Donald Trump Pertimbangkan Serangan Baru ke Fasilitas Nuklir Iran

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan untuk melancarkan serangan baru terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Gunung Pickaxe. Trump juga menegaskan bahwa eskalasi militer yang telah berlangsung selama enam bulan tersebut hanyalah sebuah konflik militer berskala kecil bagi negaranya.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam sesi wawancara di Oval Office pada Jumat, 4 September 2026, merespons pernyataan Wakil Presiden JD Vance yang menolak penggunaan kata perang. Konflik yang melibatkan gempuran udara bersama Israel ini tercatat telah menelan anggaran AS lebih dari US$37,5 miliar dan menewaskan 18 prajurit militer AS serta ribuan warga Iran.

Eskalasi militer ini meluas ke wilayah Selat Hormuz dan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak global hingga 7 persen. Di sisi lain, serangan AS di kawasan permukiman dituduh otoritas Iran telah menewaskan warga sipil, meski langsung dibantah oleh pihak militer AS.

Trump menilai operasi bersenjata yang dilakukan negaranya saat ini bersifat berkala sehingga tidak dikategorikan sebagai perang terbuka.

"Saya bisa memahami apa yang dia katakan. Saya menyebutnya sebagai konflik militer karena bagi kita ini adalah hal kecil. Ini bukan perkara besar," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Mempertahankan argumennya, Trump membandingkan angka korban jiwa militer AS di Iran dengan operasi penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro di Venezuela yang tanpa korban jiwa, serta Perang Vietnam yang diklaimnya menewaskan 100 ribu tentara AS.

"Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, karena jika mereka memilikinya, Anda mungkin tidak akan berdiri di sini hari ini," ucap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Target lokasi penyerangan selanjutnya mengarah pada situs strategis penyimpanan program nuklir Teheran yang terletak di dekat fasilitas Natanz.

"Kita mungkin akan menyerang Pickaxe segera. AS mengetahui semua orang yang bergerak di Pickaxe dan di seluruh Iran," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Meskipun Vance menolak istilah perang, Trump menegaskan keberhasilan operasi militer AS di kawasan tersebut.

"Banyak orang tidak menyebutnya perang. Saya menyebutnya konflik militer karena itu masalah kecil bagi kita. Itu bukan hal besar. Kita sudah menangani Venezuela, dan kita sudah menangani ini," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump juga mengklaim pihak militer AS telah melumpuhkan kekuatan pertahanan udara Iran dan menguasai jalur pelayaran vital.

"Apa yang telah kami lakukan sungguh luar biasa. Kami mengambil alih Venezuela dan pada dasarnya kami telah mengambil alih Iran," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ketika didesak mengenai jumlah korban tewas dari pihak militer AS, Trump memilih untuk berfokus pada capaian strategis penutupan akses nuklir Iran.

"Saya rasa tidak penting apa sebutannya. Yang penting adalah fakta bahwa kita telah meraih keberhasilan besar. Kita telah menghentikan Iran memiliki senjata nuklir," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Mengenai penguasaan kawasan perairan Selat Hormuz, Trump menyatakan tidak terburu-buru untuk mendorong perjanjian damai baru dengan Teheran.

"Saya tidak peduli jika mereka menandatangani perjanjian yang tidak berharga bagi mereka. Saya jauh lebih menyukai posisi kami sekarang, dengan kendali hampir total atas Selat Hormuz, dan ekonomi mereka benar-benar runtuh," papar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Melalui akun media sosialnya, Trump melontarkan peringatan keras terkait potensi serangan susulan jika Teheran melancarkan aksi balasan.

"Jika Bangsa Iran yang gagal membalas serangan yang sangat dibenarkan ini, mereka akan dipukul lagi pada tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi, tetapi itu bukan serangan yang terbesar dari semuanya, itu sedang menunggu di sayap. Ketika ini selesai, hanya akan ada sedikit yang tersisa dari Republik Islam Iran!" tegas Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menambahkan bahwa AS sengaja membiarkan Iran membangun kembali sistem radarnya sebelum dilumpuhkan kembali.

"Saya pikir kesepakatan dengan mereka tidak sebanding dengan kertas yang dituliskannya. Kami memberi mereka banyak kesempatan," ungkap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Di pihak lain, tuduhan jatuhnya korban sipil memicu reaksi keras dari pemerintah daerah setempat di Iran.

"Hukuman berat menanti para agresor dan Amerika akan menyesali serangan barunya," tutur Hossein Mohebbi, Juru Bicara IRGC Brigjen.

Pihak militer Amerika Serikat membantah tuduhan penargetan fasilitas sipil tersebut secara terbuka.

"Kami menyadari laporan tersebut, yang berasal dari media pemerintah Iran. Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC," ucap Komando Pusat AS.

Sebagai langkah antisipasi eskalasi balasan, Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi seluruh warganya di wilayah Timur Tengah.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed