Ratusan Santri di Sidoarjo Dirawat Usai Keracunan MBG dari SPPG Kalitengah

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah pada Selasa (1/9).

Para santri yang mengalami gejala keracunan kini menjalani perawatan di delapan rumah sakit rujukan di wilayah tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyebutkan ada 293 santri dirawat di rumah sakit, sementara jumlah keseluruhan yang dirawat mencapai 431 orang menurut pengasuh pesantren.

Salah satu santriwati, SZ (15), mengungkapkan bahwa menu MBG yang disantap berisi nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan apel. Ia merasakan ada keanehan pada sayur yang terasa asam sebelum muncul gejala seperti mual dan pusing.

"Makan MBG jam 13.00 WIB. Yang dimakan nasi putih, telur orak-arik, tempe kayak bali, enggak pedes," ujar SZ.

"Sayur enggak habis, yang kecut dari sayurnya," tambahnya.

Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, Abdul Wahid Harun, menyatakan bahwa seluruh santri, sekitar 1.000 orang, mengonsumsi MBG tersebut pada hari kejadian. Ia menegaskan bahwa makanan yang menjadi pemicu keracunan berasal dari SPPG Kalitengah, bukan dari pesantren.

"[Santri] sekitar 1.000, ya. Hari ini yang dievakuasi ke rumah sakit 431. Ya, kondisi kekuatan fisik masing-masing santri beda-beda," kata Wahid.

"Tidak ada yang terencana, moga-moga baik-baik saja. Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari beliau, dari (SPPG) Kalitengah dan kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok, tidak benar," tambahnya.

Wahid juga memastikan pihak pesantren telah mendampingi para wali santri guna memberikan ketenangan dan berharap kejadian ini menjadi pelajaran.

"Kami sudah mendampingi beliau-beliau, semua sudah paham. Mungkin Anda akan naik kelas (naik derajat). Berkah dari musibah ya. Kita positive thinking saja pada Allah," ujar Wahid.

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, membantah adanya korban jiwa dalam kejadian ini dan menyebut keluhan yang sama dialami juga oleh siswa dari 19 lembaga pendidikan lain di Kecamatan Tanggulangin yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah.

"Tolong juga, tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal," kata Emil.

"Ada 19 lembaga yang terdampak.

Ada 19 lembaga pendidikan yang terdampak, salah satunya Ponpes Manbaul Hikam," tambahnya.

"Ada SMA swasta, ada juga SMP, SD swasta juga ya. TK pun juga ada," lanjut Emil.

Emil menjelaskan SPPG Kalitengah sebenarnya sudah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), namun sertifikasi itu tidak menjamin sepenuhnya tidak terjadi masalah, karena masih ada kemungkinan penyimpangan pada kualitas bahan makanan atau waktu pelaksanaan yang tidak sesuai SOP.

"SLHS ini menilai sistem dan sarpras," ujar Emil.

"Tetapi tetap saja dengan sarpras dan sistem, masih ada ruang kalau misalnya katakanlah bahan makanannya dari awalnya, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa saja menyebabkan masalah," tambahnya.

Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan pihaknya telah menghentikan operasional SPPG Kalitengah sementara waktu pascakejadian keracunan tersebut dan sedang menunggu hasil uji laboratorium dari sampel makanan yang telah diambil.

"Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional," ujar Teguh.

"Untuk hari ini 2.800.

Sekolah dan pesantren. Di pesantren itu ada sekitar 1.000-an, sisanya di luar pesantren, di sekolah," jelasnya.

Keputusan penghentian sementara operasional ini akan ditentukan setelah evaluasi dan hasil uji laboratorium keluar, dan BGN pusat akan mempertimbangkan apakah penghentian bersifat sementara atau permanen.

"Sementara ini karena memang sementara di-suspend, dari BGN sudah surat turun di-suspend sementara," kata Teguh.

"Sampai hasil evaluasi ya, evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah disuspennya suspend sementara atau suspend permanen," pungkasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed