Skor Membaca Siswa Anjlok di PISA 2025 Dampak Penggunaan AI
Kemampuan membaca, matematika, dan sains pada satu dari lima siswa berusia 15 tahun berada di tingkat rendah berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Angka ketidakmampuan ini mengalami kenaikan sebesar 16 persen jika dibandingkan dengan capaian survei PISA 2022.
Survei dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang melibatkan 760.000 siswa di 91 negara dan wilayah ekonomi tersebut juga mencatat penurunan tren literasi membaca secara global, seperti dilansir dari Detikcom. Rata-rata skor membaca tercatat melorot hingga 28 poin antara rentang tahun 2015 dan 2025, yang setara dengan kehilangan satu setengah tahun masa pembelajaran.
OECD Director for Education and Skills, Andreas Schleicher, memberikan pandangannya mengenai kondisi penurunan ini di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan.
"Membaca selalu menjadi induk dari semua keterampilan, jadi ini sangat penting. Dan yang sangat mengkhawatirkan adalah kita melihat penurunan dalam jenis keterampilan membaca, yang paling penting di era AI; kemampuan kita untuk menggabungkan berbagai informasi atau membedakan fakta dari opini untuk menghadapi ambiguitas," ucap Andreas Schleicher.
"Anak muda sekarang membaca lebih cepat, tetapi kurang akurat, dan sekali lagi, itu bukan tren yang sehat," kata Andreas Schleicher.
Ketergantungan terhadap teknologi AI berisiko mengikis daya kritis siswa karena mereka cenderung menjadi konsumen informasi instan tanpa melalui proses evaluasi mandiri.
"Sayangnya, banyak aplikasi AI dirancang justru untuk mempermudah hidup kita. Aplikasi-aplikasi tersebut memberikan jawaban siap pakai, alih-alih mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kemungkinan besar itulah yang tercermin dalam hasil-hasil (PISA) tersebut," ujar Andreas Schleicher.
Peningkatan performa akademis justru terlihat pada siswa yang memanfaatan AI sebagai alat bantu belajar dengan bimbingan dan pemahaman cara menilai kualitas data.
"Jadi, membekali anak muda dengan tingkat literasi AI yang tepat bisa menjadi penawar terhadap dampak-dampak negatif tersebut," kata Andreas Schleicher.
Pandangan senada disampaikan oleh Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann mengenai penerapan teknologi di lingkungan pendidikan.
"Teknologi dan AI dapat memperkuat pembelajaran dan membantu mempersiapkan kaum muda untuk masa depan, tetapi hanya jika digunakan dengan tujuan yang jelas dan bukan sebagai pengganti perhatian, usaha, dan pemahaman," ucap Mathias Cormann.
Hasil PISA 2025 menyoroti bahwa penggunaan perangkat secara berlebihan atau untuk hiburan di kelas memicu gangguan digital yang menurunkan prestasi serta keterlibatan siswa di sekolah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow