Wali Kota New York Larang Penggunaan AI untuk Siswa SD dan SMP
Pemerintah Kota New York, Amerika Serikat, melarang penggunaan kecerdasan buatan (AI) bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) selama tahun ajaran 2026-2027.
Kebijakan ini diumumkan oleh Wali Kota Zohran Mamdani pada 2 September 2026 dan berlaku untuk hampir 600 ribu siswa sekolah negeri hingga kelas 8 SMP di New York. Larangan ini bertujuan melindungi pendidikan dan kesehatan mental anak-anak.
Siswa sekolah menengah atas (SMA) yang berusia 14 tahun ke atas masih diperbolehkan menggunakan AI dalam program percontohan terbatas, serta mendapatkan kelas literasi AI dua kali dalam setahun.
Wali Kota Zohran Mamdani menyatakan, "Industri teknologi ingin kita percaya bahwa pendidikan dini yang didukung AI bukan hanya sesuatu yang tak terhindarkan, tetapi juga diperlukan. Kami tidak melihatnya seperti itu."
Ia menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan interaksi langsung dengan guru dan teman sebaya untuk belajar dan berkembang, serta membangun keterampilan sosial dan menghadapi masalah secara mandiri.
Selain itu, aplikasi chatbot pendamping yang memberikan dukungan emosional dilarang di semua jenjang pendidikan karena potensi risiko yang ada.
Para guru masih diperbolehkan menggunakan AI untuk menyusun rencana pembelajaran dan melakukan tugas administratif, namun penggunaannya tetap diawasi ketat.
Gubernur New York Kathy Hochul menambahkan, "Kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi yang berkembang pesat mendukung anak-anak dan pembelajaran mereka, bukan justru menghambatnya."
Kebijakan ini menggantikan kerangka awal yang diterbitkan pada Maret 2026, yang sebelumnya memperbolehkan siswa menggunakan AI untuk penelitian dan proyek kreatif. Kebijakan tersebut mendapat kritik dari orang tua dan guru yang menilai aturan terlalu longgar.
Kepala Dinas Pendidikan New York Kamar Samuels mengakui kesalahan dalam penyampaian kebijakan sebelumnya dan akan meninjau masukan dari berbagai pihak untuk kebijakan yang lebih tepat.
Selain itu, penelitian dan survei menunjukkan kekhawatiran orang tua terhadap dampak AI pada anak-anak. Survei American Families and Technology Institute pada Oktober 2025 menemukan 61 persen orang tua menilai AI berdampak buruk bagi anak, sementara hanya 20 persen menilai positif.
Aplikasi "teman digital" berbasis AI menjadi sorotan utama karena dapat menghasilkan percakapan yang tidak sesuai seperti romantis atau seksual, sehingga dilarang penggunaannya di semua jenjang pendidikan.
Para ilmuwan memberikan pandangan beragam mengenai penggunaan AI di pendidikan anak. Ying Xu dari Harvard Graduate School of Education menyebut anak bisa belajar dengan baik menggunakan AI jika prinsip pendidikan dijalankan dengan benar.
Namun studi dari Center for Universal Education di Brookings Institution memperingatkan risiko AI menghambat perkembangan anak yang lebih besar dibanding manfaatnya saat ini.
Penelitian dampak jangka panjang AI pada anak dinilai masih sangat terbatas sehingga belum diketahui secara pasti efeknya ke depan.
Beberapa perusahaan teknologi terus mengembangkan perangkat AI untuk pendidikan yang diklaim aman dan bermanfaat bagi anak dan remaja, seperti versi ChatGPT khusus remaja dan program AI dari Google.
Kebijakan New York ini menunjukkan pendekatan hati-hati dalam mengatur penggunaan AI, dengan memberikan waktu evaluasi sebelum teknologi ini diperluas penggunaannya di kalangan anak-anak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow