Sekolah Minggu BDC Surabaya Latih Kesadaran Anak via Mindful Cooking

Smallest Font
Largest Font

Sekolah Minggu Buddha (SMB) BDC Rumah Kita Bersama menggelar kegiatan "Mindful Cooking" di Vihara BDC, Surabaya, Minggu (13/9/2026). Program ini dirancang untuk melatih konsentrasi, memupuk kesadaran diri, membangun kerja sama tim, serta menumbuhkan kepedulian lingkungan pada anak-anak sejak dini.

Para peserta diajarkan memberikan perhatian penuh pada setiap tahap memasak. Panitia membagi anak-anak ke dalam beberapa kelompok dan mengaturnya untuk bergantian peran agar seluruh peserta dapat terlibat langsung dari awal hingga selesai.

Koordinator SMB BDC sekaligus Pengurus Yayasan Budayana Dharma Wira Center (BDC), Yuda Buwana, menjelaskan bahwa mindful cooking merupakan agenda rutin yang berfokus pada pelatihan kesadaran penuh bagi anak-anak.

"Mindful kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah perhatian penuh. Jadi ketika mereka memasak, tidak hanya sekadar memasak, tetapi mereka memberikan perhatian penuh terhadap apa yang sedang dilakukan," ujar Yuda Buwana, Koordinator SMB BDC.

Anak-anak diajar menyadari setiap tindakan secara detail, seperti saat memotong sayuran, menggoreng tempe atau tahu, hingga menikmati hasil masakan. Pembiasaan ini penting agar anak-anak tidak menjalankan aktivitas harian secara otomatis tanpa kesadaran penuh.

"Dengan mindfulness kita kembali menyadari, oh kita sedang naik sepeda motor, kita sedang bernapas. Jadi apa pun kegiatannya, kita belajar memberikan perhatian penuh," kata Yuda Buwana, Koordinator SMB BDC.

Penerapan kesadaran ini juga mencakup pembersihan peralatan masak hingga tuntas dan pengelolaan sampah secara sadar, seperti memilah sampah organik dan anorganik.

"Ketika memilah sampah mereka memperhatikan, oh ini plastik, ini bukan, ini organik, ini anorganik. Pengaruhnya terhadap lingkungan sangat baik," tutur Yuda Buwana, Koordinator SMB BDC.

Pelatihan kesadaran sejak dini diharapkan mampu membentuk pembiasaan yang terbawa hingga anak-anak tumbuh dewasa di tengah masyarakat.

"Ketika mereka di masyarakat, di pekerjaan maupun di keluarga, mereka akan menjadi orang yang beretika dan sopan santun. Mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kalau dengan orang yang lebih tua, tentu sopan santun harus dikedepankan," jelas Yuda Buwana, Koordinator SMB BDC.

Sementara itu, Kepala Sekolah Minggu Buddha BDC, Miss Yeni, menyebutkan bahwa kegiatan kali ini difokuskan pada peserta kelas Karuna dengan praktik membuat puding sedot.

"Kami berusaha agar anak-anak tetap sadar terhadap apa yang mereka lakukan dalam setiap adukan masakan. Kali ini semua anak kami ikut sertakan untuk berpartisipasi dalam setiap proses mindful cooking," ujar Miss Yeni, Kepala Sekolah Minggu Buddha BDC.

SMB BDC membagi kelas pembelajaran berdasarkan kelompok usia, meliputi Metta (TK), Karuna (SD kelas 1–3), Mudita (SD kelas 4–6), Upekkha (SMP), dan Viriya (SMA).

"Dengan setiap langkah dan prosedurnya, mereka tetap belajar mindful dalam proses memasak," kata Miss Yeni, Kepala Sekolah Minggu Buddha BDC.

Hasil olahan puding dibolehkan untuk dibawa pulang ke rumah sebagai sarana membagikan pengalaman belajar bersama keluarga.

"Anak-anak setiap minggu belajar di sini, tetapi tentunya lebih banyak waktunya di rumah. Pendidikan paling utama adalah dari orang tua," tutur Miss Yeni, Kepala Sekolah Minggu Buddha BDC.

Pihak pengelola sekolah minggu menekankan pentingnya peran orang tua untuk melanjutkan pendampingan dan penerapan latihan kesadaran penuh tersebut di lingkungan rumah masing-masing.

"Semoga bisa diterapkan juga di rumah dan orang tua ikut belajar. Jadi sama-sama, orang tua dan anak belajar mindful," kata Miss Yeni, Kepala Sekolah Minggu Buddha BDC.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed