Ketua The Fed Kevin Warsh Isyaratkan Peluang Kenaikan Suku Bunga AS
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengisyaratkan suku bunga Amerika Serikat masih berpeluang naik jika tekanan inflasi belum menunjukkan perbaikan berkelanjutan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, Jumat (28/8/2026) malam waktu setempat.
Pernyataan ini mendorong pelaku pasar meningkatkan perkiraan kenaikan suku bunga pada September 2026 menjadi 55,7 persen menurut data CME Group. Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun melonjak menjadi 4,31 persen, sementara pergerakan nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp17.718 per dolar AS pada perdagangan Jumat (28/8/2026).
Warsh menegaskan kekhawatirannya terhadap laju inflasi yang masih bertahan di atas target dua persen. Pihaknya juga menolak penggunaan petunjuk verbal atau forward guidance mengenai arah kebijakan moneter mendatang.
"Meskipun data inflasi musim panas ini lebih baik dari perkiraan, data tersebut tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti," kata Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Ia menekankan bahwa bank sentral memikul tanggung jawab besar untuk memastikan pergerakan harga kembali stabil secara konsisten.
"Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasarinya bergerak menuju target kita, secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, kita masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Itulah tugas, mandat, dan tanggung jawab kita," ujar Kevin Warsh.
Ia juga menambahkan bahwa ekspektasi publik terhadap pencapaian stabilitas harga tetap terjaga dengan baik.
"Pasar menunjukkan kepercayaan bahwa kami akan mewujudkan stabilitas harga. Dan saya dapat memastikan bahwa mereka benar," kata Kevin Warsh.
Mengenai gaya komunikasinya, ia memilih untuk menghindari sinyal spesifik demi mencegah ketergantungan pasar terhadap setiap pernyataan pejabat bank sentral.
"Saya berdiri di sini hari ini dengan berkomitmen pada sebuah disiplin, bukan pada sebuah keputusan," ujar Kevin Warsh.
Ia menyinggung istilah petunjuk verbal yang dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi ruang kebijakan saat ini.
"Anda boleh menyebutnya sebuah garis besar, boleh menyebutnya peta jalan, tetapi jangan menyebutnya forward guidance," kata Kevin Warsh.
Ia menegaskan pentingnya perubahan pendekatan komunikasi publik oleh bank sentral.
"Praktik forward guidance sudah tidak relevan dengan saat ini," ujar Kevin Warsh.
Dalam pandangannya, instrumen bank sentral memang sangat kuat namun tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan transaksi harian oleh para pelaku industri keuangan.
"The Fed memainkan peran penting dalam perekonomian dan pasar. Dan alat-alat kami ampuh. Tetapi kita tidak seharusnya mendorong rezim di mana pelaku pasar terutama melihat The Fed untuk menentukan transaksi berikutnya," kata Kevin Warsh.
Terkait keterbatasan pemodelan ekonomi saat ini, ia menyebut bahwa indikator utama dapat berubah sewaktu-waktu akibat dinamika global.
"Pengetahuan kita belum sampai sejauh itu, setidaknya belum sekarang, dan faktor-faktor yang paling relevan bagi pelaksanaan kebijakan moneter yang tepat berubah dari waktu ke waktu," ujar Kevin Warsh.
Merespons pidato tersebut, Ekonom Utama Navy Federal Credit Union Heather Long menilai adanya peluang penyesuaian suku bunga acuan dalam beberapa bulan mendatang.
"Warsh membuka peluang bagi kenaikan suku bunga The Fed. Kenaikan mungkin tidak akan terjadi pada September, tetapi bisa terjadi pada Oktober atau Desember," kata Chief Economist Navy Federal Credit Union Heather Long.
Di ranah domestik, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah berada di rentang Rp17.675 hingga Rp17.775 per dolar AS seiring rilis indeks pengeluaran konsumsi pribadi AS yang naik 0,2 persen secara bulanan.
"Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.675-Rp17.775 per dolar AS," kata Chief Economist Permata Bank Josua Pardede.
Ia menambahkan faktor dinamika harga energi internasional turut memengaruhi pergerakan kurs.
"Hal ini juga tidak lepas dari harga energi yang diakibatkan oleh harga minyak global yang masih berfluktuasi akibat dari tensi geopolitik yang masih tinggi," ujar Josua Pardede.
Dari pasar modal, Peneliti Utama Riset Keputusan Investasi SimCorp Melissa Brown menyoroti rendahnya korelasi antar-saham teknologi di tengah tingginya volatilitas pasar akibat tren kecerdasan buatan.
"Belakangan ini banyak pembicaraan mengenai pembiayaan sirkular untuk perusahaan-perusahaan hyperscaler dan apakah pendapatan mereka benar-benar mampu menutup biaya besar yang harus mereka keluarkan. Mungkin hasil ini bisa menunda pembahasan tersebut untuk sementara waktu," kata Global Head of Investment Decision Research SimCorp Melissa Brown.
Ia mengingatkan para investor agar tetap waspada terhadap potensi risiko pasar yang terselubung.
"Volatilitas memang tinggi, tetapi korelasinya rendah. Karena itu, volatilitas pasar secara keseluruhan tetap rendah. Kekhawatiran kami adalah kondisi ini justru bisa membuat investor merasa terlalu aman," ujar Melissa Brown.
Perdagangan IHSG pada Kamis (27/8/2026) sebelumnya ditutup melonjak 1,81 persen ke level 6.521,75, sementara indeks bursa Wall Street seperti Nasdaq menguat 1,57 persen disokong oleh kenaikan saham sektor teknologi dan semikonduktor.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow