Rusia Jual Cadangan Emas 43500 Kilogram Biayai Defisit Anggaran
Pemerintah Rusia mencairkan 43.500 kilogram cadangan emas dari Dana Kesejahteraan Nasional (NWF) untuk menutupi defisit anggaran federal tahun 2026 yang membengkak akibat tingginya alokasi belanja militer dalam perang melawan Ukraina.
Defisit anggaran federal Rusia pada 2026 diproyeksikan melebihi target resmi hingga lebih dari 1 triliun rubel atau setara Rp230 triliun. Angka ini mendorong total defisit mencapai 1,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau berkisar Rp716 triliun. Penjualan emas dipilih karena likuiditas dana cadangan likuid NWF tersisa sekitar 50 miliar dollar AS dari total nilai 150 miliar dollar AS.
Analis ekonomi Chris Weafer menilai skema pencairan emas tersebut menciptakan dinamika tersendiri di dalam internal pemerintahan Moskow.
"Hal ini menciptakan distorsi besar dalam perekonomian dan menggambarkan prospek negatif jangka panjang yang memicu perpecahan di dalam pemerintahan," kata Weafer.
Ketegangan tersebut terjadi antara jajaran teknokrat pengelola ekonomi nasional dan para pengambil keputusan di Kremlin terkait keberlanjutan anggaran. Di sisi lain, sanksi Barat membekukan akses Rusia terhadap obligasi pemerintah asing.
"Sejak awal 2022, emas menjadi salah satu aset yang dapat dibeli oleh Dana Kesejahteraan Nasional, karena obligasi pemerintah AS dan Jerman tidak tersedia bagi mereka (akibat sanksi yang diberlakukan setelah invasi ke Ukraina)," ujar Weafer.
Pencairan emas dianggap masih sesuai dengan fungsi utama dana cadangan negara dalam mengatasi tekanan likuiditas.
"Dalam hal itu, dapat dikatakan bahwa dana tersebut telah memenuhi tujuan yang dimaksud," kata Weafer.
Langkah ini juga diambil guna menjaga persepsi publik dunia terhadap kondisi keuangan dalam negeri Moskow.
"Kremlin tidak ingin cadangan tersebut berkurang karena hal itu mungkin akan memicu lebih banyak spekulasi mengenai krisis keuangan atau kesulitan ekonomi, dan ini akan melemahkan posisi geopolitik Kremlin," kata Weafer.
Pemerintah Rusia berupaya keras menampilkan citra ketahanan ekonomi di tengah invasi militer yang berlarut-larut.
"Kremlin ingin menggambarkan negaranya sebagai negara yang sangat stabil dan sangat kuat, dan uang tunai sebesar 50 miliar itu merupakan bagian penting dari citra tersebut," ujar Weafer.
Pakar ekonomi Elina Ribakova menyampaikan bahwa posisi Rusia sebagai produsen emas utama memberikan ruang balik untuk memulihkan cadangan dari pasar domestik.
"Rusia memiliki keunggulan. Negara itu memang memproduksi emas sendiri. Jadi, ketika khawatir akan sanksi, Rusia mengalokasikan sebagian dananya untuk pembelian emas, yang mereka beli dari produsen dalam negeri," kata Ribakova.
Selain itu, ketahanan keuangan jangka pendek Moskow dipengaruhi oleh pendapatan dari ekspor energi dan dinamika harga minyak mentah global.
"Semuanya bergantung pada hal itu. Ketika harga minyak tinggi, Rusia memperoleh pendapatan. Lebih mudah untuk meminjam, dan sistem keuangan domestiknya lebih sehat. Jika harga minyak turun, katakanlah, menjadi enam puluh atau empat puluh, maka langsung menghadapi krisis," ujar Ribakova.
Meskipun tekanan fiskal meningkat, alokasi dana untuk invasi militer diprediksi tetap menjadi prioritas utama pemerintah.
"Putin bisa terus bertahan selama bertahun-tahun dalam kondisi saat ini. Mungkin tidak ada kemajuan di garis depan, yang sejauh ini belum kita lihat, tetapi Rusia masih mampu mengalokasikan sumber daya untuk perang melawan Ukraina," kata Ribakova.
Prospek ekonomi Rusia diperkirakan masih relatif stabil dalam jangka pendek meski dibayangi ancaman struktural jangka panjang.
"Bahkan jika defisit terus berlanjut seperti ini, Rusia masih bisa mendapatkan dana dan benar-benar tidak akan mengalami krisis keuangan apa pun atau berada dalam posisi geopolitik yang lemah selama 12 hingga 24 bulan ke depan," ujar Weafer.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow