Pasar Keuangan RI Beragam di Tengah Erupsi Anak Krakatau dan Data Tenaga Kerja AS
Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan dengan hasil beragam pada Jumat (4/9/2026), di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau dan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat, yang memengaruhi sentimen pasar global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 31,42 poin atau 0,47% ke level 6.636,48, dengan 379 saham melemah dan 276 saham menguat, menurut data Bursa Efek Indonesia. Sementara itu, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,11% ke Rp17.630 per dolar AS, posisi terkuat dalam 15 pekan terakhir. Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun stagnan di yield 7,102%.
Mayoritas sektor saham melemah, terutama konsumer, kesehatan, industri, dan teknologi, sedangkan sektor energi mencatat kenaikan tertinggi. Volume perdagangan mencapai 35,80 miliar saham dengan transaksi senilai Rp15,04 triliun.
Pasar global juga terpengaruh oleh data tenaga kerja AS yang jauh lebih baik dari perkiraan, dengan tambahan 162.000 lapangan kerja pada Agustus 2026, dan tingkat pengangguran tetap stabil di 4,1%, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Data ini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September mendatang.
"Laporan tenaga kerja Agustus yang luar biasa mengingatkan kita bahwa statistik ketenagakerjaan ini telah menjadi sangat volatil, sekaligus sedikit meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September," ujar Bradford Smith, manajer portofolio Janus Henderson Investors.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat tajam setelah data tersebut, dengan yield Treasury tenor dua tahun mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Peluang kenaikan suku bunga The Fed naik ke 58% dari sebelumnya 49,4%, menurut CME FedWatch Tool.
Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dirinya cenderung mendukung penahanan suku bunga jika data inflasi menunjukkan penurunan. "Saya akan mendukung keputusan mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda," katanya.
Pasar saham AS ditutup melemah pada Jumat pekan lalu, dengan Dow Jones turun 271,86 poin atau 0,51% ke 53.414,25 dan S&P 500 turun 0,38%. Penurunan ini dipicu kekhawatiran bahwa data ketenagakerjaan yang kuat akan mendorong The Fed memperketat kebijakan moneter.
Selain itu, penguatan signifikan yen Jepang terhadap dolar AS juga memengaruhi pasar mata uang dunia, didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Yen menguat lebih dari 2% mencapai 155,47 yen per dolar AS.
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada 5 September di Banten menambah ketidakpastian kondisi pasar dan potensi gangguan rantai pasok di Indonesia, yang menjadi salah satu faktor risiko bagi perekonomian nasional saat ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow