Pertamina Patra Niaga Antisipasi Kelebihan Kuota BBM Subsidi di 2026
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengambil langkah antisipatif untuk mengatasi potensi kelebihan kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi, termasuk Pertalite dan Solar, dengan melakukan pengawasan, penertiban, dan pembinaan. Hal ini disampaikan Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun, saat ditemui di Cilacap, Jawa Tengah.
Roberth menjelaskan bahwa pihaknya menyiapkan tiga bentuk tindakan utama, yaitu pengawasan di lapangan, penertiban terhadap pelanggaran, serta pembinaan lembaga penyalur atau SPBU yang melanggar aturan kuota.
"Pertama adalah bentuk pengawasan, yang kedua adalah bentuk penertiban, dan yang ketiga adalah bentuk pembinaan," ujar Roberth.
Dalam pembinaan, SPBU yang terbukti melanggar dikenakan sanksi berjenjang mulai dari teguran tertulis, pengurangan suplai, hingga Pemutusan Hubungan Usaha (PHU). Meski demikian, Pertamina memastikan penutupan SPBU tidak akan mengganggu ketersediaan layanan bagi masyarakat.
"Ada beberapa lembaga penyalur yang harus menerima pembinaan berupa penutupan, tapi kemudian akan kita alihkan dengan melakukan kerja sama sehingga SPBU itu under operation dari Pertamina dan pengawasannya dari Pertamina sehingga masyarakat tidak kemudian kekurangan lembaga penyalur. Justru lembaga penyalurnya kita perbaiki," jelas Roberth.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga sekaligus Direktur Utama Subholding Downstream Pertamina, Mars Ega Legowo, menyatakan secara nasional konsumsi Pertalite dan Solar berpotensi melebihi kuota yang ditetapkan hingga akhir tahun 2026.
"Dengan tren konsumsi saat ini, prognosa kami hingga akhir tahun menunjukkan potensi penyaluran di atas kuota dan tentunya data ini akan terus bergerak dan kami terus berkolaborasi dengan Kepala BPH Migas dan jajarannya," ujar Mars Ega, dilansir dari Detik Finance.
Menurut Mars Ega, per akhir Juli 2026, realisasi konsumsi Solar mencapai 11,18 juta kiloliter dari kuota 18,36 juta kiloliter, sedangkan Pertalite mencapai 16,54 juta kiloliter dari kuota 28,69 juta kiloliter.
Sementara minyak tanah masih berjalan sesuai kuota dan LPG 3 kilogram mencapai 5,05 juta metrik ton dari kuota 8 juta metrik ton sepanjang tahun ini.
"Data yang kami miliki adalah sekitar 9,4 persen (kelebihan kuota) untuk Solar, 1,7 persen untuk Pertalite, dan 8,5 persen untuk LPG 3 kilogram. Namun data ini masih terus bisa bergerak," tambah Mars Ega.
Ia memaparkan kenaikan konsumsi Solar dan Pertalite sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I-2026 yang berada di kisaran 5 hingga 5,6 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor industri, logistik, serta peningkatan jumlah kendaraan pribadi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow