Rupiah Ambruk ke Rp17.803 per Dolar AS Jelang Iduladha

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup ambruk hingga menyentuh level terlemah sepanjang masa pada perdagangan Selasa (26/5/2026) menjelang libur panjang Iduladha. Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir CNN Indonesia, mata uang Garuda tersungkur ke posisi Rp17.803 per dolar AS atau melemah 87,9 poin atau 0,40 persen dari penutupan sebelumnya.

Tekanan terhadap mata uang domestik ini membuat sejumlah perbankan nasional mematok harga jual dolar AS mendekati hingga di atas level Rp18.000. Data Refinitiv mencatat rupiah sempat bergerak stagnan di posisi Rp17.730 per dolar AS saat pembukaan perdagangan sebelum akhirnya terus merosot sepanjang hari.

Pelemahan mata uang ini terjadi di tengah peningkatan permintaan aset aman (safe haven) oleh investor global akibat ketidakpastian geopolitik. Penguatan dolar AS secara global tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang bergerak di kisaran 99 hingga 99,10 pada Selasa pagi.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai pergerakan fluktuatif mata uang domestik masih dipengaruhi oleh bertahannya suku bunga tinggi AS dalam jangka waktu lama.

"Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan masih berada dalam tekanan di kisaran Rp17.750 - Rp17.800 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kuatnya dolar AS global seiring meningkatnya permintaan aset safe haven dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat yang diperkirakan bertahan lebih lama," kata Amru.

Amru menambahkan bahwa peningkatan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan tingginya volatilitas pasar global ikut menekan mata uang negara berkembang. Dari sisi domestik, pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia menjadi 4,01 miliar dolar AS pada kuartal I-2026 akibat menyusutnya surplus perdagangan turut memperlemah ketahanan eksternal.

"Pelebaran defisit tersebut terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia menjadi 7,98 miliar dolar AS dari sebelumnya 13,07 miliar dolar AS, di tengah perlambatan ekonomi global serta tingginya kebutuhan impor energi dan barang modal yang mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik," ungkap Amru.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketidakpastian konflik di Timur Tengah mempersulit proses negosiasi perdamaian antara AS dan Iran setelah militer AS kembali meluncurkan serangan baru di Iran selatan.

"Militer AS mengklaim serangan dilakukan untuk membela diri dan gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku. Namun, aksi militer baru ini berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung," ujar Ibrahim.

Ibrahim menyatakan kekhawatiran bahwa kemerosotan nilai tukar ini mulai mengancam stabilitas industri manufaktur nasional yang bergantung pada bahan baku impor, serta memicu kenaikan harga BBM industri nonsubsidi.

"Krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi mulai terlihat akibat pelemahan rupiah yang belum jelas sampai kapan akan terjadi. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor," katanya.

Dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor formal industri seperti tekstil, garmen, elektronik, otomotif, hingga alas kaki diproyeksikan bisa melonjak dalam waktu dekat.

"Potensi PHK di sektor formal industri dapat mencapai 9 ribu pekerja dalam tiga bulan ke depan," ujarnya.

Ibrahim juga menyoroti pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Christopher Waller mengenai kebijakan moneter ketat di tengah risiko inflasi global yang belum mereda.

“Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika yaitu Christopher Waller, dia mengatakan bahwa jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga. Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga,” ujarnya.

Mengenai prospek perdamaian di Timur Tengah, Ibrahim menilai kesepakatan tersebut menghadapi jalan buntu karena adanya isu sensitif yang belum terselesaikan antar kedua negara.

“Kita harus ingat juga bahwa apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak, karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya, ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” kata Ibrahim.

Masalah internal berupa defisit anggaran juga dinilai tetap menjadi sentimen negatif yang menahan penguatan mata uang Garuda dibandingkan mata uang negara tetangga.

“Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah,” ungkap Ibrahim.

Presiden Direktur Doo Financial Futures Ariston Tjendra menyebutkan jatuhnya nilai tukar rupiah sejalan dengan melemahnya kepercayaan investor di pasar saham domestik yang tecermin dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Potensi masih melemah ke arah Rp 17.750-17.800," ujarnya.

Faktor lain yang menekan rupiah sepanjang Mei 2026 adalah siklus musiman korporasi yang membutuhkan valuta asing dalam jumlah besar.

"Di bulan Mei ini permintaan valas karena keperluan repatriasi dividen juga masih memberi tekanan ke rupiah," imbuh Ariston.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat kurs tengah rupiah pada perdagangan Senin (25/5/2026) berada di level Rp17.743 per dolar AS, melemah dari posisi Jumat (22/5/2026) di level Rp17.717 per dolar AS.

Berikut adalah daftar harga beli dan harga jual dolar AS di beberapa bank nasional pada perdagangan Selasa (26/5/2026):

Tabel Kurs Dolar AS di Bank Nasional (26/5/2026)
Nama BankHarga Jual (Rp)Harga Beli (Rp)
BCA17.83517.585
Bank Mandiri17.81017.510
BNI17.83517.535
BRI17.80017.598
BTN17.89017.640
CIMB Niaga17.79517.780
Bank Permata17.76517.580

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed