lebih dari 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, tantangan logistik muncul karena rata-rata lama menginap turun menjadi 1,2 hari, sehingga diperlukan acara besar sebagai daya tarik pengunjung untuk bermalam.
Di sisi lain, sektor kreatif seperti ilustrasi masih menghadapi kendala pasar yang terbatas di Macau. Ilustrator Yang Sio Maan mengungkapkan bahwa banyak klien belum memahami peran profesi tersebut serta isu hak cipta yang masih rapuh.
"Because I have known this fair since my student days and always dreamed that one day I might be selected — it would be a great recognition," kata Yang Sio Maan, Ilustrator.
Yang menyatakan bahwa partisipasinya dalam pameran internasional seperti di Bologna merupakan kesempatan untuk memperluas jangkauan karyanya. Penghargaan internasional dianggap sebagai alat penting untuk berekspansi ke luar Macau.
"so that my work can be seen by people outside Macau. When we want to expand beyond Macau, we need awards," ujar Yang Sio Maan.
Minat Yang pada ilustrasi tumbuh saat ia menempuh studi Sastra Anak di universitas. Tugas akhir membuat buku bergambar menjadi titik balik baginya untuk menjadi seorang pencerita visual.
"Since I was the one who drew best among the three of us, I ended up responsible for the illustrations," tutur Yang Sio Maan.
Meskipun kualitas gambarnya saat itu dirasa masih belum matang, momen tersebut membangkitkan keinginan kuatnya untuk mendalami bidang ilustrasi. Ia harus belajar secara otodidak karena minimnya komunitas referensi di Macau saat itu.
"The drawings from that time were quite immature," kata Yang Sio Maan.
Ia menggambarkan proses belajarnya sebagai perjuangan pionir yang harus bereksperimen sendiri. Ketiadaan komunitas yang mapan membuat pengembangan sektor ini terasa lambat di wilayah tersebut.
"It awakened the desire to draw, or to become a storyteller and author," ujar Yang Sio Maan.
Meskipun jumlah ilustrator kini bertambah, Yang merasa lingkungan lokal masih sangat terbatas. Referensi untuk penerbitan buku bergambar di Macau masih tergolong sedikit.
"You really had to rely on imagination to think about this subject, learn through the information available online and explore the possibilities. I think that was the hardest part," tutur Yang Sio Maan.
Kondisi ini membuat para pelaku industri kreatif harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan. Yang menekankan pentingnya membangun fondasi kreatif yang solid melalui pendidikan dan pengalaman internasional.
"It’s as if many things depend on pioneers, who have to experiment and adjust their path on their own," kata Yang Sio Maan.
Hingga saat ini, Macau masih berupaya menyeimbangkan ambisi menjadi pusat hiburan global dengan ketersediaan bakat lokal dan infrastruktur yang memadai. Tekanan logistik dan pendanaan menjadi tantangan utama dalam merealisasikan kalender acara olahraga yang padat sepanjang tahun.
"In Macau, when creating picture books or publishing, there is still this feeling – there are relatively few people or references – Yang Sio Maan, illustrator," ujar Yang Sio Maan.
Kemenangan Yang dalam Emerging Artist Award 2019 memberikan validasi profesional yang ia butuhkan. Penghargaan tersebut membantunya merasa benar-benar diakui sebagai seorang ilustrator profesional.
"Although I introduce myself as an illustrator, the amount of work I receive in Macau makes it difficult to truly feel that ‘I am an illustrator’, so winning this award gave me the feeling that ‘I really am an illustrator’," kata Yang Sio Maan.
Setelah penghargaan tersebut, ia mulai mendapatkan tawaran pekerjaan dari luar Macau. Kepercayaan diri ini mendorongnya untuk menekuni bidang ilustrasi secara purnawaktu.
"At the time, although the income might not have been enough to support me immediately, I definitely felt more confident," ujar Yang Sio Maan.
Namun, keterbatasan pasar lokal tetap menjadi ganjalan nyata bagi para seniman di wilayah tersebut. Banyak pihak yang masih memandang ilustrasi hanya dari sudut pandang properti intelektual komersial semata.
"The market here practically does not exist," tutur Yang Sio Maan.
Hal ini membatasi potensi pengembangan artistik dan imajinasi dalam penerapan karya ilustrasi. Masalah perlindungan hukum terhadap karya juga menjadi kekhawatiran bagi para kreator muda.
"As illustrators, we come across copyright issues and do not know who to turn to for help," kata Yang Sio Maan.
Yang juga menyoroti perbedaan persepsi antara konteks internasional dan lokal di Hong Kong maupun Macau. Menurutnya, pemahaman akan nilai seni ilustrasi perlu ditingkatkan agar sektor ini bisa tumbuh lebih luas.
"which recognise the artistic development potential of illustration, something that can limit its application and imagination," ujar Yang Sio Maan.
Ketidakpastian ekonomi bagi pekerja seni membuat banyak dari mereka sulit mengklaim identitas profesional secara penuh. Hal ini terus menjadi diskursus di tengah upaya pemerintah mendorong ekonomi kreatif.
"Although I introduce myself as an illustrator, the amount of work I receive in Macau makes it difficult to truly feel that ‘I am an illustrator’ – Yang Sio Maan, illustrator," tutur Yang Sio Maan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow