Pemerintah dan BUMN Dorong Legalisasi Tambang Emas Rakyat
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama MIND ID mendorong formalisasi penambang emas liar melalui mekanisme Izin Pertambangan Rakyat guna memperbaiki tata kelola dan mengoptimalkan potensi nasional dalam acara MINDialogue di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Langkah penataan ini diambil mengingat sektor Pertambangan Emas Skala Kecil dan pertambangan rakyat memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan emas nasional. Produksi dari jalur tersebut diperkirakan mencapai 50 hingga 120 ton per tahun, mendekati volume pasokan dari jalur formal.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa pemerintah terus memfasilitasi penambang liar agar beralih ke jalur resmi melalui skema IPR.
"Untuk perbaikan tata kelola dan lain sebagainya sebetulnya untuk Kementerian ESDM mencoba untuk memfasilitasi adanya penambang yang teridentifikasi sebagai penambang liar untuk diberikan izin melalui mekanisme IPR," ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM Tri Winarno.
Penjualan emas tidak tercatat menjadi salah satu masalah utama yang perlu diselesaikan dalam tata kelola komoditas ini.
"Jadi memang ada beberapa catatan untuk emas ini memang yang mungkin teridentifikasi ada beberapa penjualan yang tanda petik ilegal gitu ya," kata Tri.
Melalui kebijakan penataan ini, pemerintah berharap kegiatan penambangan dapat lebih terkontrol dan memberikan manfaat nyata bagi penerimaan negara.
"Kemudian, hasilnya nggak ke mana-mana. Sebenarnya perdagangan (emas) itu ada, tetapi kemarin itu ‘tidak resmi’ atau tidak tercatat. Mungkin kalau misalnya itu tercatat sebagai produksi kita, bisa jadi (angka ekspor emas) bisa meningkat," ujar Tri.
Upaya penataan tersebut sejalan dengan dorongan dari BUMN tambang untuk mempercepat proses transformasi perizinan bagi masyarakat.
"Kami mendorong transformasi proses formalisasi pertambangan rakyat menjadi IPR," ujarnya dalam Mindialogue dengan tema Komoditas untuk negeri: strategi penguatan cadangan mineral untuk stabilitas dan kedaulatan ekonomi RI, kata Direktur Utama Mind Id Maroef Sjamsoeddin.
Selain penataan tambang rakyat, potensi cadangan emas nasional juga diproyeksikan melonjak melalui kegiatan eksplorasi di Proyek Hu'u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang dikelola PT Sumbawa Timur Mining.
Chairman Indonesian Mining Institute Irwandy Arif menuturkan bahwa potensi cadangan di wilayah eksplorasi tersebut sangat besar.
"Potensinya masih banyak sekali. Di Nusa Tenggara Barat. Yang kita kenal dengan Sumbawa Timur Mining.
Bisa-bisa cadangannya melebihi cadangan Freeport. Dan di jalur itu juga sama. Kita sudah bisa mengidentifikasi padahal dulu itu, jalurnya sudah ketahuan," ungkap Irwandy dalam acara Mindialogue 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Eksplorasi yang telah berlangsung sejak 2010 di deposit Onto mencatatkan sumber daya mineral tertunjuk sebesar 1,1 miliar ton dan sumber daya tereka sebesar 0,96 miliar ton.
"Saat ini tim engineering kami terus mengembangkan berbagai opsi bagaimana Proyek Hu'u ke depannya dapat dikembangkan menjadi sebuah proyek penambangan," ujarnya kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu, kata Presiden Direktur STM Bede Evans.
Dari sisi perekonomian, Indonesia yang memiliki cadangan emas sekitar 3.500 ton berpeluang memperkuat rantai nilai nasional melalui hilirisasi dan pengembangan bullion bank.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong memaparkan pandangannya mengenai tantangan serta fokus pengembangan pasar emas domestik.
"Namun, jika yang dimaksud adalah menjadi pemain utama sebagai pusat perdagangan emas global seperti London, Dubai, HK, atau Shanghai, saya melihat tantangannya masih cukup besar. Membangun sebuah gold trading hub membutuhkan likuiditas pasar yang dalam, ekosistem bullion yang matang, regulasi yang kompetitif, serta kepercayaan investor internasional, yang memerlukan waktu dan komitmen jangka panjang," ungkap Lukman saat dihubungi CNBC Indonesia belum lama ini.
Ia menambahkan bahwa pengembangan lembaga keuangan berbasis emas menjadi instrumen vital dalam mendukung ekosistem moneter dan industri nasional.
"Namun, industri bullion bank di Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan sehingga membutuhkan waktu untuk membangun skala, likuiditas, dan kepercayaan pasar," terang dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow